Aceh Harus Terapkan Islamic International Tourism | Aceh Tourism

Aceh Harus Terapkan Islamic International Tourism

hermawan kartajaya

hermawan kartajaya Wawancara Eksklusif dengan Hermawan Kartajaya, penulis buku Tourism Marketing 3.0 Foto : Rinaldi AD

Agama (religion), seni dan budaya (art and culture), keindahan alam (nature) dan adventure (petualangan), merupakan beberapa aspek yang dapat dijadikan daya tarik pariwisata Aceh. Namun keunggulan daerah tersebut belum dimanfaatkan dengan baik oleh Pemerintah Aceh untuk mengembangkan dan memajukan pariwisata. Untuk menggali strategi pemasaran pariwisata Aceh yang ideal, Majalah Aceh Tourism berkesempatan mewancarai ahli pemasaran pariwisata (tourism marketing) dunia asal Indonesia, Hermawan Kartawijaya, di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh, 29 April 2014. Saat itu, penulis buku Tourism Marketing 3.0 ini menjadi pembicara pada seminar “On Becoming WOW Salespeople: The Concept” yang merupakan bagian dari Roadshow Indonesia Marketeers Festival edisi Banda Aceh. Berikut petikan wawancaranya:

Bagaimana konsep Tourism Marketing 3.0 dalam buku Anda?

 

Ada tiga tingkatan dalam konsep Tourism Marketing 3.0 (baca: three point O). Kalau tourism marketing 1.0 (baca: one point O), yang dipasarkan adalah produknya. Produk itu bisa berupa ciptaan Tuhan seperti gunung dan laut atau bisa juga produk buatan manusia seperti industri kreatif.

 

Sedangkan tourism marketing 2.0 (baca: two point O), pelaku wisata membuat experience bagi costumer (wisatawan). Hal ini biasanya dalam bentuk festival-festival. Sebagai contoh, Sumatera Barat kalau cuma menjual pemandangannya itu disebut tourism marketing 1.0. Tapi mereka mengadakan Tour de Singkarak itu sudah naik jadi 2.0. Di sana misalnya ada festival kuliner selain balapan sepeda internasional.

 

Nah, tourism marketing 3.0 itu ketika tingkatannya naik lagi, tepatnya ketika turis mendapatkan sentuhan atau human spirit. Misal ketika menyaksikan Tour Buenos Aires di Argentina, saya belajar tari tango. Misal di Aceh ada tari saman.

 

Bagaimana strategi tourism marketing yang tepat untuk Aceh hari ini, apakah perpaduan antara syariat dan pariwisata?

 

Kalau kita bicara tourism itu pasti bicara internasional. Tapi islamnya ini yang harus dijual. Islam di Aceh kayak apa? Misalnya dibuat menjadi satu pengalaman yang sangat menarik, sehingga mereka (turis) tahu, islam di Aceh kayak begini lho, indah lho, bisa dipaket sedemikian rupa sehingga bagus.

 

Saya lihat di Thailand, turis ditawarkan tidur di vihara atau kuil (temple), mau dua jam atau tiga jam. Wisatawan ditawari “live like a monk” yaitu hidup seperti biksu. Diajari meditasi. Terserah kita mau apa tidak. Nah, ini sebenarnya spritual tourism yang sangat inklusif. Mereka membolehkan orang luar (non-Budha) masuk ke kuil. Model seperti ini yang seharusnya dibahas secara mendalam oleh para akademisi dan media di Aceh, sehingga bisa kasih masukan kepada Nanggroe Aceh, bupati atau walikota. Supaya islamic yang internasional itu bisa diterjemahkan oleh sesuatu yang benar. Di Indonesia, contohnya Bali. Kita datang ke Bali, kan enggak berani juga merusak budaya mereka.

 

Soal Aceh, ini harus dipikirkan para akademisi dan media. Harus terbuka mengundang pakar-pakar dari luar untuk memberikan pandangan. Kalau enggak begitu, nanti orang luar tetap takut ke Aceh. Saya sebelum ke Aceh yang ketiga kali, dibilang orang, “hati-hati lho ke Aceh, jam 6 sore tidak boleh di luar lho.” Mana ada, kemarin saya sampai jam 11 malam sama Pak Kapolda Aceh, ramai begitu, tidak ada masalah.

 

Potensi pariwisata Aceh luar biasa, cuma kurang diminati investor, menurut Anda kenapa?

 

Harus dicari (strategi) yang benar soal itu. Kenapa Dubai yang syariat bisa maju. Abu Dhabi sampai berani mebolehkan negaranya digunakan untuk syuting film dewasa. Padahal pemimpin mereka sangat islami, sangat Timur Tengah, tetapi mereka memang menerapkan islamic internasional tourism.

 

Maka yang bisa memutuskan redefinisi islamic internasional hanyalah orang Aceh itu sendiri. Kita dari orang luar ingin membantu, tapi tidak bisa karena Aceh sudah memiliki hak otonomi dan ada lembaganya sendiri. Jadi, Aceh harus mengambil keputusan sendiri, bagaimana bentuk wisata untuk konsep islamic international tourism itu.

 

Kalau kita lihat, apakah Aceh sedang memberlakukan islamic international tourism?

 

Malaysia negara syariat. Tapi motto pariwisata mereka “Truly Asia”. Mereka tidak mau katakan pada dunia bahwa mereka negara syariah. Tapi iklannya itu, iklan segala bangsa. Saya bilang, iklan “Truly Asia” itu (kedengarannya) tidak ada orang yang berkerudung di sana. Tapi turis akan mendapatkan wanita-wanita Malaysia yang berkerudung ketika berwisata ke sana.

 

Tourism itu pintu masuk untuk dagang (trade) dan investasi (investment). Tourism Trade and Invesment (TTI) itu dimulai dari trade ke tourism. Orang datang, berdagang, baru berinvestasi. Kalau datangnya saja sudah enggak, bagaimana mau invest?

 

Jadi, orang Aceh-lah yang harus memutuskan sendiri bagaimana definsi syariat islam. Kalau saya usulkan, pariwisata Aceh harus pakai konsep Islamic Internasional, dua “i” itu.