Banda Aceh Menuju KotaWisata Religi | Aceh Tourism

Banda Aceh Menuju KotaWisata Religi

Penduduk muslim di dunia sudah mencapai 1,6 miliar dari 7 miliar jiwa. Ada perubahan trend yang besar dalam wisata, yaitu wisata religi atau lebih dikenal dengan wisata syariah. Indonesia ambil bagian untuk mempromosikan wisata ini kepada wisatawan yang datang dari luar.

Aceh yang pernah menjadi pusat Islam terbesar di Asia Tenggara saat ini menjadi salah satu provinsi di Indonesia yang memberlakukan hukum Islam. Pemberlakukan hukum khusus ini menjadi modal daya tarik sendiri bagi Aceh secara umum, dan Kota Banda Aceh dalam lingkup lebih khusus untuk menarik minat para wisatawan.

Selain pemberlakuan hukum syariah, Aceh juga dikenal dengan sejarah titik awal penyebaran Islam di Asia Tenggara, alamnya yang indah, kekayaan budaya yang islami, dan juga situs peninggalan tsunami. Hal ini menjadi modal bagi pelaku wisata di Kota Banda Aceh, seperti Musafir Tour & Travel yang dikelola oleh Mujiburrahman dalam mengenalkan wisata religi di Aceh, khususnya di Kota Banda Aceh.

Wisatawan asal Asia Tenggara menjadi target utama program wisata religi yang dikembangkannya. Namun ia mengakui daya tarikdari segi religiusitasyang ada di Aceh masih minim promosi. “Masih banyak wisatawan di luar yang belum menerima informasi tentang Aceh. Artinya dengan potensi yang kita miliki seharusnya lebih banyak wisatawan yang datang,” kata Mujiburrahman.

Dia mengatakan Malaysia mengeluarkan 14 juta wisatawan per tahun. Sekitar 1,6 juta mengunjungi Indonesia pada tahun 2013. “Namun hanya 10 ribu wisatawan yang berkunjung ke Aceh pada tahun tersebut,” kata dia.

Mujiburrahman berpendapat, sebenarnya tidak hanya negara muslim yang membuka wisata religi atau wisata syariah. Negara-negara Eropa juga mempromosikan wisata berbasis keagamaan ini. Wisatawan muslim, kata dia, ingin berwisata dengan nyaman, dan mendapatkan makanan yang halal dengan mengutamakanno sexdanno alcohol.Di Eropa, wisatawan bisa mendapatkan makananMuslim Package. “Konsep wisata syariah adalah bermusafir melihat kebesaran Allah,” kata Mujiburrahman.

Dalam wisata religi, kata Mujiburrahman, yang paling utama adalah kenyamanan dalam berwisata dan ketenangan jiwa. Peminatnya tidak hanya orang muslim, tapi orang-orang non muslim juga mencari paket perjalanan ini.

Di Aceh, tempat-tempat wisata religi yang layak dikunjungi memiliki daya tarik yang khas dan berbeda dengan daerah-daerah lain. Di Kota Banda Aceh, tempat-tempat seperti Masjid Raya Baiturrahman, Museum Aceh, makam para raja, makam ulama besarSyech Abdurrauf As-Singkili atau dikenal dengan Syiah Kuala, kuburan massal tsunami, dan berbagai tempat lainnya menjadi pilihan bagi wisatawan muslim. Ini ditambah lagi dengan lembaga pendidikan Islam tradisional seperti Daya Tanoh Abe, dan dayah-dayah salafiyah di hampir semua daerah di Aceh merupakan peninggalan kebesaran Islam yang punya nilai lebih untuk diketahui wisatawan.

Mujiburrahman mengatakan para wisatawan bisa melihat langsung model belajar dayah salafiyah di Aceh, yang merupakan satu-satunya metodeboarding schooldi dunia. “Di Aceh masih banyak dayah tradisional, sementara di negara lain seperti Thailand dan Malaysia sudah sangat sedikit jumlahnya,” kata Mujiburrahman.

Dalam menerapkan konsep wisata religi, menurut Mujiburrahman pihaknya membawa wisatawan mengunjungi dayah-dayah yang menampung anak-anak yatim korban konflik dan tsunami di Aceh, selain ke tempat-tempat seperti Masjid Raya Baiturrahman dan beberapa tempat lainnya. “Biasanya wisatawan sendiri yang ingin mengunjungi dayah atau rumah anak yatim yang jarang dikunjungi,” kata dia.

Sebagai usaha mempromosikan daya tarik ini, Mujiburrahman beserta beberapa pemilik travel lain telah mendirikanBoard of Aceh Islamic Tourism(BAIT) atau Badan Pariwisata Islami Aceh. Travel-travel mengambil kesempatan dari trend wisata syariah dunia. Mujiburrahman juga mengatakan, Kementerian Pariwisata akan mempromosikan Aceh sebagai destinasi wisata syariah yang kesepuluh di Indonesia. Sebelumnya, kata dia, Aceh tidak menjadi salah satu destinasi wisata syariah di Indonesia karena kurangnya promosi di tingkat nasional.

“Kepada wisatawan kami sering mengatakan, yang membedakan Aceh dengan tempat lain di Indonesia seperti Bandung adalah di samping berwisata, di Aceh wisatawan juga bisa beribadah,” kata dia. Dia ingin menjadikan Acehsecara keseluruhansebagai salah satu rumah ibadah bagi warga muslim dunia.[Yanti Oktiva]