Banda Aceh Menuju Kota Pusaka Dunia yang Diakui Unesco | Aceh Tourism

Banda Aceh Menuju Kota Pusaka Dunia yang Diakui Unesco

Foto Illiza1

Walikota Banda Aceh, Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal SE. Foto Saniah LS

Sebagai tuan rumah penyelenggaraan Rapat Kerja Nasional Jaringan Kota Pusaka Indonesia (Rakernas JKPI) ke-5 dari 07 hingga 11 Mei 2016, Banda Aceh berencana menjadikan acara ini sebagai salah satu cara untuk mempromosikan Banda Aceh menjadi Kota Pusaka Dunia yang diakui Unesco.

Hal ini seperti disampaikan Walikota Banda Aceh, Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal SE kepada Aceh Tourism dalam wawancara singkat. Simak wawancaranya:

  • Sebagai tuan rumah pelaksanaan Rakernas JKPI ke-5 tahun 2016 ini, apa rencana Pemerintah Kota (Pemko) untuk dikenal dunia?

Rakernas JKPI pintu gerbang Kota Banda Aceh untuk mempromosikan kota ini menjadi Kota Pusaka Dunia yang diakui Unesco. Dan Kami, Pemko Banda Aceh memberi aprsisasi terhadap upaya JKPI yang mendorong Kota Banda Aceh agar ditetapkan oleh Unesco sebagai Kota Pusaka warisan dunia.

  • Bagaimana untuk mewujudkan impian itu agar menjadi nyata?

Banda Aceh harus jadi kota cerdas, Smart City. Kota yang bisa menghargai peninggalan masa lalu menjadi modal untuk kemajuan masa depan. Pemko dalam hal ini dengan berani mengklaim bahwa Banda Aceh sebagai Smart City, bukan hanya kota yang moderen berbasis ICT, tetapi kota yang menghargai peniggalan masa lalu sehingga menjadi modal penting untuk kemajuan daerah kita kedepan.

  • Menurut Ibu apakah momen JKPI ke-5 ini memberi keuntungan bagi Kota Banda Aceh?

 Jelas sekali memberi keuntungan. Direktur Eksekutif Jaringan Kota Pusaka Indonesia, Nanang Asfarinal sendiri mengatakan, diselenggarakan acara JKPI di Banda Aceh sangat bagus sebagai momentum kebangkitan prawisata di Banda Aceh yang berbasis Syariah, Dan Nanang sendiri berharap semoga efek dari acara ini bisa dirasakan oleh masyarakat Aceh, khususnya warga kita.

  • Dalam proses memperoleh pengakuan Unesco sebagai salah satu Kota Tua Warisan Dunia, Banda Aceh yang berusia 811 tahun, kira-kira dukungan apa saja yang diperlukan?

 Banda Aceh untuk mewujudkan itu, menjalin kerjasama dengan berbagai pihak. Diantaranya dukungan dari Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI), dan beberapa kementrian seperti Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Kementrian Pekerjaan Umum, dan Kementrian Prawisata. Dan dalam memperoleh pengakuan Unesco kita menjalankan semua proses, JKPI dan beberapa kementrian seperti Kemenko PMK, Kementria PU dan Kementrian Pariwisata akan membatu menjadikan Banda Aceh menjadi Warisan Kota Tua yang diakui Unesco.

  • Peninggalan sejarah apa saja yang menurut Ibu yang mendukung mewujudkan itu semua?

Sebagai Kota Tertua di Aceh, Banda Aceh mempunyai banyak peninggalan sejarah yang layak mendapat pengakuan dunia. Seperti Kompleks pemakaman Kerkhoff, Gunongan, Masjid Raya Baiturrahman serta objek wisata peninggalan Tsunami. Warisan-warisan sejarah masa lalu inilah nanti yang membuat kota ini layak mendapat pengakuan dunia, Unesco.

Untuk mencapai tujuan itu, Banda Aceh akan kembali menata dan akan melakukan digitalisasi peninggalan sejarah untuk pembangaunan museum digital kedepan. Dan sekarang  Pemko Banda Aceh sedang mengumpulkan dan meminta izin dari Belanda, Turki, dan Inggris sebagai negara yang ada kaitan dengan sejarah Aceh, untuk mengumpulkan bukti sejarah yang ada di negara tersebut.

  • Apa harapan Ibu kepada masyarakat?

Saya berharap dengan adanya penataan itu dapat menghidupkan kembali gairah masyarakat untuk mencintai Banda Aceh sebagai kota yang mempunyai banyak peninggalan sejarah serta menjadi potensi besar untuk dikenal dan didatangi turis. Jadi apapun kita bangun kedepan, akan menimbang dengan pesan-pesan kejayaan Aceh masa lalu. Dan warga ikut berpartisipasi mendukung dan melibatkan diri mewujudkan impian kita bersama ini. (Oga Umar Dhani)