bertualang ke Gua Angen dan Gua Salju | Aceh Tourism

bertualang ke Gua Angen dan Gua Salju

Wisata Gua Angen

Wisata Gua Angen | Zulkarnaini

Gua Angen dan Gua Salju, dua gua yang masih tersembunyi di Kabupaten Aceh Besar. Pesona wisata gua ini belum diketahui banyak orang. Namun bagi pecinta alam di Aceh Besar dan Banda Aceh, dua gua ini sudah menjadi pembicaraan sebagai objek wisata adventure yang memacu adrenalin.

Sepasang suami istri dari Singapura, Juen Jr dan Rica akan merayakan ulang tahun perkawinan di Aceh. Fotografer dan guru SD di Singapura itu bersepakat untuk memilih wisata lingkungan dengan mengunjungi gua-gua yang terdapat di Kecamatan Indrapuri, Aceh Besar.

Dari sebuah web wisata milik Aceh Discover yang menyediakan beberapa paket wisata alam yang belum banyak diketahui wisatawan. Setelah bertolak dari Banda Aceh selama 35 menit, tibalah pasangan muda ini bersama pemandu dan seorang fotografer di pasar Indrapuri.

Kali ini Abik sebagai pemandu mengusulkan untuk membeli nasi guri untuk makan siang Tim Aceh Tourism dan turis asing dari Singapura. Lalu rombongan melanjutkan perjalanan ke Desa Leupung Bruek. Sebelum sampai di Desa Bruek, rombongan sempat singgah di Makam Panglima Polem, untuk menceritakan sedikit kisah pahlawan nasional masa penjajahan Belanda kepada turis asing tersebut.

Meninggalkan pemukiman dan persawahan, mobil yang kami kendarai memasuki jalan sempit berbatu menuju jalan perkebunan dengan sedikit menanjak. Pak sopir tetap tancap gas meski jalanan licin, tadi malam sempat hujan ringan mengguyur desa di ujung kaki gunung ini. Setelah menemui sebuah pondok di sebuah kebun, mobil parkir, dan rombongan kami menyiapkan barang bawaan.

Menapak jalan setapak menyusuri jalan kebun yang becek. Meninggalkan barisan jabon (jati bonsai) yang baru ditanam. Kebun ini menjadi pintu rimba memasuki hutan. Tim Aceh Tourism dan dua bulek pasangan suami istri itu langsung disapa perdu yang menutupi pepohonan.

Terlihat, sang suami menyibak ranting yang menutupi jalan, agar sang istri dapat melewati belukar. Atau mereka saling berpegangan ketika harus melangkahi batang pohon yang tumbang. Sungguh kami disuguhi romantisme pasangan suami istri tersebut.

Lalu kami melanjutkan perjalanan. Ditengah perjalanan terlihat bebatuan kapur seukuran rumah yang ditumbuhi pohon beringin. Menandakan gua kapur tidak jauh lagi.“Ini wisata jalur konflik lebih sesuai dijadikan nama paket wisatanya,” celutuk sang suami.

Abik sang pemandu langsung menjelaskan, memang ini tempat para kombatan GAM keluar masuk dari persembunyian. Namun rombongan tidak ke sana, tujuan perjalanan wisata ini turun ke Gua Angen dan Gua Salju.

Dalam perjalanan, kami bercerita tentang masa konflik yang dirasakan. Guide kami, Abik menebas duri rotan yang hampir menutupi jalan. Abik adalah warga Indrapuri yang bergabung dalam organisasi pecinta alam di kampusnya. Ia sangat berminat memperkenalkan gua-gua di kampungnya kepada wisatawan.

Setelah menaiki sedikit tanjakan di antara pohon rotan, kami menemukan sebuah pintu di dinding bukit. Pintu itu hanya selebar 2 meter dan tinggi kira-kira 1 meter lebih. Situasi mulut gua yang kering dipenuhi bebatuan kapur kecil. Bau guano atau kotoran kelelawar mulai tercium saat kami mencoba masuk lebih dalam.

