Landmark Mini, Kado Aceh untuk Dunia | Aceh Tourism

Landmark Mini, Kado Aceh untuk Dunia

Landmark

Wacana Landmark Internasional Kado Aceh untuk Dunia | Ikbal Fanika

Tsunami Aceh yang merenggut ratusan ribu nyawa menyedot perhatian masyarakat dunia. Sejumlah relawan diturunkan untuk membantu rekonstruksi Aceh pasca tsunami. Sejumlah bantuan mengalir tanpa memandang suku, agama, bangsa, dan negara. Tidak sedikit pula tokoh dunia mengunjungi Aceh.

Mantan Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas Sabang, Zubir Sahim, Penulis Buku Tourism Marketing 3.0, Hermawan Kartawijaya, dan musisi Aceh yang kini duduk di kursi Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Rafli Kande, mengusulkan hal yang sama, yaitu Pemerintah Aceh sediakan lahan kepada negara-negara donor untuk membangun landmark mini mereka di Aceh, sebagai ungkapan “terima kasih dunia” yang telah membantu Aceh pascatsunami 2004.

Aceh Thanks The World Blang Padang

Aceh Thanks The World Blang Padang | Ikbal Fanika

“Aceh seharusnya memberi penghargaan kepada negara-negara yang telah membantu saat tsunami. Katakanlah membangun sebuah Taman Internasional. Kita butuh lahan misalnya tidak kurang dari 300 hektare. Dan kita berikan keleluasaan bagi mereka untuk membangun miniatur sendiri,” usul Zubir Sahim melalui Aceh Tourism beberapa waktu lalu di Banda Aceh.

Nantinya di dalam Taman Internasional itu, kata Zubir Sahim, ada bermacam miniatur landmark. Dia mencontohkan, misal negara Perancis membangun Menara Eiffel, Amerika membangun Liberty. Jadi, menurutnya, jika landmark mini ini dibangun, orang luar senang ke Aceh.

“Kita tidak perlu buat yang wah betul. Dan yang bangun pun bukan kita, negara-negara donor itu sendiri,” kata Zubir Sahim.

Sementara itu Hermawan Kartawijaya menambahkan, nanti landmark mini yang dibangun negara-negara yang ikut membantu Aceh menjadi tempat kunjungan wisata bagi turis asing maupun lokal yang ingin mengetahui tentang budaya negara-negara donor tersebut.

“Orang Aceh sendiri ketika datang ke Taman Internasional, bisa menghargai juga budaya asing. Itu ide menarik, jadi orang Aceh mengerti terima kasih. Orang Aceh sangat toleran. Nah, rahmatan lil ‘alamin, itu kunci tourism. Ini idenya menarik sekali, harus disampaikan ke Pemerintah Aceh dan Walikota Banda Aceh, sehingga bisa direalisasikan,” kata Hermawan Kartawijaya.

Sedangkan Rafli Kande mengatakan, sebelum peringatan satu dekade (10 tahun) tsunami Aceh digelar, di mana nantinya akan hadir tamu-tamu terhormat dari berbagai belahan negara di dunia yang pernah membantu Aceh, Pemerintah Aceh melalui Gubernur Aceh sudah mengumumkan di acara tersebut, telah disiapkan lahan untuk negara-negara donor membangun landmark mini mereka.

“Pemerintah Aceh siapkan lahan, nanti negara-negara donor yang membangun landmark mini masing-masing di lahan yang telah disediakan. Ini akan sangat menarik nantinya menjadi objek wisata baru, tidak perlu ke luar negeri untuk bisa berfoto di landmark mini negara-negara dunia dan mengetahui kebudayaan mereka, cukup datang ke Aceh,” kata Rafli.

Selain itu kata Rafli, lahan yang disediakan Pemerintah Aceh itu juga wujud ucapan terimakasih masyarakat Aceh kepada negara-negara asing yang telah membantu Aceh hingga menjadi Aceh seperti sekarang ini pasca diluluhlantakan oleh gempa bumi dan tsunami.

“Silakan pilih di mana lokasinya. Tentu lokasinya yang mudah dijangkau dan memiliki view yang manarik dari segi ketertarikan lain kunjungan wisata,” demikian kata Rafli Kande kepada Aceh Tourism beberapa waktu lalu di Banda Aceh.

Rakyat Aceh adalah bangsa yang tidak lupa mengucapkan terimakasih, hal ini diwujudkan dalam keramah-tamahan masyarakatnya yang kini lebih terbuka menerima orang luar atau orang asing yang berkunjung ke Aceh.

Begitupun dalam adat istiadatnya, masyarakat Aceh sejak dulu sangat memuliakan para tamu, apalagi jika tamu itu telah banyak membantu Aceh pascatsunami. “Peumulia jamee adat geutanyoe (memuliakan tamu adalah adat kita)”, kalimat ini pun telah di-trendsetter-kan  kembali oleh Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh saat menggaungkan program pariwisatanya beberapa waktu lalu. (Salman Varisi & Saniah LS)