Berharap Pesawat Kapasitas Besar ke Simeulue | Aceh Tourism

Berharap Pesawat Kapasitas Besar ke Simeulue

Jadwal penerbangan dari dan ke Bandara Lasikin, Simeulue, masih sama seperti di jadwal yang dirilis pihak bandara per Oktober 2013. Penumpang masih berebutan seat Susi Air, satu-satunya maskapai yang terbang di langit Simeulue.

Kepala Bandara Lasikin, Rusman menerangkan, penerbangan reguler dilakukan dua kali setiap hari dengan rute Medan–Simeulue dan Simeulue–Medan pada pagi dan sore hari. Sementara penerbangan perintis hanya dibuka pada Senin, Rabu, dan Jumat, dengan rute Simeulue–Meulaboh–Banda Aceh.

Saat ini ada penumpang yang telah beli tiket namun tidak dapat seat. Hal ini disebabkan banyaknya penumpang dari Kuala Namu ke Lasikin dan sebaliknya. Kapasitas Susi Air hanya 12 kursi, sementara pihak Susi Air hanya memplot 11 kursi. Kuota ini, kata Rusman, terkadang tidak mampu menerbangkan semua calon penumpang yang telah beli tiket.

Pihak Bandara berinisiatif melobi maskapai pesawat berkapasitas lebih besar agar mau membuka rute ke Sinabang. Setidaknya pesawat jenis ATR 72 milik Garuda Indonesia yang memiliki 78 seat. Namun pesawat dengan baling-baling turbo kembar itu tak bisa menembus jalur udara Simeulue karena terhalang bukit di ujung landasan pacu (run way).

Pihak Bandara dan Pemkab Simeulue kemudian mengantisipasinya dengan membelah bukit tersebut. “Pengerjaannya sudah dimulai tahun ini. Kita perkirakan butuh waktu dua sampai tiga tahun. Butuh waktu yang lama karena daerah Simeulue kerap turun hujan sehingga menyulitkan pekerja,” ungkap Rusman kepada Aceh Tourism, beberapa waktu lalu saat menyahut undangan dari Pemkab Simeulue untuk liputan wisata.

Selain itu, pihaknya juga mengharapkan perluasan bandar udara Lasikin. Hal ini dapat memudahkan pihak maskapai yang ingin buka rute penerbangan ke Simeulue. Jelas Rusman, sejak beroperasi pada 1980, luas Bandara Lasikin hanya 750 m x 23 m. Perlahan, luasnya dilebarkan.

“Kini panjangnya sudah 1400 meter dan lebar 30 meter. Namun kita berharap luas bandara terus ditambah,” tutur Rusman.

Menurut Rusman, arus penumpang di Bandara Lasikin semakin meningkat. Penumpang Susi Air dengan latar bervariasi penuh setiap hari. Banyak turis asing terbang untuk menikmati pariwisata Simeulue, terutama pecinta selancar (surfing).

Namun saat ini tarif yang ditawarkan Susi Air tergolong mahal. Penumpang komersil dengan rute Kuala Namu–Lasikin harus merogoh kocek Rp1 juta untuk tiket PP (pergi dan pulang) atau per orang mesti mengeluarkan Rp500 ribu sekali terbang dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Sedangkan penerbangan perintis dipatok harga tiket Rp263 ribu per orang untuk sekali terbang. Armada lepas landas di Bandara Iskandar Muda, transit di Cut Nyak Dhien sebelum mendarat di Lasikin dengan waktu tempuh sekitar 2 jam.

Menurutnya, wajar maskapai milik PT ASI Pujiastuti Aviation itu mematok tarif tinggi. Karena tak ada maskapai kompetitor. Mau tidak mau penumpang yang ingin bepergian ke pulau ujung barat Aceh via jalur udara mau tidak mau harus naik Susi Air.

Pada 2013, jelasnya, pesawat berkapasitas 50 seat jenis Fokker 50 sempat buka rute penerbangan ke Simeulue. Namun hanya bertahan tiga bulan karena minim peminat. “Maskapai hanya punya satu armada, akhirnya tidak melakukan penerbangan lagi ke Sinabang,” katanya.

Karena itu, jika pengerjaan bukit cepat rampung, pihak maskapai lain akan mudah bekerjasama dengan pihak Bandara Lasikin, sehingga akan semakin banyak orang yang datang ke Simeulue. “Bila fasilitas sudah bagus, turis dan investor pun akan mudah masuk dan perekonomian masyarakat juga terbantu,” harap Rusman.

Menurut statistik angkatan udara yang dirilis Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Provinsi Aceh, jumlah penumpang di Bandara Lasikin pada 2013 mencapai 9.848 orang yang datang dan 10.635 orang berangkat. Sedikit menurun dibanding statistik tahun 2012, dengan penumpang datang mencapai 11.662 dan berangkat 12.164 orang. Sementara hingga Juli 2014, penumpang datang 4.379 orang dan 4.831 orang berangkat.

Simeulue dengan kekayaan alam baharinya akan menjadi primadona baru dalam dunia pariwisata Aceh ke depan. Karena itu, armada transportasi udara salah satu strategi untuk meningkatkan pengunjung, sehingga Pendapatan Asli Daerah pun bertambah dan membantu perekonomian masyarakat setempat. (Makmur Dimila)