Belum ke Aceh Kalau Tak Bawa Pulang Giok | Aceh Tourism

Belum ke Aceh Kalau Tak Bawa Pulang Giok

giok-Aceh

Giok Aceh | Rinaldi AD

KERAMAIAN menjalar di Jalan Malikussaleh, Neusu, Kota Banda Aceh, pada pagi 21 Agustus 2014. Aceh Tourism memilih tunaikan ngopi pagi di Cangkir Kupi, tak jauh dari toko batu mulia yang akan kami sambangi. Dari pinggir jalan raya, Toko Panca Warna, tampak dikerubungi pelanggan pria. Lantas kami seberangi jalan, memasuki toko satu muka itu.

 

Di satu sisi dinding toko, terpajang poster berisi nama-nama batu mulia di dunia beserta filosofinya. Misal, batu zamrud mengandung kebijaksanaan; giok sebagai penarik, pemikat, dan kena hati; mega mendung untuk memancing gairah seksual. Namun satu kalimat peringatan tertera di bawah daftar nama batu mulia tersebut. “Semua batu yang ada di dunia ini Ciptaan Allah, hanya kepada-Nya lah kita memohon dan meminta.”

 

Saya melihat lagi, ada nama toko milik Nasrul Sufi ini di dereten nama batu mulia tersebut. Panca warna, jenis batu mulia yang hanya ada di Aceh ini, berkhasiat ‘disenangi lawan jenis’. Tapi amatan Aceh Tourism selama dua jam di sana, semua pelanggan Panca Warna adalah kaum adam.

 

Nasrul Sufi menyatakan, bisnis batu giok bukan soal harga, soal seni dan selera. Harga satu jenis batu cincin giok bisa berbeda di satu tempat dengan tempat lainnya.  Seni, kata dia, ada duit belum tentu ada barangnya.

 

Nilai seni giok Aceh terletak pada kualitas batu. Dalam deretan batu mulia, mutu batu giok Aceh memiliki kekerasan 7 skala Moh’s, berada di bawah zamrud, safir, dan ruby yang mempunyai kekerasan 8-9 skala Moh’s. Berlian di urutan teratas batu mulia dengan kekerasan 10 skala Moh’s.

 

Batu giok dulu hanya dikenal di China. Orang-orang pun membelinya di sana. Sementara sebelum giok setenar sekarang, batu akik yang memiliki kekerasan 2-3 skala Moh’s merajai pasaran batu mulia di Aceh.

 

Pecinta batu alam (Gems Lover), sejak dua tahun terakhir, mulai berburu batu giok Aceh. Selain asal Aceh, Gems Lover datang dari Korea, China, Singapura, hingga Thailand. Nefrite jade paling diminati. “Karena nefrite jade hanya ada di Aceh,” kata Teungku Abang, mengutip pernyataan Insinyur Sujatmiko, Ketua Pusat Promosi Batu Mulia Indonesia.

macam-giok

Berbagai Macam Jenis Giok Aceh | Rinaldi AD

Saat ini ada limas jenis batu giok Aceh yang diminati. Selain nefrite jade, ada black jade, idocrase, belimbing, dan solar. Giok lumut paling laris manis, karena stoknya lebih banyak dan harganya lebih murah.

 

Selain terjual di toko, batu-batu mulia itu juga diperjual-belikan secara tradisional. Batu cincin berpindah dari satu jari ke jari lainnya. Dipasarkan melalui mulut ke mulut. “Saat ini sudah berkembang di Aceh, bahwa kalau datang ke Aceh, tidak hebat kalau tidak mencari dan membawa pulang giok Aceh,” beber Teungku Abang.

 

Gabungan Pecinta Batu Alam Aceh (GaPBA) yang didirikan pada 2011 beberapa kali menggelar pameran dan kontes batu alam untuk memperkenalkan batu giok Aceh. Bisnis batu giok juga mulai dijalin melalui komunitas-komunitas pecinta batu alam.

 

Nama batu giok Aceh pun melejit setelah meraih juara umum kontes batu alam se-Asia Pasifik di Yogyakarta, April 2014. Giok Aceh yang dilombakan GaPBA saat itu jenis pucuk pisang. Bahkan dibanderol panitia seharga Rp 1 M.

 

“Ada yang beli saat itu, cuma tidak kita lepaskan. Kalau nanti ada kontes tingkat internasional, kita sudah tidak punya bahan lagi kalau dijual. Kemudian yang menang orang lain, meskipun barang kita,” cerita Teungku Abang yang juga Ketua GaPBA.

 

GaPBA sebelumnya juga mengikuti kontes tingkat nasional di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Batu giok Aceh jenis idocrase berhasil mengalahkan batu bacan dan sungai dareh dari Padang yang sangat dimintai pecinta alam. Kala itu, batu bacan memiliki harga sekira Rp30  juta. Sementara idocrase, mulai dari Rp1  Juta hingga Rp100 juta.

 

Harga giok Aceh tergolong mahal karena diolah secara manual. Sebelum diolah, bongkahan batu yang diambil dari asalnya, lebih dulu diuji ke beberapa laboratorium di Jakarta. Setelah itu, dikembalikan ke Banda Aceh. Batu cincin hasil olah manual lebih berkualitas dibanding olahan pabrik industri.Meski mahal, giok Aceh hari ini sudah populer dipakai semua usia, dari remaja hingga orangtua.

 

Hingga kini, komoditi giok Aceh bersumber dari Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Tengah, dan Pidie. Beragam jenis giok itu diambil dari sungai maupun gunung. Tidak mengeruk tanah secara keseluruhan. “Hanya diambil bongkahan yang terdeteksi mengandung giok, sehingga tidak merusak lingkungan,” jelasnya.

 

Selain untuk batu cincin, giok Aceh juga diolah menjadi gelang dan liontin. Dari sisi peredaran, giok Aceh tak hanya dikoleksi Gems Lover, tetapi juga banyak orang berbisnis. Seperti digeluti Adi. Pria asal Nagan Raya ini membuka empat toko giok Aceh di Pulau Jawa, Jakarta, dan Bandung. Semua tokonya diberi nama “Toko Giok Aceh”.

 

“Sebagai konsumen, sejak ke Bandung, saya selalu pakai giok Aceh, bahkan semua anggota keluarga saya pakai giok Aceh, istri, dan anak saya,” ujarnya.

 

Dia pun menyatakan, saat ini nefrite jade paling laris karena bahannya berkualitas. Black jade di urutan kedua karena keunikannya, disusul karena keindahannya.

 

Di September 2104, pihak GaPBA akan resmi membuka toko batu giok Aceh di Ulee Lheu, Banda Aceh. Ada sebanyak 36 pintu. Letaknya sekitar 100 meter dari bundaran di depan Masjid Baiturrahim.

 

“Semua kita gerakkan ke sana. Jadi batu cincin kita konsentrasikan satu tempat di Ulee Lheu, Insya Allah akhir tahun sudah dibuka,” tutupnya mengakhiri wawacara dengan Aceh Tourism. (Makmur Dimila)



Makmur Dimila

Hobi jalan-jalan, suka nulis, dan ngopi arabika. Simak ceritanya di safariku.com