Belajar dari Riwayat Smong 07 | Aceh Tourism

Belajar dari Riwayat Smong 07

Belajar dari Riwayat Smong

Belajar dari Riwayat Smong | Rinaldi AD

Dari bencana, mereka belajar hidup harmoni bersama alam. Sebuah cerita tentang masyarakat yang mampu memetik pelajaran dari kisah pilu para indatu. Kearifan lokal yang diakui dunia. Duha belum beranjak saat Kaharuddin memasuki rumah makan sederhana itu. Di dalam, agak ke belakang, Aceh Tourism dan seorang warga Salur—sudah menunggu pada meja yang agak menjorok ke tepi laut. Warung ini memang berada tepat di bibir pantai di Desa Salur, Kecamatan Teupah Barat, Kabupaten Simeulue. Letaknya sekitar satu jam perjalanan dari Sinabang, ibu kota kabupaten berjuluk Atee Fulauan itu.


 

“Mohon maaf sudah menunggu,” kata Kahar sejenak setelah kami memperkenalkan diri. Kahar adalah tokoh adat yang dituakan di Gampong Salur. Tua dalam arti kiasan dan sebenarnya. Selain memang tokoh masyarakat, umurnya juga sudah menginjak kepala tujuh. Ia lahir tiga tahun sebelum Indonesia merdeka.

Pun demikian, suaranya masih jelas saat diajak berbicara. Saat disinggung “riwayat smong 07”, nada bicaranya ikut meninggi, tapi tetap mengalur teratur.

“Itu cerita kuno,” katanya. “Kalau saya cerita sama masyarakat, mereka sering bilang tak usah mengungkitngungkit lagi cerita kuno.” Kata Kahar, sudah jarang ada orang yang mau mendengar

cerita itu. Di warung-warung kopi, kala Kahar bercerita soal Smong 07 itu, generasi yang lebih muda tak lagi tertarik. Makanya ketika kami datang, ia begitu bersemangat bercerita.

Riwayat smong 07 adalah riwayat tentang bencana tsunami yang pernah menimpa Simeulue pada masa lalu. Smong adalah sebutan bahasa lokal yang merujuk kepada ombak laut besar yang menerjang daratan. Sedangkan 07 merujuk kepada tahun 1907, saat bencana itu menimpa masyarakat Simeulue.

“Saya mengetahuinya dari angku Alimuddin, kakek saya,” kenang Kahar. Kahar berkisah, ia pada waktu kecil adalah anak yang punya rasa penasaran yang tinggi. Ia masih fasih mengingat

betapa ia menyukai memijat kaki sang kakek. Imbalannya, angku Alimuddin secara sukacita berbagi kisah hidupnya, termasuk saat mengalami smong 07. Menurut cerita angku-nya, kisah Kahar, smong 07 terjadi pada hari Jumat. Seperti pada tsunami 2004, smong itu juga disertai linon (gempa) besar. Linon bahkan terjadi secara berturut-turut tujuh hari lamanya sebelum Jumat itu. Namun, linon paling besar terjadi sesaat sebelum smong itu datang.

Terjangan smong itu menelan banyak korban jiwa. Penyebabnya, mereka berduyun-duyun ke laut untuk memungut ikan yang menggelepar demi melihat air laut yang surut sesaat setelah linon besar. Akibatnya, saat smong menerjang, mereka tak punya waktu yang cukup untuk evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Kiranya, kisah ini identik dengan cerita tsunami Aceh 2004 lalu, yang juga menelan banyak korban jiwa.

Jangan bayangkan smong 07 di Simeulue sama dengan tsunami 2004. Tak ada bantuan besar-besaran yang datang. Tak ada masa tanggap darurat. Juga tak ada lembaga rehabilitasi dan rekonstruksi. Di pulau itu, mereka terisolasi. Sendiri.

Kisah pahit itu begitu membekas dalam memori masyarakat. Kahar ingat betul betapa kakeknya berpesan agar segera menjauh dari laut ketika terjadi linon. “Lihat laut, kalau airnya surut berarti akan ada smong,” pesan

Kahar mengenang petuah kakeknya dulu. Dari Salur, kami beranjak ke Simeulue Tengah. Menujusebuah komplek kuburan keluarga milik Rawianah. Ilalang meninggi. Beberapa pokok keras ada di sini. Dibuai angin sepoi-sepoi, suasananya cukup adem dan nyaman. Nyaris tidak bisa menandai kuburan kalau tidak ada batu nisan di kepala dan kaki liang lahat. Gundukan yang biasanya ada di setiap kuburan kini sudah rata dengan tanah sekitarnya. Rumput menghijau rata di liang-liang

kubur itu. Rawianah, seperti halnya Kahar, adalah orang yang juga menerima kisah smong 07 dari sumber pertama. Ayahnya, almarhum Cut Banda, mengalami langsung bencana tsunami yang melanda Simeulue pada 1907 silam. Di kompleks kuburan itulah, almarhum Cut Banda dimakamkan.

