Bertamasya ke ACEH JAYA | Aceh Tourism

Bertamasya ke ACEH JAYA

Jalan Menuju Aceh Jaya

Jalan Menuju Aceh Jaya | Ikbal Fanika

Gugusan awan bertabur menghiasi pegunungan. Layaknya di Eropa. Pemandangan itu berakhir pada KM 145 jalan nasional Banda Aceh – Meulaboh, saat tim Aceh Tourism dari Banda Aceh belok kanan menuju Kota Calang. Ibukota Kabupaten Aceh Jaya ini sempat hilang disapu gelombang tsunami 2004.

Aceh Jaya resmi dimekarkan dari Kabupaten Aceh Barat pada 2002. Awalnya terdiri dari enam kecamatan: Jaya, Krueng Sabee, Panga, Sampoiniet, Setia Bakti, dan Teunom. Belakangan, muncul tiga kecamatan baru yang dimekarkan dari wilayah sebelumnya: Indra Jaya, Darul Hikmah, dan Pasi Raya.

Namun samudera juga pernah mengirim bencana dahsyat untuk Aceh Jaya—juga Aceh secara umum. Gempa bumi dan gelombang ie beuna pada 26 Desember 2004 menelan lebih dari seperempat populasi Aceh Jaya pada saat itu.

Kini kehidupan Kota Calang memang berdenyut. Tetapi bagai kota mati. Perjalanan kami mencatat, bangunan rongsok dihempas tsunami masih bertebaran di beberapa titik bekas Pusat Pemerintahan Aceh Jaya. Rumah, boat, mobil, pabrik, masih terdampar meskipun peristiwa itu telah satu dekade berlalu.

Hari itu, 15 Mei 2014, kami singgah ke Kota Calang untuk menunaikan salat Jumat di Masjid Agung Ar-Rahmah, Kota Calang. “Aceh Jaya kaya potensi alam, tapi banyak yang telantar,” kata Khatib Jumat, Tgk M Daud Pakeh. “Padahal dalam Alquran diperintahkan, hidupkanlah benda-benda mati,” tutur Kepala Kantor Departemen Agama Aceh Jaya itu.

Tak salah, kami melihat nyata apa yang dikatakan Tgk Daud Pakeh. Menghadap Samudera Hindia membuat panorama alam Aceh Jaya eksotis dan memikat. Garis pantai pasir putih sambung-menyambung dari kaki Gurutee hingga ke Calang. Pulau-pulau kecil dan teluk terlihat dari balik kaca jendela mobil kami yang melintasi jalan nasional bantuan USAID—Badan Bantuan Pembangunan Internasional Amerika. Pun demikian rawa-rawa di kiri jalan, yang bisa dijadikan objek wisata wildline (tanah basah/rawa); semua objek alam itu belum terjamah kegiatan pariwisata.

Kota Calang yang belum terpoles masih terlihat jelas ketika kemudian Aceh Tourism menghabiskan tiga hari di Aceh Jaya, 24-26 November 2014.

Kondisi jalan yang basah membuat kami hati-hati saat menanjak Gunung Paro, Gunung Kulu, dan Gunung Gurutee. Lebih-lebih, beberapa titik di kawasan ini ditimpa longsor akibat hujan deras awal bulan November.

Selepas meninggalkan Gurutee, kami berjalan pelan hingga berhenti di Puncak Indah Lageuen. Menunggu fajar. Saat itu posisi kami tepat di objek wisata pada KM 143 (jalan nasional Banda Aceh-Meulaboh lama) dan KM 132 untuk jalan baru yang dibangun USAID setelah tsunami 2004.

Harmoni alam menyambut saat matahari bersinar di pagi hari. Pulau kecil yang dikenal dengan nama Pulau Cek Baih membentang di depan. Di selatannya kami melihat boat nelayan berlayar dari Pantai Lhok Geulumpang yang keelokannya dikikis gelombang tsunami. Namun angin dari pegunungan dan Samudera Hindia tajam menusuk tulang.

Pante Kuyun, sebuah rawa yang dapat dinikmati dari pinggir Jalan Banda Aceh – Calang

Pante Kuyun, sebuah rawa yang dapat dinikmati
dari pinggir Jalan Banda Aceh – Calang | Ikbal Fanika

Usai menghangatkan tubuh dengan teh panas, kami bertolak menuju Calang, ibu kota Kabupaten Aceh Jaya. Mencari penginapan. Kami memasuki Jalan Teuku Umar, berhenti di pekarangan Khana Hotel. Sapuan ombak terdengar jelas dari lantai dua hotel ini, baik dari arah belakang maupun dari halaman hotel. Bayangkan jika kita sedang santai-santai di Khana Hotel pada pagi Minggu 26 Desember 2014?

