Kisah Adat Laot dalam Sail Sabang | Aceh Tourism

Kisah Adat Laot dalam Sail Sabang

Langit cerah menyambut pagelaran Atraksi Budaya Adat Meulaot di Balohan, Sabang, Senin (04/12/17).  Abu Kari (60) dan kru KM Jasa Laot I lainnya siap menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Sail Sabang ini.

Mereka sebelumnya berlayar dari Pasiran, Kota Sabang, menuju Teluk Balohan. Khusus mengikuti prosesi adat laut. Pagi itu, langit cerah tak seperti hari-hari sebelumnya selama pagelaran Sail Sabang. Seirama dengan aura wajah Abu Kari, mantan pawang boat era 1960-an.

Dia menghabiskan hidupnya di lautan. Semenjak kecil di pesisir Kecamatan Batee, Kabupaten Pidie, hingga kemudian menetap di Pasiran, Sabang. Mengingat festival adat yang akan diikutinya, dia teringat tradisi tarek pukat yang mereka geluti pada masa 1960 – 1970an.

Pada masa itu, nelayan menggunakan sampan untuk menjaring pukat. Beberapa sampan didayung ke tengah laut. Kemudian melempar pukat dari atas sampan. Sementara setiap nelayan menggunakan teunkulok, kain khas yang dililitkan di kepala.

“Dulu lebih terasa daripada sekarang yang menggunakan boat mesin,” ujar Abu Kari kepada AcehTourism.info

Menurutnya, nelayan Aceh sejak dulu memang menerapkan nilai-nilai adat yang diwariskan orangtua mereka. Dia senang dengan diadakan kegiatan Atraksi Budaya Adat Meulaot dalam memeriahkan Sail Sabang. Setidaknya ada harapan teknik penangkapan ikan tradisional itu dipelajari oleh anak-cucu mereka.

Tarek Pukat

Tarek Pukat menggunakan boat dalam Atraksi Budaya Adat Meulaot. Photo: Riadi

Konek dengan yang dikatakan Abu Kari, Ketua Majlis Adat Aceh (MAA) Sabang Ramli Yus pun menyebutkan masyarakat nelayan Aceh menjalankan Adat Meulaot (adat melaut) secara turun-temurun.

Ada tata-cara tertentu yang harus diterapkan oleh setiap nelayan berdasarkan arahan seorang Panglima Laot, termasuk dalam menangkap ikan.

“Tarek Pukat Darat salah satu cara tangkap ikan tradisional. Ini peninggalan endatu untuk melestarikan laut,” jelasnya.

Adat Meulaot menegaskan pesisir laut tak boleh dieksploitasi siapapun sejauh jaring pukat dibentang dan sepanjang merambatnya daun tapak kuda. “Ini hak ulayat,” sebutnya.

Tapi sekarang, tambah Ramli, Adat Meulaot mulai terpinggirkan. Hal ini menyebabkan ekosistem laut terganggu, salah satu akibatnya nelayan harus berlayar lebih jauh untuk mendapatkan ikan.

“Acara ini cukup bagus untuk menceritakan kepada generasi muda kita tentang adat meulaot,” sebutnya.

Budaya Adat Meulaot memang patut dilestarikan. Pemerintah daerah harus memberikan dukungan lebih kepada masyarakat nelayan agar terus melestarikan laut.

Baca juga: Geliat Sail Sabang

Setidaknya demikian disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Reza Fahlevi dalam sambutannya diwakili Irmayani Kepala Bidang Sejarah dan Nilai Budaya.

“Adat Meulaot salah satu budaya Aceh yang masih dilestarikan. Kita harapkan atraksi seperti ini harus jadi event tahunan untuk menarik perhatian wisatawan ke Sabang di samping sebagai bentuk edukasi pelestarian alam,” kata Irmayani.

Dia memaparkan, sosok Panglima Laot berperan besar dalam melestarikan laut. Panglima Laot bertugas memimpin lembaga adat laut dan menegakkan hukum terhadap sengketa laut.

M Ali Rani Panglima Laot Sabang menerangkan, peran panglima laot sudah ada sejak lama namun kelembagaan adatnya baru dijalankan dalam hampir 20 tahun terakhir.

“Panglima Laot menjadi penengah antara pemerintah dengan masyarakat nelayan, terutama jika terjadi sengketa laut,” kata M Ali yang juga Panglima Laot Lhok Balohan itu.

Atraksi Budaya

Tari Tarek Pukat

Tari Tarek Pukat di acara Atraksi Budaya Adat Meulaot. Photo: Makmur Dimila

Atraksi Budaya Adat Meulaot dibuka secara resmi oleh Sekda Kota Sabang Sofyan Adam yang mewakili Walikota Sabang. Lokasinya sekitar 500 meter ke timur Pelabuhan Balohan. Sementara setiap pengunjung mengenakan teungkulok hitam yang telah disediakan penyelenggara.

Usai pembukaan, dilangsungkan prosesi adat dipimpin Ketua MAA Sabang, Ramli Yus. Dari panggung utama di tepi laut Gampong Balohan, dia membawa sesaji peusijuek (tepung tawar) menuju KM Jasa Laot I yang parkir di dermaga.

Ramli melakukan peusijuek kapal nelayan beserta kru sebelum berangkat menebar jala pukat. KM Jasa Laot I kemudian melempar jaring pukat darat di tengah teluk.

Saat bersamaan, Komunitas Seni Air menampilkan tari Tarek Pukat di daratan.

Media Hus dan sejumlah penyair lainnya membacakan syair sepanjang atraksi adat berlangsung.

Acara disela dengan Khanduri Laot yang ditandai dengan makan siang bersama. Masyarakat Balohan sendiri yang menyiapkan menu utama Kuah Beulangong.

“Ada saatnya para nelayan menggelar Khanduri Laot, dimana semua aktivitas melaut dihentikan. Khanduri ini sebagai wujud syukur atas hasil laut, dengan menyedekahkan harta dari hasil laut dan menyantuni yatim piatu,” ujar M Ali Rani, Panglima Laot Sabang.

Saat berlangsungnya Khanduri Laot, giliran trubador Muda Balia yang menghibur pengunjung dengan hikayat Aceh. Bahkan dia sempat berbalas syair dengan Media Hus.

Lomba Mancing

Lomba mancing diikuti 50 peserta dari Sabang. Photo: Makmur Dimila

Atraksi Budaya Adat Meulaot diakhiri dengan lomba pancing tradisional di tepi Teluk Balohan. Lomba ini diikuti puluhan peserta se-Sabang memperebutkan hadiah uang tunai.

Sail Sabang merupakan kegiatan Sail Indonesia ke-9 yang dilangsungkan di Pulau Weh, Aceh, selama 28 November – 5 Desember 2017. Acara yang dibuka secara resmi oleh Wakil Presiden Yusuf Kalla ini menghadirkan 30-an kegiatan terkait wisata bahari, seni, dan budaya.

Kegiatan Atraksi Budaya Adat Meulaot merupakan salah satu program dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh selama Sail Sabang yang dilaksanakan oleh event organizer lokal, Aceh Multivision.[]

By Makmur Dimila