Setelah berjalan dua meter, kami harus menyalakan senter untuk melihat ornamen di Di dalam gua, lalu kami mematikan semua sumber cahaya. Kami duduk berdiam merasakan aroma gua, bunyi-bunyi dan udara yang merambat tipis di dalam lubang itu. Setelah puas menikmati suasana gua Salju, kami pun memotret setiap ornamen yang membentuk stalaktit.

Ornamen membentuk kerucut yang menggantung di atap gua. Paling panjang hanya sepuluh meter. Gua ini paling baru diantara kedua gua lain. Tidak ada ornamen stalakmit di dalam gua ini, yaitu ornamen yang berbentuk kerucut dari dasar lantai gua.

Setelah puas membekukan momen objek foto, kami keluar dan melanjutkan perjalanan ke Gua Angen. Angen dalam bahasa Aceh berarti angin. Dalam gua horizontal dan vertikal ini cukup jauh jarak tempuhnya dengan lorong berbentuk persegi yang gelap gulita. Kami harus memasang tali lintasan untuk pengaman, karena harus melewati lubang vertikal belasan meter dalamnya. Kami berniat untuk memasuki lorong horizontal saja. Setelah memakai seat harnest, semacam pengaman yang disarung pada pinggang dan kedua paha. Tali dikaitkan dengan carabinner dan dipasang pada tali lintasan tadi.

Dari mulut gua yang seukuran dua meter berbentuk Pulau Sumatera, kami turun ke dalam gua dengan perlahan. Sumurannya sangat luas dan tinggi, dengan atap sekira 7 meter dengan beberapa lubang jendela yang ditembusi cahaya.

Perlahan kami turun dan sedikit melompat melewati lubang tadi. Adrenalin kami sedikit terpacu saat melewati lubang ini. Setelah berhasil kami menemukan terowongan yang panjang dan gelap. Seketika suara pekikan kelelawar dan deru sayap mendekati kami. Mereka beterbangan di atas kepala lalu pergi keluar melalui pintu gua. Kami sempat ketakutan beberapa detik, lalu saling tertawa geli, karena kekagetan kami tersebut.

Pecinta-Alam-Menikmati-sinar-mentari-dari-mulut-gua-angen

Pecinta alam menikmati sinar mentari dari mulut gua angen

Sepasang pasangan turis asing tadi terlihat berfoto bersama untuk mengabadikan ulang tahun perkawinan mereka. Post wedding dalam gelap seru juga kata si fotografer, Juen Jr yang memang tukang foto pre wedding (pra nikah) yang juga ikut dalam rombongan kami.

Bau kotoran kelelawar membuat kami tidak betah lama-lama di dalam lorong itu. Kami pun beranjak keluar ke pintu masuk yang berbentuk sumur tadi. Beristirahat sejenak dan menikmati minuman yang kami bawa sambil merasakan hawa sejuk dari dalam Gua Angen.

Setelah puas menikmati kedua gua, Gua Angen dan Gua Salju, kami beranjak pulang. Sesekali Juen meminta kami untuk berfoto bersama di antara semak dan perlu yang berbentuk atap saat perjalanan pulang.

Tiba di pondok, kami membersihkan diri dari lumpur dengan air yang mengalir dari parit kecil. Siang itu kami makan nasi guri Indrapuri sambil duduk lesehan tanpa alas di bawah pohon mangga. Rica memuji rasa khas nasi guri Aceh yang berbeda dari nasi lemak melayu dari negeri asalnya.

Sebelum pulang, kami mengumpulkan sampah yang kami bawa pulang dari gua. Ada sedikit etika yang kami pelajari setelah menikmasi wisata gua. Leave nothing but foot print, take nothing but picture, kill nothing but time. (Jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak, jangan mengambil sesuatu kecuali foto, dan jangan membunuh apa-apa kecuali waktu). (Yanti Octiva)