Cerita lain mengalir dari Haji Safran, warga asli Kota Padang, Simeulue Timur. Saat bersekolah dulu, ia masih kakak kelas Rawianah ini. Perjumpaan kami dengannya juga berawal dari rekomendasi Rawianah ini. Kami menjumpainya selepas magrib, setelah menikmati sunset di Teluk Teungku Di Ujong. Selepas zikir yang panjang, kami menyapanya di sebuah masjid di Kota Padang. Sejenak berbicara di masjid, kami diajak bertandang ke rumahnya.

Safran punya ikatan temali yang kuat dengan kisah bencana smong 1907, bahkan mungkin melebihi Kaharuddin dan Rawianah. Keluarga Datok Halim Muhammad, pria yang kelak menjadi ayahnya, ikut menjadi korban langsung smong 1907. Ibu dari Datok Halim Muhammad ini, Ti Arinah (yang juga berarti neneknya Safran) meninggal dalam bencana ini.

Kisah Ti Arinah dan Datok Halim Muhammad itu adalah kisah yang amat pilu. Datok ditemukan warga dalam keadaan tak sadar di atas gelondongan kayu yang terbawa terjangan smong. Tepat di bawahnya, tergeletak mayat Ti Arinah.

Safran kini sudah berusia 67 tahun. Dalam usianya yang sudah senja, ia sudah kenyang dengan pengalaman mengalami gempa. Pengalaman kakenya dulu membuatnya awas. Setidaknya, empat kali ia pernah mengungsi ke gunung sebagai langkah antisipasi tsunami usai gempa besar.

Ia ingat tahun 1950 harus mengungsi ke Gunung Latak Ayah usai gempa besar. Juga tahun 1961, saat 1 hari terjadi 12 kali gempa. Takut terjadi smong, tiga hari lamanya Safran dan warga lainnya harus kembali tinggal di gunung. Hal yang sama terjadi pada 2002 dan 2006, mereka kembali ke gunung lantaran gempa.

Kami juga menjumpai Ahmadi, seorang wartawankawakan di Simeulue. Ini adalah saat kami bahkan belum mengenal Kaharuddin, Rawianah, serta Haji Safran. Tepatnya Kamis 23 Mei 2013 malam, hari pertama kami tiba di Simeulue.

Ahmadi pernah menulis feature tentang riwayat smong 07. Dalam artikelnya, ia menceritakan betapa lagu pengantar tidur yang berkisah tentag riwayat smong bukanlah kisah dongeng belaka. Lebih dari itu, riwayat smong 07 adalah upaya ingatan kolektif atas bencana yang pernah mendera. Sebentuk ingatan sejarah bagi masyarakat yang bergantung dari laut itu.

Menurut Ahmadi, selain cerita tentang duka, cerita smong juga membuat Simeulue dikenal dunia. Karena cerita itu dan keberhasilan mereduksi dampak bencana tsunami 2004, Simeulue mendapat penghargaan Sasakawa Award pada tahun 2005. Penghargaan ini diberikan oleh ISDR; International Strategy for Disaster Reduction, badan PBB yang konsen terhadap upaya mengurangi dampak kerusakan akibat bencana.

Ahmadi pun mengharapkan pemerintah kabupaten memberikan perhatian lebih serius terhadap permasalahan tsunami itu. Karena menurutnya, Simeulue bisa menjadi pusat kajian dunia soal bencana gelombang laut raksasa itu.

***

Kisah Kaharuddin, Rawianah, dan Haji Safran bisa jadi hanya kisah sederhana tentang pengalaman hidup ayah, nenek, atau kakek mereka. Tapi sebenarnya, kisah itu jauh lebih dari sebatas riwayat hidup yang terus diceritakan ke anak cucu. Jika sedikit lebih jeli, kisah itu adalah kisah tentang kearifan lokal masyarakat Simeulue dalam ‘berdamai’ dengan bencana.

Riwayat smong 07 sudah terbukti menjadi early warning (peringatan dini), yang sangat efektif bagi masyarakat Atee Fulauan. Ketika gelombang pekat hitam mematikan itu kembali hadir pada 2004, ‘hanya’ enam warga Simeulue yang menjadi korban. Padahal kita tahu, lebih dari 167 ribu orang meregang nyawa pada tsunami 2004 lalu di Aceh secara keseluruhan, yang juga ditetapkan sebagai bencana internasional.

Di luar cerita rakyat tadi, kisah smong 07 juga sering diriwayatkan dalam syair nandong, sebuah kesenian bertutur ala masyarakat Simeulue. Syair-syair itu sering dilafalkan dalam acara-acara kerakyatan: syukuran, khitanan, pesta pernikahan, maupun pesta rakyat lainnya.

Sungguh, bangsa kita kaya akan nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur. Kita saja yang (mungkin) kurang menghargainya.(Rahmat Taufik)