IOF Aceh Menjajal Jalur Offroad Belantara Aceh Besar dan Pidie | Aceh Tourism

IOF Aceh Menjajal Jalur Offroad Belantara Aceh Besar dan Pidie

ofroad-iof-pidie

Offroad IOF Pidie

 

DI pengujung 2013, para penikmat olahraga offroad di Aceh kembali beraksi dalam ganasnya alam di Aceh Besar dan Pidie. Mereka mencari keindahan di balik keganasan tersebut. Hutan yang masih hijau menjadi daya tarik bagi mereka untuk menikmati hari-hari di akhir 2013.

Jumat pagi, 27 Desember 2013, puluhan offroader yang menunggangi mobil adventure itu dilepas Kapolda Aceh Irjen Polisi Herman Effendi di halaman Polda Aceh di Jeulingke, Banda Aceh. Acara offroad 4×4 Aceh Adventure yang bertajuk Concuer the Challenges with Brotherhood tersebut didukung penuh oleh Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh.
Ketua Indonesia Offroad Federation (IOF) Pengurus Daerah Aceh, Musni Haffas, atau yang akrab disapa Alex, mengatakan para peserta akan menyusuri gugusan pegunungan Aceh Besar hingga tembus ke Kunyet, Padang Tijie di Pidie dan akan berakhir di Scout Camp Sare, Aceh Besar. Kegiatan tersebut berlangsung dari 27 sampai 29 Desember 2013.
“Trek ini pernah dipakai untuk acara International Indonesia Offroad Expedition pada Mei 2013 yang finish di Sumatera Utara. Sebagian besar dari trek ini adalah savana tempat gajah bermain,” kata Musni Haffas.

Tim berangkat Jumat siang. Di sejumlah gampong yang dilalui di kawasan Jantho, Aceh Besar, iring-iringan kendaraan offroad menjadi tontonan warga. Suasana semakin akrab ketika suara teriakan anak-anak yang melambaikan tangan kepada para peserta. Itulah gampong Jalin, selalu ramah kepada siapa saja yang datang.

Mobil terus melaju. Suara anak-anak hilang ditelan deru puluhan mesin yang meraung di jalan berbatu. Lepas dari Jalin, sepanjang mata memandang hanya hamparan savana dengan hijau perbukitan.

Cuaca cerah siang itu. Setelah dua jam perjalanan mendaki, kecepatan kendaraan menurun ketika memasuki gampong Panca, Aceh Besar. Inilah gampong terakhir sebelum menuju belantara yang menghubungkan Aceh Besar dengan Pidie.

Tiba di Panca, semua peserta yang ikut menantang ganasnya alam tersebut menjejerkan mobilnya di pinggir jalan. Mereka berhenti untuk sekedar menikmati hangatnya kopi Aceh. Pandangan mata masyarakat seakan bertanya ketika melihat jejeran mobil di gampong mereka: mengapa mobil-mobil bagus ini dibawa ke gunung? Hanya para offroader yang dapat menjawab pertanyaan ini.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, Reza Fahlevi, yang juga ikut dalam acara dan mengendarai Toyota Hillux menjawab pertanyaan ini. Kata dia, selain untuk menuangkan hobi menjelajah alam liar, para offroader juga belajar saling menghargai, membina kebersamaan dan mempromosikan indahnya alam Aceh.

Selesai beristirahat sejenak di Panca, para offroader kembali melanjutkan perjalanan. Di langit awan tebal menampakkan wujudnya, seakan tak tahan untuk segera menumpahkan hujan.

Krueng Panca dilintasi segera oleh para peserta. Kata masyarakat, jika terlambat menyeberang, para peserta akan dihadang oleh derasnya sungai.

Satu persatu kendaraan bergerak pelan dan hati-hati membelah krueng Panca. Malam itu, tim mengambil kesimpulan untuk beristirahat di tempat tersebut malam itu. Hujan tidak berlangsung lama. Tapi awan hitam masih setia bergelantungan di langit. Hawa dingin pegunungan mulai menjamah tubuh.  Dari jauh, tampak lampu penerang para peserta seperti kunang-kunang besar yang digunakan untuk menerangi terpal pelindung tempat para peserta tidur.

Hujanpun turun juga. Suaranya seperti nada alam ketika menyentuh terpal para peserta. Suara binatang pun bersatu membentuk nyanyian indah. Kilatan cahaya di langit menjadikan malam pertama para offroader di hutan semakin dingin. Malam bergerak pelan, canda tawa peserta offroad di hutan itu perlahan menghilang. Yang tinggal hanya api unggun dan sunyi malam.

 

SABTU, 28 Desember 2013, penjelajahan hari kedua dimulai. Sinar mentari menyapa dari balik gunung di timur. Embun masih berada di dedaunan, namun para peserta sudah mulai briefing. Ketua tim menyatakan perjalanan yang akan dilalui lebih berat dan akan banyak menguras tenaga serta pikiran.

Setengah hari perjalanan, trek masih didominasi oleh savana dan tanah liat dengan kemiringan hingga 45 derajat. Di sejumlah lokasi, para peserta sibuk merangkai strap di wiching point. Hampir seluruh kendaraan mulai menggunakan winch sebagai alat bantu mendaki. Sisa hujan membuat jalan yang ditempuh semakin licin.

Jelang sore, hujan deras kembali tumpah membasahi bumi. Trek yang dilalui semakin sulit, tapi para peserta tidak menyurutkan niatnya untuk terus menjajal trek yang semakin susah tersebut. Walau harus antri, satu persatu mobil melintasi trek licin.

Waktu terus berjalan, satu persatu mobil berhasil melewati medan ganas di jalur Panca-Kunyet.

Setelah lelah bertarung dalam ganasnya lumpur dan belantara yang menghabiskan waktu satu hari dua malam, beberapa peserta terpaksa back track. Sebagian lainnya terus melanjutkan perjalanan untuk mencapai finish di Scout Camp Saree, Aceh Besar.

Ketika trek menurun, beberapa mobil terbalik dihantam ganasnya alam. Namun, tidak ada korban dalam kecelakaan tersebut. Mereka terbalik karena tidak berhasil melewati cekungan tanah yang terkikis air hingga membentuk alur. Dua mobil yang terbalik tersebut berhasil dievakuasi oleh peserta lainnya.

Waktu sudah lewat tengah malam. Tapi deru mesin mobil di gampong Kunyet tidak seriuh pada permulaan trek di kawasan Jantho. Hanya enam mobil yang berhasil keluar dari trek Kunyet malam itu dari 30 mobil yang ada pada saat pelepasan.

Usai sudah perjalanan melintasi belantara alam dari Banda Aceh, Jantho, Panca hingga Kunyet di Pidie. Para peserta beriringan menuju Scout Camp di Sare. Di garis finish, mereka disambut oleh Kepala Cabang PT Dunia Barusa Banda Aceh, Fauzi Muhammad.

Di belantara, ukiran ban mobil peserta tersisa di lumpur dan savana yang dilalui seolah menjadi penunjuk jalan bagi siapa saja yang ingin menjajal kembali trek tersebut. [Zulfan Amroe]