Berwisata ke Pulau Breueh | Aceh Tourism

Berwisata ke Pulau Breueh

pulo-breuh

BERLIBUR ke salah satu pulau paling barat Indonesia saya lakukan beberapa bulan lalu. Dengan tujuan melepaskan diri dari kepenatan kota, daratan bernama Pulo Breueh menjadi pilihan saya bersama rekan-rekan. Perjalanan tersebut kami mulai dari Dermaga Peunayong, Banda Aceh, menuju pelabuhan di Desa Meulingge, Kecamatan Pulo Aceh, Aceh Besar.

Saya dan teman-teman menumpang boat nelayan untuk perjalanan selama hampir tiga jam. Pada bulan-bulan di mana arus laut sedang tenang tanpa angin kencang, perjalanan akan terasa nyaman dan lebih santai. Namun bila ada badai, kita harus lebih berhati-hati dan tetap waspada.

Transportasi dengan boat nelayan memang menjadi satu-satunya pilihan menuju Pulo Breueh. Tapi jangan salah, boat nelayan ini pun mampu menampung beberapa sepeda motor. Jika kita berniat menghabiskan masa liburan dengan bersepeda motor di Pulo Breueh, tak perlu risau untuk membawanya serta.

Dengan biaya lima puluh lima ribu rupiah saja, kita dapat memboyong sepeda motor untuk berkeliling menikmati keindahan alam pulau ini. Namun jika memilih untuk tidak terlalu repot membawa kendaraan, cukup dengan membayar dua puluh lima ribu, kita juga tetap bisa menikmati berbagai keistimewaan pulau kecil ini.

Lalu, apa asyiknya wisata ke Pulo Breueh?

Sore hari setelah berjam-jam perjalanan laut, saya dan teman-teman tiba di pelabuhan Desa Meulingge,desa paling ujung di daratan Pulo Breueh. Sebenarnya masih ada beberapa pelabuhan di desa lainnya di pulau ini dan bisa dijangkau dalam waktu lebih singkat. Tapi kami memilih Meulingge sebab akan bermalam di desa ini sebelum menuju mercusuar William’s Torren esok paginya.

Mercusuar William’s Torren di Meulingge adalah saksi sejarah peinggalan kolonial Belanda. Bangunan yang berdiri sejak tahun 1875 ini menjadi objek wisata paling sering dikunjungi para wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Untuk mencapai mercusuar ini, kita harus melewati beberapa bukit yang dikelilingi hutan lebat.

Setelah melewati bukit terakhir menuju Lampu, yaitu sebutan masyarakat Meulingge untuk mercusuar William’s Torren, saya dan teman-teman memutuskan untuk tidak cepat-cepat bertemu dengan bangunan bersejarah tersebut. Lantas kami berjalan melewati beberapa bukit lagi menuju pelabuhan peninggalan kolonial Belanda puluhan tahun silam.

Pelabuhan ini kondisinya sudah tak utuh. Hanya tersisa beberapa bongkah tembok saja di bibir pantai. Setelah beberapa kali mengambil gambar, kami beristirahat menikmati pantai dengan pasir putih itu. Ada beberapa teman saya yang memilih berenang atau sekadar berjalan-jalan sepanjang pantai. Pantai bernama Ujong Peuneung ini memang sangat teduh dengan gelombang kecil saat tak ada angin kencang.

Dari Ujong Peuneung, kami kembali ke jalan semula menuju mercusuar William’s Torren. Bangunan berwarna putih-merah itu menjulang tinggi dan kami tak sabar untuk menuju puncaknya.

Beberapa pejaga bangunan menyapa dengan ramah sebelum kami mencapai Lampu. Mereka bercerita banyak, misalnya, bangunan ini berwarna merah dan putih sebab berada di perairan yang dipenuhi banyak tebing karang baik yang menonjol maupun yang berada di bawah permukaan laut.

Sebelum naik ke puncak mercusuar, para petugas juga menyarankan kami untuk melihat-lihat benteng peninggalan Belanda yang berada beberapa langkah saja dari mercusuar William’s Torren. Benteng ini sebetulnya masih untuh. Dinding dan temboknya juga masih kokoh berdiri. Hanya saja beberapa tanaman liar mulai merambat hingga ke bagian puncak benteng.

Puas menikmati dan berfoto di benteng tua tersebut, kini saatnya kami menaiki mercusuar. Beberapa anak tangga yang membentuk lingkaran kami tapaki hingga mencapai puncak. Memang sangat menguras tenaga, ditambah beberapa anak tangga telah jebol, sehingga kami harus menaiki dua anak tangga sekaligus dalam satu langkah.

Tetapi pemandangan yang luar biasa tersaji di atas sana. Di puncak bangunan, pemandangan laut lepas terpampang, dengan beberapa daratan kecil yang menyembul ke permukaan. Angin sejuk tanpa hambatan menerpa kami, burung-burung yang terbang sama tingginya dengan kami membuat suasana semakin asyik.

Beberapa teman saya yang takut ketinggian mengaku tak berani melihat ke dasar bangunan.Tapi jangan khawatir, bila Anda pun seorang fobia ketinggian, pagar tinggi yang melingkar di puncak bangunan sangat sefety sehingga Anda dapat menjulurkan kaki dari bawah pagar, tanpa takut akan terjatuh.

Saya dan teman-teman menikmati pemandangan dari atas puncak hingga sore hari. Boat-boat nelayan mulai terlihat, pulau Sabang, dan pulau-pulau kecil lainnya juga makin jelas dipandang.

Sebelum memutuskan pulang, kami melihat-lihat lampu besar bertenaga surya di tengah ruangan puncak mercusuar. Katanya lampu ini sudah tidak berfungsi sehingga perannya diganti oleh lampu kecil di sisinya.

Malamnya kami telah sampai di rumah kepala desa Meulingge. Sejak tiba ke desa ini, kami langsung ditawari untuk bermalam di rumahnya. Selepas makan malam, Pak Keuchik—sapaan untuk kepala desa—dan keluarganya bergantian menanyakan cerita kami di mercusuar hari ini. Beberapa di antara kami mengeluh keram kaki, sakit di bagian lutut, dan sakit pinggang. Tapi cerita yang paling seru adalah menyaksikan gagahnya mercusuar bersejarah itu.

Lalu satu per satu tuan rumah ini bercerita pengalaman mereka sendiri saat berada di puncak Lampu. Bahkan katanya, sebelum lampu besar di puncaknya rusak, saat malam hari cahayanya bisa terlihat hingga ke daratan Sabang. Ah, masyarakat Meulingge memang ramah dan pandai bercerita.

Masyarakat di sini tak segan mengundang ‘orang-orang baru’ untuk bermalam di rumahnya, mengajaknya mengunjungi kebun, memancing bersama, atau berjalan-jalan di pantai. Hanya saja, pelayanan komunikasi jarak jauh tidak maksimal di pulau ini sebab jaringan beberapa operator komunikasi tidak berfungsi maksimal.

Jadi jika Anda berlibur ke desa ini, tak perlu khawatir.Selain menumpang di rumah warga, Anda pun bebas camping di pantai atau gunung, asal tetap menjaga norma-norma yang berlaku.Di Pulo Breueh kita bisa berkemah, memanggang ikan hasil pancingan sendiri, hiking, hingga mengunjungi situs wisata sejarah. Sungguh mengasyikkan, bukan?(Siti Zulaikha)