Garuda Indonesia Lebarkan Sayap di Aceh | Aceh Tourism

Garuda Indonesia Lebarkan Sayap di Aceh

Maskapai Garuda Indonesia melebarkan sayapnya di Provinsi Aceh dengan membuka tiga rute penerbangan baru. Kebijakan ini dibuat untuk mendukung kemajuan industri pariwisata Aceh dan membantu perekonomian masyarakat.

Pesawat Garuda Indonesia jenis ATR 72 direncanakan terbang di langit Sabang, Lhokseumawe, dan Meulaboh mulai Januari 2015 atau paling cepat pada Desember 2014. Ketiga rute tersebut yaitu Sabang dengan Bandara Maimun Saleh, Meulaboh dengan Bandara Cut Nyak Dhien di Nagan Raya dan Lhokseumawe dengan Bandara Malikussaleh di Aceh Utara.

“Kita buka penerbangan ke tiga daerah itu dengan harapan meningkatkan perekonomian masyarakat Aceh. Begitupun dengan sektor perdagangan dan pariwisataAceh. Dampak besar yang kita harapkan yaitu investor akan mudah datang ke Aceh,” ujar General Manager Garuda Indonesia Cabang Aceh, Nano Setiawan, kepada Aceh Tourism, 1 Oktober 2014.

Garuda Indonesia sangat mendukung program Gubernur Aceh sekarang, seperti pelaksanaan Indonesia Malaysia Thailand- Growth Triangle (IMT-GT) pada September lalu dan inisiatif ‘menjemput’ investor ke Eropa. Namun, Aceh juga harus siap menghadapinya, seperti menyiapkan infrastruktur dan sumber daya manusia.

Pihak maskapai telah turun ke lokasi untuk mengecek kesiapan bandara. Ketiga airport itu sudah siap secara fisik namun kurang dari segi fasilitas. Kota Sabang misalnya, penerbangan komersil belum pernah dilakukan ke Bandara Maimun Saleh, kecuali penerbangan militer.

“Untuk membuka rute penerbangan tidak semudah yang kita bayangkan, karena di situ ada faktor safety dan security bagi penumpang. Penerbangan bukan hal yang main-main, satu kasus saja dampaknya dunia. Kalau transportasi lain, efeknya locally saja,” tuturnya.

Siang itu Nano menyebutkan kepada Aceh Tourism, ada beberapa survei yang sudah dilakukan tim internal Garuda Indonesia untuk melihat potensi di tiga bandara tersebut. Sehingga dengan selang waktu tersedia, kekurangan-kekurangan untuk kebutuhan penerbangan cepat dibenahi. Karena itu dia mengharapkan percepatan penerbangan ketiga daerah tersebut harus dibantu semua pihak terkait, baik pemerintah daerah maupun bandara.

Selama ini lagu ‘dari Sabang sampai Merauke’ terus berdengung. Garuda Indonesiapun sudah membuka rute penerbangan ke Merauke sejak akhir 2013. “Sayang kan Sabang-nya belum,” imbuh Nano Setiawan, terkekeh.

 

utusan-garuda

Utusan dari Garuda Indonesia

Foto: Yusoef S. Paru | Utusan pihak Garuda Indonesia dan utusan Badan Pengelola Kawasan Perbatasan Republik Indonesia (BNPP), Marhaban Ibrahim (tengah) sedang mendengar penjelasan Walikota Sabang tentang rencana pengembangan Lanud Maimun Saleh untuk penerbangan komersil

Medan sebagai Hub

Bandara Internasional Kualanamu, Medan, menjadi bandara penghubung (hub) untuk penerbangan ke tiga rute baru di Aceh. Dari Kualanamu, pesawat ATR 72 lebih dulu terbang ke Bandara Binaka di Gunung Sitoli, Pulau Nias sebelum melanjutkannya ke Bandara Cut Nyak Dhien. Begitu pun dengan rute Medan-Lhokseumawe dan Medan-Sabang, lebih dulu transit di Binaka jika harus menjemput penumpang.

Sementara ini, kata Nano, pihak Maskapai Garuda Indonesia mengalokasikan pesawat jenis ATR 72 dengan kapasitas 70 penumpang kelas ekonomi. Hal ini sesuai dengan sarana di masing-masing bandara.

Rencana sebelumnya, rute penerbanganMedan-Sabang dimulai pada Oktober 2014. Tetapi, pihak maskapai terpaksa menunda. Nano Setiawan ketika menjumpai Walikota Sabang, Zulkifli H Adam, dalam acara Aceh Diving Championship di Sabang pada Agustus lalu menyatakan permohonan maaf.

“Kami masih kekurangan di bagian kokpit (baca: ruang pilot). Pilot Garuda Indonesia untuk pesawat ATR 72 masih terbatas, tidak seperti pilot jenis jet yang banyak. Kita betul-betul ketat merekrut pilot untuk menerbangkan pesawat ATR dengan baling-baling ini,” tuturnya.

Namun kata Nano, pihak Garuda Indonesia tetap mewanti-wanti di balik target pelebaran sayapnya di Aceh. Suatu kewajaran, tegas dia, seandainya pembukaan rute penerbangan ke tiga daerah tersebut tidak seperti yang telah ditentukan. Pihaknya terkait kendala itu bukan tidak mendukung pemerintah daerah, tetapi sebuah proses yang harus dilalui untuk menghasilkan kesiapan penerbangan yang safety dan security. (Makmur Dimila)