Bule pun Nongkrong di Festival Kopi Aceh | Aceh Tourism

Bule pun Nongkrong di Festival Kopi Aceh

Bule pun Nongkrong di Festival Kopi Aceh

Banda Aceh Coffee Festival

Banda Aceh Coffee Festival | Ikal Fanika

Salah seorang penikmat kopi Aceh asal Amerika Serikat yang sudah bertugas di Aceh selama 3 bulan, Emily mengatakan, dia bersama teman-temannya sengaja datang ke festival ini ingin menikmati kopi Aceh yang rasanya memang tidak kalah dengan kopi di negara asalnya.

“Kopi yang paling saya suka yaitu kopi sanger. Rasanya memang terlalu manis tetapi saya suka dan pas aja rasan­ya,” kata Emily yang bekerja sebagai schiller internasional humanity foundation di Banda Aceh.

Emily mengatakan, jika di negaranya dia menikmati kopi tanpa gula tetapi ketika dia berada di Aceh dia malah terbiasa menikmati kopi dengan rasa yang lebih manis. “Penyajian kopi di sini memang lebih manis, tapi saya suka juga,” kata perempuan yang mengaku suka dengan kopi Aceh.

Ketika ditanya soal kopi khôp, saat itu Emily memesan dan menikmati sanger khôp (kopi susu khas Aceh Barat yang disajikan dengan gelas terbalik), perempuan yang belum begitu fasih berbahasa Indonesia mengatakan, penyajiannya sangat unik dan dia baru pertama kali meli­hatnya. “Unik dan lucu aja,” katanya sembari menyeduh sanger dengan sedotan.

Foto: Saniah LS

Foto: Saniah LS

Emily sebelum menikmati sanger khôp, belajar dulu bagaimana menikmatinya. “Tiup dulu, nanti air kopi keluar dari cangkir, baru kemudian disedot dengan pipet,” ajar salah seorang mahasiswa asal Aceh Barat tersebut kepada Emily.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banda Aceh menggelar event Banda Aceh Coffee Festival 2014 di Ge­dung Sosial mulai tanggal 18 hingga 20 November 2014. Festival ini digelar setiap tahun untuk memperkenalkan kenikmatan rasa kopi Aceh di lidah penikmat kopi dalam dan luar negeri.

Walikota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal SE saat membuka festival tersebut mengatakan, meskipun Banda Aceh tidak memiliki perkebunan kopi, tetapi Banda Aceh dikenal dengan kota seribu warung kopi. Bahkan kata dia, warung kopi salah satu penyumbang PAD terbesar di Kota Banda Aceh.

“Meskipun tidak memiliki lahan, tapi penikmat kopi terbanyak ada di Banda Aceh dan bahkan kota tercinta kita ini dikenal dengan sebutan Kota Seribu Warung Kopi,” ujar Iliza.

Ia juga mengatakan Banda Aceh akan terus menjadikan event yang digelar setiap tahunnya ini sebagai salah satu ajang mempromosikan Banda Aceh sebagai kota kunjun­gan bukan sebagai kota transit bagi traveler. Kata Illiza, kotanya ini sangat mengandalkan pendapatan asli daerah (PAD)-nya dari sektor pariwisata.

“Melalui event seperti inilah cara salah satu kami menaikkan angka kunjungan wisatawan ke Kota Banda Aceh,” kata Illiza kepada wartawan didampingi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Kadisbupar) Kota Banda Aceh, T Samsuar.

Sementara itu T. Samsuar menambahkan, festival kali ini berbeda dengan pagelaran sebelumnya yang dilaksan­akan di area outdoor di Taman Sari. Tahun ini Banda Aceh Coffe Festival digelar di gedung tertutup yakni di Gedung Sosial Teungku Chik di Tiro.

Bule Sedang Menikmati kopi | Foto: Saniah LS

Bule Sedang Menikmati kopi | Foto: Saniah LS

Pada event ini panitia menyediakan 40 stan yang datang dari pengusaha warung kopi tradisional dan mesin, koperasi tani kopi, produsen bubuk kopi, komunitas peracik dan penikmat kopi, pengusaha kopi industri rumah tangga sampai pengusaha kopi target export.

“Resep yang dihadirkan dalam festival itu di antaranya kopi kocok telur bebek, kopi khôp khas Meulaboh, sanger, kopi tubruk dan kopi cokelat saring,” sebutnya.

Banda Aceh Coffe Festival 2014, menghadirkan brand café dari Banda Aceh, Aceh Besar, Bireuen, dan daratan Gayo, juga menawarkan kepada pengunjung berbagai minuman kopi unik. Kopi seduh air zam-zam, manual brewing coffee, coffee speciality nusantara, green bean arabica coffee gayo, espresso madu, kopi campur buah, dan lain-lainnya. Juga sajian ragam makanan pendamping kopi bercita rasa tradisional, nusantara, dan internasional. nSaniah LS