Adee Meureudu Kue Tradisional Penggugah Selera | Aceh Tourism

Adee Meureudu Kue Tradisional Penggugah Selera

 adei

Dengan cekatan tiga pemuda mengupas ubi kayu yang besarnya sebesar lengan orang dewasa, namun sudah dipotong-potong. Mereka menggunakan pisau pengupas khusus bermata dua. Menggunakan earphone, mereka larut dalam kerja sambil mendengar musik dari handphone masing-masing.

Dalam ruangan berukuran sekitar 8×6 meter, seorang perempuan setengah baya sedang menakar tepung sendirian. Wangi daun pandan dan bawang goreng bercampur menimbulkan wangi khas. Disampingnya, seorang gadis remaja sedang fokus merajang bawang tanpa peduli sekeliling. Hawa panas oven pemanggang memaksa keringat bercucuran. Sementara di depan oven, seorang pemuda berperawakan kecil sedang sibuk mengeluarkan acuan berisi adee (ada juga yang menyebutnya dengan bingkang) yang sudah matang.

Terlihat di belakang dapu, beberapa ibu-ibu cekikan sambil mencuci alat yang digunakan untuk pembuatan adee. Dari panci hingga acuan (loyang) bekas pemanggangan yang sudah kosong. Mesin pemeras santan dioperasikan seorang perempuan terus mengeluarkan santan segar dengan suaranya yang datar.

Sementara seorang remaja sibuk mengangkat daging kelapa yang sudah dikupas dan memasukkan ke dalam mesin kukur kelapa. Suara mesin Yanmar dengan suaranya yang meledak-ledak, memekakkan telinga. Namun demikian, suasana seperti ada pesta perkawinan. Riuh dan meriah.

“Setiap hari keadaannya seperti ada hajatan pesta. Mereka bekerja secara gotong royong. Santai namun serius,” ucap Muhammad Nur yang ditemui Aceh Tourism di dapu adee miliknya di Desa Meuraksa Barat, Kecamatan Meureudu, Pidie Jaya.

Pria ini  mengatakan, dalam sehari mereka menghabiskan 50 Kiligram ubi kayu dan sekitar 60 Kg tepung terigu. Dengan enam oven pemanggang, mampu menghasilkan 100 hingga 300 adee. Baik adee ukuran besar atau ukuran kecil. Satu oven pemanggang muat delapan loyang adee besar. Sementara, untuk loyang adee kecil muat 16 sekali panggang.

“Jika sedang banyak pemesan semisal hari raya atau bulan puasa, kadang bisa tembus seribu-an dalam sehari. Namun, itu jarang,” katanya lagi.

M. Nur mempekerjakan 15 pekerja dengan tugas masing-masing. Paling banyak pengaduk adonan. Karena adee diaduk adonannya menggunakan tangan manusia. Tanpa menggunakan mixer.

“Para pekerja di sini didominasi ibu rumah tangga. kami bekerja setengah hari. Kalau ada pesanan mendadak, kami dipanggil walau malam. Hitung-hitung membantu ekonomi keluarga,” tutur Nurlizar yang juga peternak sapi kecil-kecilan.

***

Menikmati Timphan, Keukarah, wajeb dan Dodhoi bagi sebagian orang luar Aceh itu sudah biasa. Kue-kue tersebut seakan sudah menjadi ikon kue tradisional Aceh. Kue tersebut menjadi penganan yang selalu hadir dalam acara minum-minum wisatawan yang berkunjung ke Aceh.

Kue tradisional itu selain menjadi teman minum, di perhalatan pesta perkawinan semacam intat linto/dara baro (antar pengantin), kue tersebut selalu ikut serta sebagai buah tangan bertalam-talam. Tradisi ini telah ada hampir-hampir berabad-abad lamanya. Seakan-akan, tanpa kehadiran kue-kue itu pesta perkawinan menjadi tidak lengkap.

Namun demikian, Aceh yang dikenal kaya dengan hasil alamnya, ternyata masih teramat banyak menyimpan pusaka kuliner yang belum diketahui secara luas. Adee misalkan, kue yang oleh orang luar Aceh disebut bingkang ini bukan kue pusaka yang telah ada berabad lalu. Namun, dewasa ini mulai mendapat tempat di hati penikmat jajanan oleh oleh dari Pidie Jaya.

Di Meureudu, terutama di simpang empat dan simpang tiga, berderet sepanjang jalan Banda Aceh-Medan gerai penjualan adee. Tentu semua orang sudah duluan kenal dengan Adee Kak Nah, Adee Meutia. Selebihnya gerai adee yang muncul belakangan setelah potensi bisnis adee Meureudu memuncak usai tsunami dan paska damai RI dan GAM.

Adee sudah ada sejak tahun 80-an, namun, belum terkenal seperti sekarang,” sebut Rosnah pemilik label Adee Kak Nah. Adee yang muncul belakangan ada Adee Kak Aina, Adee Kak Bat, Adee Kak La, dan lain-lain. Merek adee yang kesemua menggunakan nama perempuan adalah satu keunikan tersendiri. Artinya, perempuan sudah mampu membangun bisnis sendiri dengan tidak mengandalkan pendapatan suami semata.

Jika Anda ke Aceh melalui darat, begitu sampai di kecamatan Meurah Dua dan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya,  gerai penjualan adee yang berjejer sepanjang jalan Banda Aceh-Medan, akan menyambut Anda dengan sign board mencolok.

Gerai-gerai tersebut menyediakan adee dalam dua pilihan. Adee ukuran besar yang kisaran harga antara Rp25 ribu hingga Rp30 ribu/kotak. Untuk adee kecil dihargai Rp15ribu sampai Rp17 ribu per kotak. Untuk rasanya, ada dua pilihan, adee ubi (boh bi) dan adee tepung (teupong). Selain kedua rasa itu, belum ada rasa lain sampai saat ini.

Tidak perlu was-was dengan komposisi bahan dalam adee, bahan-bahan yang digunakan sampai sekarang masih alami dan tidak menggunakan bahan pengawet yang membahayakan bagi kesehatan. Sehingga daya tahan adee tidak se-lama kue-kue lain yang menggunakan bahan pengawet makanan.

“Hanya menggunakan santan segar, gula murni, pewarna dari daun pandan, dan tentu saja ubi kayu, dan tepung terigu, serta telur ayam, sehingga tidak membahayakan kesehatan,” ungkap Fauzan yang bertanggung jawab di oven pemanggang adee milik M. Nur.

Lebih lanjut Fauzan mengatakan, adee hanya dapat disimpan sampai tiga hari. Lebih dari itu ia akan basi. Namun, adee tetap nikmat dan mengundang selera jika dinikmati ketika sedang panas. Untuk mendapatkannya, yuk berkunjung ke Meureudu, Pidie Jaya. (Idrus)