Aura Madinah di Masjid Beuracan | Aceh Tourism

Aura Madinah di Masjid Beuracan

IMG_30301

Sebelah utara Kabupaten Pidie Jaya berbatasan dengan Selat Melaka. Melalui selat itulah Syekh Abdus Salim masuk ke wilayah yang dulunya milik Kerajaan Pedir. Bukti persinggahannya masih bisa dilihat hingga kini, salah satunya Masjid Beuracan.


Dari pinggir jalan nasional Banda Aceh – Medan, terlihat masjid dengan atap bertumpang tiga dengan satu kubah di puncaknya di Simpang Beuracan, Gampong Kuta Trieng, Kemukiman Beuracan, Kecamatan Mereudu, Pidie Jaya. Sebuah teras dengan atap dipenuhi motif aceh dan salur-saluran menjorok ke halamannya.

Masjid itu bernama Masjid Teungku Chik di Pucok Krueng atau dikenal Masjid Beuracan. Masjid berkonstruksi kayu itu dibangun oleh ulama asal Madinah, Arab Saudi, pada abad 16 atausekitar tahun 1622 Masehi.

Literasi sejarah Aceh menyebutkan, pada 1620 Masehi, ulama asal Madinah, Syekh Abdus Salim, Syekh Jamaluddin, Malem Dagang, dan beberapa pengikut mereka, berlayar ke Gujarat, India, dalam misi syiar Islam.

Di negeri India, mereka tidak mandapat sambutan yang baik dari masyarakat. Mereka pun memutuskan berlayar ke Selat Malaka hingga terdampar di utara Pulau Sumatera.

Rombongan ulama sekaligus saudagar Arab itu berlabuh di pesisir wilayah Pedir (Pidie—yang kemudian masuk daerah administratif Pidie Jaya setelah pemekaran), tepatnya  di Kuala Krueng Beuracan. Masyarakat Beuracan yang mayorits sudah muslim kala itu menyambut baik kedatangan mereka.

Tiga ulama itu kemudian berpencar mencari tempat yang cocok dan aman dalam menyebarkan syiar Islam. Syekh Abdus Salim memilih tinggal di Kemukiman Beuracan, Syekh Jamaluddin di Meunasah Raya dan Malem Dagang menetap di Meunasah Manyang Cut.

Berangkat dari suasana umat Islam yang sudah padat maka Syekh Abdus Salim berusaha mendirikan masjid pada 1622 Masehi atas kesepakatan semua masyarakat Beuracan.

Ia kemudianmemimpin pembangunan masjid persis pada tanjung Krueng Beuracan itu, dengan pertimbangan memudahkan dalam pengambilan wuduk, karena bersisian dengan sungai Beuracan.

Syekh Abdus Salim menginginkan bahan baku untuk konstruksi masjid terdiri dari kayee jatoe (kayu jati) dengan pertimbangan dapat bertahan lama. Untuk memenuhinya, masyarakat segera bergotong-royong mencari kayu di Glee Beuracan, Pangwa, Beuriweuh dengan melibatkan warga yang berdomisili di tiga mukim tersebut.

Syekh memantau langsung proses pengumpulan bahan meterial masjid  dengan memakan waktu hampir dua tahun lebih, dikarenakan jarak desa ke perbukitan yang berjauhan. Konstruksi masjid kemudian dirancang dengan 16 buah tiang terdiri dari 12 tiang penyangga atap pertama pada sisi masjid, 4 tiang penyangga atap dua dan sebuah tiang utama yang berfungsi sebagai soko guru (tiang tengah), sebagai penyangga atap dan kubah masjid.

Memasuki Masjid Beuracan, kekokohan konstruksinya dapat dirasakan. Tampak besar-kecilnya tiang tergantung pada fungsi dan posisi. Sebanyak 12 tiang penyangga atap pertama pada posisi masjid dengan ukuran 23 cm, sementara 4 tiang penyangga atap dua dengan ukuran 27 cm dan tiang utama dengan ukuran 35 cm. Semua tiang tersebut bersegi delapan.

