Jalinan Hubungan Aceh India dalam Sejarah dan Kebudayaan | Aceh Tourism

Jalinan Hubungan Aceh India dalam Sejarah dan Kebudayaan

Abu

Dr.Husaini Ibrahim,MA. Sejarawan/Arkeolog Islam Aceh

Hubungan Indonesia, khususnya Aceh dengan India telah berlangsung dalam kurun waktu yang cukup lama, dimulai sejak zaman kuno hingga sekarang ini. Hubungan yang terjalin dalam waktu lama tersebut telah meninggalkan bukti-buktinya dalam berbagai segi kehidupan. Kesamaan budaya orang Aceh dengan India tercermin dari adanya kesamaan praktik dalam beberapa tatacara pelaksanaan upacara adat istiadat, selain itu juga terlihat dari budaya material yang ada seperti pola hias pada batu nisan atau ornamen lainnya.

Hubungan Aceh dengan India secara historis dan kultural menjadi menarik karena India merupakan sebuah komunitas bangsa yang telah memiliki peradaban maju di Asia. Aceh sebagai sebuah komunitas bangsa yang pernah memiliki peradaban tinggi pada zamannya sejak awal telah menjalin hubungan dengan India.

Aceh menerima pengaruh India bukan saja pada masa klasik Hindu-Budha, melainkan juga  masa Islam hingga masa kini. Jika Hindu-Budha tumbuh dan berkembang di Aceh berasal dari India dengan berbagai teorinya, Islam yang datang ke Aceh juga berasal dari India. Salah satu teori yang terkenal tentang Islamisasi nusantara  adalah teori Gujarat atau teori India. Hal ini menunjukkan bahwa India merupakan pintu gerbang lalulintas yang menghubungkan Timur dan Barat. Demikian juga Aceh yang terletak pada jalur internasional merupakan pintu gerbang yang sangat strategis.

Beberapa kondisi menjadi modal bagi kedua bangsa untuk memperoleh kemajuan di segala bidang, namun kenyataannya potensi yang ada belum bisa dimanfaatkan secara maksimal, sehingga kawasan Aceh ataupun India masih tertinggal dalam berbagai bidang. Mestinya  Aceh dan India yang memiliki hubungan  segitiga dapat meningkatkan kapasitasnya sebagai bangsa yang maju di zaman silam sebanding dengan kawasan-kawasan lain di dunia maju sekarang ini.

Beberapa sumber sejarah yang menceritakan hubungan Aceh dengan India, dapat dilacak melalui peninggalan baik masa klasik khususnya Hindu-Budha, seperti benteng-benteng yang masih ada di Aceh dan kebiasaan-kebiasaan masyarakat yang masih mempraktekan budaya-budaya India. Untuk melihat kaitan antara Aceh dan India pada masa kejayaan Islam di Aceh dapat dilihat umpamanya pada peninggalan-peninggalan batu nisan yang masih tersisa.

Cara lain yang dapat dilakukan adalah merujuk pada kitab-kitab kuno, karya-karya penulis lokal yang menyebutkan hubungan Aceh dengan India, atau laporan-laporan penulis asing yang pernah menulis masalah tersebut. Selain itu juga dapat dilihat dari peran tokoh yang memiliki pertalian dengan India atau berpengaruh   di Kerajaan Aceh Darussalam abad ke-17 yang merupakan zaman kejayaannya.

 

Lintasan Hubungan Aceh-India

Kedatangan orang-orang India ke Aceh telah berlangsung semenjak terjadinya eksodus penduduk India ke beberapa kawasan Asia Tenggara, karena peristiwa yang melanda India waktu itu. Awal  migrasi orang-orang India ke Aceh dan wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara berlangsung semasa pemerintahan Dinasti Maharaja Asoka (272- 232 SM) yang bertindak sangat kejam.  Kemudian setelah penaklukkan-penaklukkan oleh Raja Iskandar Zulkarnain ke Asia tahun 334-326 SM, penduduk di kawasan Sungai Indus dan Sungai Gangga India berpindah mencari perlindungan ke wilayah-wilayah lain termasuk ke Aceh (Zainuddin, 1961:16).