Khana Hotel tampil sederhana namun strategis. Fasilitasnya terbatas tetapi informatif. Mereka sediakan peta-peta objek wisata Aceh Jaya di lobi. Termasuk juga info-info transportasi. Ellysa, General Manager Khana Hotel menyebutkan, hotel ini sebelum 2004, merupakan restoran berlantai tiga yang menyediakan penginapan. Namun hancur diterjang tsunami. Hanya tersisa 6 kamar yang kemudian dijadikan modal membangun hotel dua lantai pada 2006.

Sekitar 100 meter ke barat Khana Hotel, kompleks Kodim 0114 telah menutupi jejak sejarah. “Sebelum tsunami 2004, di area Kodim Aceh Jaya sekarang, ada bangunan peninggalan Belanda, Onderafdeeling (kantor pemerintahan masa Belanda _red),” sebut Aula, Humas Pemkab Aceh Jaya.

Dampak kehilangan harta-benda dan jiwa akibat tsunami juga terekam jelas di katalog “Aceh Jaya Dalam Angka 2007” yang diterbitkan Badan Pusat Statistik Kabupaten Aceh Jaya. Hingga Februari 2004, sepuluh bulan sebelum bencana, penduduk daerah ini berjumlah 80.541 jiwa. Tsunami “mengambil” 20 ribu jiwa. Menurut Sensus Penduduk 2005, hanya tersisa 60.660 orang. Baru meningkat lagi setahun kemudian menjadi 70 ribu karena korban selamat telah kembali dari pengungsian. Sensus 2012 menunjukkan peningkatan jumlah penduduk yang mencapai 80 ribu jiwa, dengan banyaknya pendatang. Namun, “ruh” Kota Calang belumlah kembali.

Pulau Cek Baih dari Puncak Lageuen Indah

Pulau Cek Baih dari Puncak Lageuen Indah | Ikabl Fanika

Peristiwa tsunami juga banyak mengubah geografis Aceh Jaya. Beberapa objek wisata pantai seperti Lhok Geulumpang, Kuala Dhoe, dan Kuala Meurisi, tersapu gelombang. Beberapa pulau baru muncul seperti Pulau Ujong Seudeuen yang dikenal dengan Pulau Tsunami.

Sadar daerahnya terkikis bencana, Pemkab Aceh Jaya pun bangkit. Bupati Azhar Abdurrahman, pada periode kedua kepemimpinannya, mulai tertarik untuk memanfaatkan potensi alam Aceh Jaya.

“Potensi daerah ini memang berada di sektor pariwisata, baik bahari maupun alam,” kata Teuku Samsuar, Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi Telematika Budaya dan Pariwisata (Dishubkomintelbudpar) Kabupaten Aceh Jaya.

“Kita sekarang ingin mengembangkan beberapa destinasi yang sudah ada denyut pengunjungnya, seperti Lhok Geulumpang di Kecamatan Setia Bakti dan Pulau Reusam di Teluk Rigaih,” tuturnya.

Dia mengakui minat turis ke Calang mulai terlihat dalam beberapa tahun terakhir. Aceh Jaya menurutnya sebuah destinasi singgah. Letaknya di tengah-tengah perbatasan Aceh bagian barat selatan, Kabupaten Aceh Barat dan daerah yang berbatasan dengan ibu kota provinsi, Kabupaten Aceh Besar. “Jadi mereka pergi pagi dari Banda Aceh atau Meulaboh, sorenya langsung pulang,” tutur Samsuar.

Pemkab Aceh Jaya kini membuka pintu bagi investor yang ingin mengembangkan industri pariwisata demi menunjang fasilitas pendukung. Di samping itu, dibentuk Kelompok Sadar Wisata sejak awal 2014 untuk memberikan pemahaman sadar wisata kepada masyarakat di sejumlah objek daerah tujuan wisata.

Aceh Tourism pun sempat menelusuri beberapa objek wisata di sana. Di antaranya Pulau Reusam dan Pantai Pasie Saka, dua dari 10 destinasi unggulan yang dimiliki Aceh Jaya saat ini. (Tim)