Kampung Pande yang terletak di Kecamatan Kuta Raja Kota Banda Aceh merupakan salah satu situs arkeologi ...

Melacak Jejak Situs Kampung Pande

 

peta lama

Situs Kampung Pande yang terletak di Kecamatan Kuta Raja Kota Banda Aceh merupakan salah satu situs arkeologi Islam yang tua di Aceh. Di situs Kampung Pande ini banyak dijumpai peninggalan bekas kerajaan Islam seperti batu nisan dengan berbagai jenis, keramik kuno, mata uang dan lain-lainnya.

Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa Kampung Pande merupakan sebuah kawasan strategis sebagai pusat aktivitas penyelenggaraan pemerintahan, perdagangan dan kegiatan lainnya dari Kerajaan Indra Purba yang pada awalnya berpusat di Lamuri (asal dari kata Lamreh), sebuah kampung di kawasan Krueng Raya Aceh Besar. Perpindahan pusat kerajaan dari Lamuri ke Kampung Pande memiliki latar belakang historis dan pertimbangan yang perlu kajian lebih mendalam.

 

Menurut catatan sejarah, Kerajaan Indra Purba telah muncul sekitar 2000 tahun sebelum Masehi. Dalam perkembangannya kerajaan tersebut telah mengalami pasang surutnya termasuk menghadapi serangan dari kerajaan-kerajaan lain seperti China, Sriwijaya, Chola, Portugis dan lain-lain (Hasjmy,1983:55). Beberapa penulis sejarah menyebutkan bahwa Lamuri berasal dari kata Lam Uriek, sebuah kawasan di daerah Kemukiman Lamkrak Aceh besar, namun dilihat dari segi geografis dan bukti-bukti arkeologis, lebih tepat jika Lamuri berasal dari kata Lamreh di sekitar Krueng Raya Aceh Besar.

NIsan kerajaan gampong pande

Pada awalnya Kerajaan Indra Purba (Lamuri) merupakan kerajaan Hindu, kemudian beralih menjadi kerajaan Islam yang dalam perkembangannya menempatkan Kampung Pande sebagai ibukota kerajaan. Hasjmy menyebutkan bahwa peralihan status Kerajaan Indra Purba Hindu menjadi Islam dilakukan pada upacara majelis peresmian Kerajaan Darussalam oleh Umat Islam Indra Purba pada hari Jum’at bulan Ramadhan 601 H (1205 M). Raja pertama yang diangkat waktu itu adalah Meurah Johan dengan gelar Sultan Alaiddin Johan Syah.

 

Dalam catatan yang lain menyebutkan bahwa informasi mengenai Lamuri masih diperdebatkan karena dijumpai perbedaan pendapat diantara pengkaji, baik mengenai tempat Lamuri maupun kapan kerajaan itu didirikan. Informasi terbaru yang diperoleh melalui situs http://history.melayuonline.com, menyebutkan bahwa kesultanan Lamuri telah muncul sejak pertengahan abad ke-9 masehi. Kemudian pada tahun 932 M kerajaan Lamuri ini dikuasai oleh kerajaan Sriwijaya, namun dalam menjalankan pemerintahannya sebagai sebuah kerajaan Islam yang berdaulat tetap memiliki hak otonominya secara luas. Hanya saja wajib melapur ke Sriwijaya apabila ada masalah dan membayar upeti jika diperlukan.

 

Surat kabar harian Analisa yang terbit 31 Desember 2008 memuat penyataan Edmund Edwards Mc.Kinnon, Arkeolog asal Inggeris yang sudah 30 tahun mengenal Aceh menyatakan bahwa di Aceh agama Islam sudah wujud sejak 100 tahun sebelum masuk ke Samudera Pasai Aceh Utara. Hal ini diperkuat dengan tulisan yang dimuat di salah satu surat kabar di Prancis pada tahun 1995 yang menyatakan bahwa Raja Sulaiman adalah penguasa Kerajaan Islam di Lamreh (Lamuri) Aceh Besar yang mangkat pada tahun 608 H (1211 M).

 

Menyingkap Kampung Pande sebagai satu kawasan pemukiman yang terbesar waktu itu, Mc.Kinnon membenarkan bahwa Kampung Pande di samping sebagai kawasan pemukiman, juga berkembang sebagai pusat perdagangan. Yang terpenting juga Kampung Pande adalah sebagai tempat pengendalian pemerintahan kerajaan yang berkembang waktu itu. Dengan demikian sultan juga tinggal dan dimakamkan di kawasan tersebut, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya makam-makam sultan dan kerabatnya di sana.

 

Kajian penulis tahun 2006-2007 telah menemukan jenis nisan khas yang bentuk dan ragamhiasnya menggambarkan tradisi Megalitik di Kampung Pande. Nisan ini diperkirakan merupakan nisan terawal yang digunakan sebelum abad ke -9 M. Berdasarkan temuan tersebut, maka Kampung Pande adalah lokasi terawal Islam bukan saja di Aceh, malah juga di Asia Tenggara. Ianya didukung oleh penemuan semua jenis nisan Aceh yang ada di seluruh Asia Tenggara ditemui di Kampung Pande. nisan ngampong pande

Sebagai ibukota kerajaan, Kampung Pande selain berfungsi sebagai pusat penyelenggaraan pemerintahan , juga berperan sebagai kota perdagangan dan tempat membuat berbagai kerajinan. Sesuai dengan namanya Kampung Pande yang berarti pandai merupakan salah satu kawasan kota yang didiami oleh orang pandai (tukang), seperti pandai batu, pandai besi, pandai emas dan lain-lain.

 

Kondisi terkini yang menghebohkan Kampung Pande adalah temuan mata uang emas dirham milik Kerajaan Aceh dan Kerajaan Turki pada 11 November 2013, kemudian diikuti dengan temuan pedang VOC. Temuan tersebut menunjukkan bahwa benar Kampung Pande sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan dunia. Sudah sewajarnyalah Kampung Pande harus mendapat perlindungan dari semua pihak demi mengungkap sejarah kebesaran Aceh sebagai sebuah kerajaan Islam yang besar yang banyak memberikan sumbangan kepada peradaban dan pemikiran dunia.