Pengurus masjid tersebut menceritakan, struktur dan arsitektur masjid dirancang sepenuhnya oleh Syekh Abdus Salim dengan atap bersusun tiga dan diantara atap dua dengan atap tiga terdapat sebuah ruangan yang konon difungsikan sebagai tempat bilal mengumandangkan azan. Kubah masjid menyatu dengan atap tiga yang bentuknya lebih kecil dari lebar atap dengan ornamen sirip kayu.

Syekh Abdus Salim juga membuat persawahan dan perkebunan dengan luas masing-masing 50 ha dan 5 ha sebagai tanah wakaf, semua hasilnya digunakan untuk membina dan memakmurkan masjid yang di dalamnya juga terdapat satu guci keramat.

Keinginan Syekh Abdus Salim saat itu dengan mudah terwujud karena masyarakat Beuracan masa itu sangat ingin memiliki masjid. Lantas masjid diberi nama Masjid Teungku Chik di Pucok Krueng, karena saat itu Syekh tinggal di pucuk sungai Beuracan.

Pada mulanya Masjid Beuracan digunakan sebagai pusat peribadatan dan pengajaran agama Islam bagi masyarakat setempat. Kemudianjuga difungsikan sebagai tempat melaksanakan kegiatan sosial kemasyarakatan dan mengatur strategi penyebaran syiar Islam ke seluruh pelosok wilayah Meureudu.

Menurut bilal masjid, Teugku Ismail Be bin Ba’ (72) yang mengutip keterangan dari almarhum Teungku M Usman ketua panitia pembangunan Masjid Beuracan—mengutip surat kabar lokal—Masjid Teungku Chik di Pucok Krueng didirikan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda.

Ia mengatakan, saat itu dibangun tiga masjid yaitu Masjid Beuracan, Masjid Kuta Batee dan Masjid Madinah di Kecamatan Meurah Dua yang merupakan pecahan dari Kecamatan Meureudu. Masjid Teungku Chik di Pucok Kreung awalnya merupakan masjid satu-satunya, selain warga Beuracan juga digunakan oleh warga di tiga kemukiman, Ulim, Pangwa, dan Beuriweuh, tutur Tgk Ismail.

Dipugar Dua Kali

Pada 1947, masyarakat Beuracan secara swadayamemugar masjid tersebut yang saat itu kondisinya rusak parah, setelah lama terbengkalai akibat penjajahan Belanda dan Jepang.

Dalam pemugaran itu, atap rumbia diganti dengan seng dan memberi dinding semen sebagai pembatas pada sekeliling dengan tinggi 95 cm. Juga membuat mihrab tempat imam berdiri berkhutbah dan memimpin shalat juga perbaikan lantai dengan membeton secara permanen, sementara ornamen dan ukirannya dibiarkan asli.

Pada 1990,berawal dari rasa simpati Prof Ibarhim Hasan—Gubernur Aceh saat itu—ketika shalat di masjid tersebut dalam sebuah kunjungan kerjanya, ia meminta pengurus masjid untuk melestarikan bentuk dan keaslian Masjid Teungku Chik di Pucok Krueng Beuracan, karena mengandung unsur keunikan dan menjadi bukti sejarah umat Islam di kemukiman Beuracan dan Meureudu umumnya. Atas bantuan Pemerintah Daerah, masjid itu pun direhab dengan memberikan dinding kayu bermotif pada sekeliling masjid.

Keagungan Pendiri

Kebijaksanaan dan keteladanan Syekh Abdus Salim mengayomi masyarakat menjadi ukuran keberhasilannya dalam membina ukhuwah Islamiyah di Beuracan. Syekh juga  membangun masjid lainnya di Meureudu, yaitu Masjid Kuta Batee di Mukim Kuta Reutang, pada 1623 Masehi. Hingga hari ini kedua bagunan monumental itu masih eksis.

Sebab itulah, Syekh Abdus Salim digelar sebagai Teungku di Pucok Krueng, karena konon ia wafat dan kuburannya ada di hulu sungai Beuracan, meskipun ada yang menyatakan sampai saat ini belum diketahui pasti bagaimana riwayat meninggalnya dan di mana persis letak makamnya.

Kini, Masjid Beuracan sudah didampingi oleh satu masjid baru di sebelahnya. Namun begitu, masjid peninggalan sejarah Islam Asia Tenggara itu masih dilestarikan dan sering dikunjungi warga lokal maupun dari luar Meureudu.[]