Kuah Beulangong, Tradisi Makan Besar | Aceh Tourism

Kuah Beulangong, Tradisi Makan Besar

Kuah Beulangong Masakan Besar

Kuah Beulangong Masakan Besar | Ikbal Fanika

Dalam tradisi Aceh, makan besar selalu dimasak oleh kaum lelaki, seperti menyiapkan kuah beulangong. Beulangong, sebutan untuk kuali besi dengan ukuran besar, berdiameter sekitar satu meter. Tradisi kenduri atau pesta di Aceh dari dahulu dilakukan secara massal dan gotong royong.

Bunga lawang berbentuk bintang, potongan batang pisang berbentuk bulat, daun pandan, daun kari,  mengapung diantara bumbu dan daging dalam kuali besi. Kayu bakar mengapungkan asap dengan ratusan potongan daging dalam balutan bumbu kaya rempah.

Aroma bumbu menjalar ke penciuman. Asap membubul dari dapur beratap daun rumbia.. Tepatnya di sisi gerbang, 15 kuali besar atau beulangong menghantar aroma gurih. Memanggil pengunjung untuk merapat ke dapur yang berjejer di halaman rumah tradisional Aceh.

Sekitar 15 kelompok orang, laki-laki dan perempuan sedang mempersiapkan kuah bumbu daging untuk menjamu 1.500 pengunjung. Para perempuan menyiapkan bu kulah, nasi yang dibungkus daun pisang, berbentuk piramida.

Alunan zikir berhenti, masing-masing mencari lesehan kosong di depan idang yang masih tertutup tudung bersulam emas. Beberapa orang mengegelilingi idang, yaitu sebuah talam sedang yang menampung beberapa piring makanan lain, selain kuah beulangong.

Bu kulah dibuka, aroma nasi panas dan daun pisang bercampur menjadi aroma yang sangat khas. Saat menyendok kuah beulangong, aroma gurih memancing kelenjar liur keluar, membuat lidah tak sabar untuk menyantap kuah yang masih mengepul asap.

Pemandangan seperti ini hingga sekarang masih bisa dijumpai, baik di perkotaan maupun di pedesaan Provinsi Aceh. Dimana telah menjadi tradisi makan besar pada perayaan kanduri Maulid, Sunat Rasul (kitan), pesta perkawinan, dan treun blang (turun ke sawah).

Dalam hal ini, Pemerintah Kota Banda Aceh mempromosikan tradisi dalam bungkusan kuliner yang menjadi daya tarik dalam sebuah festival Kuah Beulangong. Kegiatan ini diadakan untuk menarik minat pengunjung yang datang ke Aceh untuk mencoba rasa masakan dan melihat langsung tradisi memasak dan menyantap beramai-ramai.

Kuliner yang tak kalah menarik dari masakan kari adalah kuah beulangong.  Kuah beulangong ini biasanya menjadi masakan wajib dalam sebuah syukuran, orang Aceh menyebutnya kenduri. Tradisi makan besar ini berasal dari Aceh Besar, kabupaten yang mengelilingi Kota Banda Aceh, sehingga Kota Banda Aceh juga menjajakan kuah beulangong menjadi kuliner andalan untuk wisatawan asing maupun lokal.

Bulan Maulid kelahiran nabi seperti ini, biasanya kuah beulangong menjadi menu wajib di kawasan Aceh Besar dan Banda Aceh. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, memanfaatkan museum Aceh menjadi lapak kenduri, agar pengunjung dapat merasakan aura kampung dalam festival tersebut.

“Selain menikmati masakan kuah beulangong, pengunjung dapat melihat langsung Museum Aceh dan melihat-lihat koleksi museum,” kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlefi.

Sembilan kuali dari Aceh Besar dan enam kuali dari Banda Aceh adalah peserta yang mewakili kecamatan. Reza mengatakan, festival kali ini masih skala kecil. Kedepan, ia akan mengadakan lebih banyak lagi peserta dari kecamatan lain untuk menjadi peserta festival.

“Festival ini bertujuan mempromosikan potensi lokal kepada wisatawan. Festival kuliner semacam ini akan menjadi even tahunan,” paparnya. Ia akan memprogramkan festival yang lebih besar, kemungkinan akan diadakan di Taman Ratu Safiatuddin.

Salah seorang wisatawan lokal asal Pulau Jawa, Wana Darma yang menghadiri festival Kuah Beulangong beberapa waktu lalu di Museum Aceh terkagum-kagum dengan tradisi makan besar tersebut.

Kata dia, aroma khas kuah beulangong sangat mengoda. “Aromanya gurih banget, rasa daging dan batang pisangnya enak, begitu saya rasa ternyata tidak ada santan. Padahal bumbunya gurih banget,” ujar Wana Darma kepada Aceh Tourism.

Blogger kuliner ini mencoba mengorek bumbu rahasia dari peserta yang masak di Festival Kuah Beulangong. Ia datang untuk melihat lansung festival kuliner tersebut. Sebelumnya Wana mengira, masakan dengan penampakan kuah seperti ini semuanya menggunakan santan. Menurutnya kuah beulangong, berbeda. Kelapa yang diparut adalah andalan dalam bumbu ini.

Tidak hanya Wana, serombongan tamu dari Malaysia ikut mencoba masakan dan terjun langsung ke dapur kuah beulangong. Mereka penasaran dengan kuah bumbu yang ternyata bukanlah kari, seperti yang mereka lihat dan aroma yang tercium.

Kuliner Malaysia juga memiliki kuah berbumbu yang disebut kari. Tamu jiran ini kagum dengan kebebasan orang Aceh dalam penyajian masakan. Tukang masak bebas memilih pasangan daging dalam kuah beulangong, seperti memadukan dengan nangka, pisang atau batang pisang.

Bukan hanya tradisi yang membedakan Aceh menjadi istimewa. Provinsi syariah ini juga, punya rahasia dalam cara mengaduk memasakan saat berada di dapur.

“Saat dimasak aduklah berlawanan dengan arah jarum jam. Seperti melakukan tawaf saat haji, itu yang membedakan kita (Aceh) dalam cara memasak. Jangan lupa bersalawat saat mengaduk,” ungkap Zulkhari, peserta dari Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.

Kemeriahan festival Kuah Beulangong terasa begitu akrab di antara tamu dan peserta. Duduk lesehan di atas tikar pandan, sambil bercengkerama dan menikmati alotnya daging sapi. Menyendok kuah hingga kandas dari tempatnya. Seakan tamu sedang menikmati sebuah kenduri keluarga dan lupa kalau mereka sedang berada disebuah festival kuliner Aceh. (Yanti Octiva)