Gelombang kehadiran orang-orang India ke Aceh berikutnya yang lebih besar adalah melalui dua jalur, yaitu  arah timur  dari Sriwijaya pada abad ke 9, masuk ke kawasan Peureulak, Langsa Aceh Timur, seterusnya ke wilayah-wilayah lain termasuk Aceh Utara. Kemudian dari arah barat laut, yaitu dari Cola (1023-1024) masuk ke wilayah Lamuri, lalu bertebaran ke wilayah-wilayah lainnya di Aceh (Gonggong,1990:13).

Walaupun ada peneliti tidak berani menyebutkan secara tegas adanya kerajaan yang bercorak Hindu-Budha di Aceh, namun dari beberapa penelitian yang dilakukan ,  pengaruh India di Aceh dalam berbagai bidang jelas kelihatan. Muhammad Said (1961) misalnya mengungkapkan secara antropologis ada unsur-unsur budaya Hindu yang melekat dalam masyarakat Aceh seperti pada cara-cara wanita berpakaian, adat istiadat dan bahasa Aceh. Pengaruh Hindu di Aceh sudah berakar dan secara berangsur angsur mengalami keruntuhan setelah masuknya agama Islam, kemudian  terjadi percampuran kebudayaan hingga Islam  mendominasi kehidupan  orang Aceh.

Proses Indianisasi di Aceh telah berlangsung  dalam masa yang cukup lama, kemudian setelah munculnya Islam terjadi penyesuaian dalam berbagai aktivitas masyarakat. Salah satu bukti  pengaruh Hindu di Aceh umpamanya dapat dilihat pada beberapa hasil kebudayaan Hindu yang diislamkan, seperti Masjid Indrapuri yang dibangun di atas tapak tempat ibadat Hindu sebelumnya. Mungkin ini pula yang dimaksudkan Julius Jacobs bahwa walaupun Islam sudah berkembang di Aceh, namun kerajaan Hindu tetap berdiri di sana (Ibrahim, 2014:74).

Adanya kerajaan Hindu di Aceh  dapat dilihat dari catatan perkembangan Kerajaan Indra Purba sebagai salah satu kerajaan Hindu di Aceh. Setelah bertahan dalam masa yang lama, kerajaan Indra Purba ini pada abad ke-7 diserang oleh Raja China Liang-Kie. Menurut  Abbas (1984), selain serangan dari China, wilayah Aceh terutama pusat-pusat kota sebagai benteng pertahanan Kerajaan Indra Purba juga pernah diserang oleh Rajendracola yang menyebabkan banyak  kerusakan (Said,1961:13).

Berbagai bukti peninggalan budaya India di Aceh menunjukkan bahwa proses Indianisasi berjalan secara damai, namun ketika eksistensi orang Aceh mulai diganggu dan keinginan memperluas koloni India secara paksa, Aceh melakukan perlawanan dengan berbagai cara. Bukti perlawanan  yang dilakukan Aceh misalnya perlawanan Kerajaan Lamuri di Aceh Besar menentang Kerajaan Cola India pada tahun 1030 M. Kejadian ini diabadikan dalam prasasti Tanjore di Nalanda India, yang menyebutkan bahwa  Kerajaan Lamuri merupakan sebuah kerajaan yang memiliki sistem pemerintahan yang baik, benteng pertahanan yang kokoh, dan rakyat sejahtera sehingga sangat sulit ditaklukkan.

Ketika Lamuri telah memasuki era baru dengan sistem pemerintahan Islam, diangkatlah Meurah Johan (Sultan Alaiddin Johan Syah) sebagai sultan pertama Kerajaan Aceh. Menurut Hasjmy (1983 ), peralihan Lamuri pra Islam ke Lamuri Islam atau Kerajaan Aceh terjadi pada hari Jum’at, bulan Ramadhan tahun 601 H (1205 M). Dalam perkembangannya pusat pemerintahan Lamuri berpindah dari Lamreh Krueng Raya ke Kampung Pande, Kota Banda Aceh. Perpindahan pusat kerajaan ini didasari atas beberapa sebab dan pertimbangan, sehingga Kampung Pande kemudian tumbuh dan berkembang pesat  menjadi pusat penyiaran Islam terkenal, dan banyak bangsa asing yang datang dengan berbagai kepentingan termasuk bangsa India.

