Madu dan Kearifan Lokal Buloh Seuma | Aceh Tourism

Madu dan Kearifan Lokal Buloh Seuma

Madu buloh seuma

Madu Buloh Seuma

Madu Buloh Seuma

“Harta keluarga yang diwariskan secara turun temurun di sini bukanlah sawah atau toko. Satu keluarga hanya mewariskan pohon kepada anggota keluarganya untuk dipelihara dan begitu seterusnya,” ungkap Pawang Abdullah kepada Aceh Tourism beberapa waktu lalu.

Akhir Oktober lalu, Tim Aceh Tourism, didampingi Tim SAR Aceh Selatan tiba di wilayah yang terisolir, Buloh Seuma. Kecamatan yang berada dibentang wilayah Kabupaten Aceh Selatan Provinsi Aceh ini, terdapat tiga desa (gampong) dengan luas keseluruhannya sekitar 30.6000 hetare. Gampong Raket, Kuta Padang, dan Gampong Teungoh.

Menurut May Fendri, ketua Tim SAR yang menemani kami saat itu, Buloh Seuma dihuni sekitar 843 jiwa penduduk. Letak Buloh Seuma lebih kurang 40 Kilometer dari pusat kota Kecamatan Trumon. Kawasan wilayahnya berbatasan langsung dengan kawasan ekosistem Leuser.

Dua jam kami menelusuri jalan di antara hutan lebat dan rawa. Meski demikian rasa penat terbayar sudah, saat kami menatap panorama alamnya yang indah dan asri. Kami tiba pukul 22.00 WIB di Buloh Seuma. Para keuchik dan tokoh masyarakat setempat menyambut kami dengan ramah. Kami pun beristirahat dan bermalaman di rumah kepala desa setempat.

“Rasanya tak ada orang Aceh yang tak mengenal Buloh Seuma. Meski belum pernah menjejakkan kaki ke sini. Karena daerah ini terkenal sebagai daerah penghasil madu asli dengan kualitas super top,” kata salah seorang Tim Aceh Tourism, Misbah sambil melepas lelah.

Selama bermalam di rumah kepala desa, Tim Aceh Tourism mendapatkan berbagai informasi tentang produksi madu alami yang telah terkenal sampai ke nusantara. Dari beberapa keterangan yang kami terima, ternyata masyarakat di sini mewarisi budaya pengambilan madu yang dihasilkan dari lebah liar tanpa mengenyampingkan kearifan lokal mereka.Satu keluarga hanya mewariskan pohon kepada anggota keluarganya untuk dipelihara dan begitu seterusnya,” kata Pawang Abdullah kepada Tim Aceh Tourism.

Sambungnya, keberadaan sarang-sarang lebah liar ini sangat penting bagi masyarakat Buloh Seuma karena menjadi salah satu penopang ekonomi bagi keluarga mereka. Keberadaan sarang lebah yang menempel pada dahan-dahan besar pohon Rubek, tak ubahnya pabrik-pabrik madu yang berdiri ditengah hutan raya yang ‘tuan-tuannya’ adalah masyarakat Buloh Seuma.

Pohon-pohon Rubek yang kami temui di hutan Buloh Seuma menurut Pawang Abdullah berumur sekitar ratusan tahun. Diameternya dua kali atau bahkan empat kali pelukan orang dewasa. Sedangkan ketinggiannya kalau dihitung-hitung bisa mencapai puluhan meter.

menurutnya lagi“Hanya pohon-pohon Rubek tertentu yang dihinggapi lebah, masyarakat sini menyebutnya pohonTuah. Pohon yang dirawat dan dijaga dengan baik oleh masyarakat kami ini, ditempati 100 hingga 300 sarang, saat lebah mau bertelur,” cerita dia.

Pohon berusia ratusan tahun itu menurut cerita Pawang Abdullah telah diwarisi dari generasi ke generasi sebagai warisan dari endatu (nenek moyang) mereka. “Kami tidak saja menjaga pohon Tuah, tetapi juga menjaga pohon-pohon lainnya di sini. Karena pohon-pohon di sini tempat kami mencari rezeki,” sambung tetua yang biasanya memimpin pencari madu di saat pane raya madu tiba.

Keterangan Pawang Abdullah menjadi cerita penting tentanglocal wisdom  (kearifan lokal) warga Buloh Seuma dalam berinteraksi dengan alam. Hubungan simbiosisini telah membentuk tradisimasyarakat memelihara kondisi hutansesuai pengalaman hidupnya yang sederhana di luar isu-isu perambahan hutan yang semakin merebak di Aceh maupun di Indonesia.

Tradisi mengambil madu di Buloh Seuma terbilang unik. Sebelum madu diambil dan lebah minggat dari sarangnya para pawang lebah biasanya melantunkan syair-syair yang berisi sapaan terhadap sang lebah dengan suara yang berirama khas. Seiras tampak para pawang ini sedang berdendang di tengah rimba.

