Lelehan Air atau Akar Membulat dan Mengalir | Aceh Tourism

Lelehan Air atau Akar Membulat dan Mengalir

Said-Akram

Said Akram

Dia, Said Akram, salah satu dari pelukis kaligrafi na­sional yang tetap bertahan di tengah serbuan badai seni lukis kontemporer Indonesia. Pria yang dilahirkan di Pidie pada tahun 1967 ini, merupakan anak dari Said Ali Abdullah yang juga seorang pelukis kaligrafi senior di Aceh.

Untuk mengasah dan mengem­bangkan kemampuan melukis yang diwarisi oleh ayahnya, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Institut Seni Indonesia (ISI), Yogyakarta. Di kota ini, pria yang sudah mulai mengelar pameran karya lukisan kaligrafi sejak 1989, mulai banyak belajar dan men­genal kehidupan.

Setelah memperoleh banyak pengalaman dalam dunia seni lukis di Yogyakarta, ia kembali ke KotaBanda Aceh. Di kota inilah ia mela­hirkan banyak ide dan gagasan yang dituangkan dalam bentuk karya lukis visual, yang memunculkan ciri khas kaligrafinya yang berbeda dengan karya lukis lainnya di indonesia.

Di beberapa karyanya, Said Akram mengatakan, komposisi yang mengarah pada keseimbangan visual sengaja ia munculkan. Keseimbangan yang dimaksud yaitu keseimbangan sisi spritual yang coba mengingatkan manusia untuk menyikapi hidup se­laras dengan alam dan sang pencipta.

Misal seperti pada karyanya berjudul Akibat Rusaknya Hutan, Banjir (2007), anak laki-laki dari pasangan Said Ali Abdullah dan Cut­wan Khadijah ini mencoba berbicara kepada penikmat lukisan kaligrafi. Mengingatkan manusia perlunya menjaga keseimbangan alam, tidak merusaknya, dan apa akibatnya jika hutan dirusak

“Saya mencoba memberikan kandungan energi yang kuat dalam setiap karya lukisan kaligrafi saya. Se­hingga karya-karya yang saya kanvas­kan ini masuk ke dalam ruang-ruang imajiner yang tidak saja mengandung nilai-nilai spritual yang amat tinggi. Bagaimana kita menyingkapi hidup yang selaras dengan alam dan Sang Pencipta,” jelasnya.

Pelukis yang pernah menggelar pameran lukisan tunggal di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki, Jakarta pada 2004 ini memilih style lukisan­nya kaligrafi yang menonjolkan dan mengambil efek lelehan air yang membentuk seperti labu atau akar yang membulat dan mengalir. Dua stylenya ini kemudian memunculkan ciri khas dari lukisan kaligrafi yang dibuatnya.

“Ada tuntutan kreatifitas dan inovasi sehingga pada waktu itu saya mencoba mencari bentuk-bentuk yang baru sehingga saya bisa keluar dari kepungan pakem penulisan kaligrafi baku yang pernah ada sebelumnya. Akhirnya saya memu­tuskan untuk mengambil air yang meleleh dan akar yang membulat dan mengalir menjadi style lukisan saya,” paparnya.

Said Akram menjelaskan filosofi air yang lembut , penyejuk, dan pemberi keberkahan sesungguhnya memiliki kekuatan jika dikanvaskan ke dalam lukisan kaligrafi. Air juga bisa menjadi elemen yang saling merajut dan mengikat sehingga memiliki makna. Begitu juga dengan bentuk akar yang membulat.