Hubungan Aceh dengan dunia luar termasuk India lebih intensif adalah pada saat Aceh memasuki zaman keemasan pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 ). Pada waktu itu Aceh menjadi salah satu di antara lima  kerajaan Islam terbesar di dunia, termasuk Kerajaan Mughal di India. Pada masa ini hubungan Aceh India sangat akrab, baik hubungan diplomatik, perdagangan  ataupun hubungan kebudayaan.

Seorang ulama asal India, Nuruddin ar-Raniri menetap di Aceh masa Sultan Iskandar Muda, namun kemudian meninggalkan Aceh, dan kembali lagi pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Sani (1636-1641), hingga pemerintahan Sultanah Safiatuddin Syah (1641-1673). Di satu sisi Nuruddin ar-Raniry merupakan seorang ulama dan mendapat kepercayaan istana, namun di sisi lain pada masanya pula timbul pertentangan dengan ulama Hamzah Fansuri dan muridnya Syamsuddin as- Sumatrani yang dituduh sebagai kelompok wujudiyah. Pertentangan ini banyak memakan korban, kitab-kitab karya Hamzah Fansuri dibakar di halaman Masjid Raya Baiturrahman dan pengikut-pengikutnya menjadi sasaran pembunuhan. Konflik ini merupakan masa kelabu dalam sejarah pemikiran intelektual Aceh yang menjatuhkan fonis dan tidak bisa menyelesaikan perselisihan secara bijaksana. Peristiwa ini perlu diberi catatan tersendiri, karena gejala ke arah munculnya konflik yang sama mulai nampak di Aceh. Jika ulama sudah dibalut dengan kepentingan politik dan dijadikan alat atau corong melegalkan kekuasaan, maka akan didapat kemenangan bukan kebenaran. Luka lama dalam sejarah Aceh, pertentangan kaum ulama meninggalkan catatan buram menjadi peringatan yang amat berharga demi menapak masa depan yang lebih baik.

Pada masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda pelabuhan-pelabuhan Kerajaan Aceh ramai dilayari kapal-kapal dari dalam dan luar negeri. Perdagangan waktu itu merupakan salah satu yang sangat digalakkan dan menjadi sumber pendapatan utama kerajaan. Lada merupakan salah satu komoditas ekspor yang penting waktu itu. Sultan menetapkan semua hasil lada harus dijual melalui pelabuhan Bandar Aceh.

Kehadiran kapal asing  di pelabuhan Aceh menggambarkan kesibukan dan kemajuan perdagangan waktu itu. Di antara kapal-kapal asing yang paling banyak adalah kapal dari India. Tatkala Lancaster tiba dari Inggeris dalam tahun 1602 melihat 16 hingga 18 kapal di pelabuhan, ada dari Gujarat,  Benggala, Calicut dan ada dari Pegu (Castles,1978:9). Muatan utama kapal-kapal India adalah tekstil, selain itu  para pedagang India juga  membawa  kapas, besi, baja, madat atau opium, dan minyak mentega.

Kamajuan Kerajaan Aceh pada masa  Sultan Iskandar Muda abad ke-17 adalah tidak terlepasa dari kebijakan-kebijakan yang diterapkannya. Sektor perdagangan merupakan salah satu tulang punggung ekonomi kerajaan waktu itu. Aceh berhasil memperluas kekuasaan di pesisir pulau Sumatera serta Semenanjung Melayu, sehingga Aceh berhak atas monopoli perdagangan lada dengan harga yang ditentukan kerajaan. Politik ekonomi yang diterapkan ini membuat kemajuan, kemakmuran  dan kesejahteraan  bagi rakyat Aceh.

Hubungan yang dibina oleh Kerajaan Aceh dengan berbagai bangsa khususnya India menjadi pemicu kejayaan dan pengembangan Aceh waktu itu, namun dalam perkembangannya Aceh telah banyak mengalami perubahan. Bukti kejayaan Aceh dalam kaitannya dengan dunia luar yang ditinggalkan menjadi pelajaran dan nilai-nilai yang patut diteladani bagi mencapai kemajuan di masa kini dan yang akan datang.