“Prosesi pengambilannya dilakukan dengan sebuah ritual yang kami sebut dengan Meudayang.ujar pawang Abdullah. Sebelum madu diambil,pawangharusmelantunkan syair-syair berisi sapaan terhadap lebah.Ini semacam permintaan izin dan laku sopan santun kita sesama makhluk Tuhan,” jelas pria perperawakan tinggi dan berkulit hitam manis ini kepada kami.

Syair Menyapa Lebah

Diakhir wawancara kami dengan pawang Abdullah, beliau melantunkan beberapa bait syair untuk menyapa sang madu, berikut beberapa cuplikan syairnya:

Assalamualaikom dayang hoo, Sijuru Bambang
Heee… Alaika Alaikum Salam…. Dayang Hooo
Hoo… Tuanlah Pawang sehingga jadi Assalamualaikom
Assalamualaikom hai dayang,oi si dayang kusihani
Dayang kuandi dayang hoooo ooo si bujang sani…

 

Setelah bermalam di Buloh Seuma, esok harinya Tim Aceh Tourism diajak oleh beberapa tokoh masyarakat dan pemuda Buloh Seuma melihat langsung lokasi sarang lebah yang bergantung di pohon Rubek atau bahasa latinnya Alstonia Scularis. Ternyata pohon warisan yang dimaksud adalah pohon Rubek yang dihinggapi lebah sebagai tempat bersarangnya lebah liar. “Sudah tradisi kami mewarisi sebatang pohon atau atau lebih dari generasi ke generasi dalam satu keturunan keluarga,” kata.salah seorang petua adat yang ikut bersama kami, menyambung pernyataannya Pawang Abdullah semalam

Dalam radius lebih kurang 5 meter, di sekeliling pohon Rubek ini kami melihat keadaan hutan yang bersih. Tidak ada rumput liar yang menjalar. Sementara hutan di luar radius pohon ‘bertuah’ ini tetap dipertahankan keberadaannya.Hal ini membuktikanbagaimanamasyarakat menjaga kondisi hutan tetap lestari.

Seorang pemuda yang ikut bersama kami, Rizwan (26), mempraktekkan bagaimana masyarakat disini mengambil madu. Ia memanjat pohon Tuah berdiameter sekitar dua pelukan orang dewasa. Dia menggunakan sebilah kayu bulat ukuran kecilsebagai tangga. Kayu itu dipacak berurutan pada batang, hingga lelaki muda itu pun sampai ke puncak pohon yang tingginya puluhan meter.

Kami terkagum-kagum melihat cara pria muda tersebut memanjat pohon. Apalagi saat turun lelaki berkulit putih manis tersebut menempel lubang bekas ia memancakkan kayu dengan tanah yang ada di sekitar pohon.

“Begitulah cara kami memelihara pohon ‘tuah’ ini. Kami tahu, pacakan alat untuk naik di sekujur batang telah membuat pohon ini sakit. Seperti tubuh manusia yang jika kulitnya terluka sedikit tentu akan meringis sakit. Tapi dengan menempelkan tanah di bekas lubang itu, kulit pohon ini akan cepat ‘sehat’ seperti semula,” kata salah seorang petua denganpenuh kearab-araban ini sambil menunjuk anak muda tadi yang terus menutup lubang bekas menancapkan kayu yang digunakanya untuk tangga naik hingga ke puncak pohon.

Memanen Madu

Saat musim panen madu tiba, hampir semuawarga Buloh Seuma, baikorang tua, anak muda bahkan anak-anak, ikut masuk ke hutan untuk memanen madu yang bersarang di pohon Tuah itu. Musim panen madu biasanyaketikamusim angin timur tiba.

Menurut kepala Desa di sini Zakaria (40) , semua masyarakat berjalan kaki berjam-jam memasuki hutan menuju sarang lebah yang bergantung di pohon Tuah. Malam harinya, secara berkelompok (terdiri dari enam orang hingga sepuluh orang), dipimpin oleh seorangpawang, prosesi pengambilan madu pun dimulai.

Syair-syair keramat pun dilantungkan dari mulut sang pawang. Suwa piandang, yaitu kumpulan batang pohon yang daunnya mirip dengan daun pohon sirih, pun dibakar.Pohon ini telah dijemur lalu diikat dan di bakar sebagai sumber bara api.

Suwa piandangditancap di sarang lebah dimana percikan bara api yang jatuh ke bawah diikuti lebah yang keluar dari sarang. Setelah lebah keluar sarang mengikuti bara api inilah beberapa orang yang menungu di bawah menaikkan tempat untuk menaruh madu (jalang) ke atas pohon melalui tali yang disiapkan. Maka madu pun segera diambil dari satu sarang ke sarang lain dengan cepat, hingga batas waktu sebelum fajar tiba.

Beginilah prosesi pengambilan madu yang tidak meninggalkan kearifan lokal masyarakat Buloh Seuma yang sudah diturunkan turun temurun dari endatu mereka, beratus-ratus tahun lalu yang masih terus dijaga. (Tim)