Memahami Jati Diri Orang Aceh Nab Bahany As | Aceh Tourism

Memahami Jati Diri Orang Aceh Nab Bahany As

Kalau ditanya bagaimana orang Aceh? Senouck Hurgronje Punya pendapat begini: Aceh adalah sebuah negeri yang sudah tua, rakyatnya keras, dan fanatic terhadap Islam. Pendapat Senouck ini bukan tidak beralasan. Selama bertahun-tahun penasehat pemerintah Hindia Belanda ini mengkaji masalah Aceh, akhirnya Senouck Hurgronje berkesimpulan bahwa masyarakat Aceh adalah masyarakat yang “heroiks”, mereka patut dibanggakan atas keberanian dan kegigihannya melawan kaum penjajah.

 

Heroisme masyarakat Aceh juga terlihat dalam hampir setiap gerak kesenian yang dimainkan. Dalam seni tradisional Seudati misalnya, kalau kita jeli memperhatikan gerak seni Seudati yang dimainkan orang Aceh ini, jelas terliihat gerakan tariannya menggambarkan sebuah karakter masyarakat Aceh yang sangat heroiks. Gerakan-gerakan yang dibangun dalam seni Seudati orang Aceh ini mirip seperti orang berperang gerilya. Kadang mereka mudur, lalu maju. Kemudian menghindar, tiba-tiba maju lagi seperti orang membuat serangan perang.

 

Dilihat dari sikap mental, menurut Prof. Abou Bakar Aceh (seoranng sejarawan), orang Aceh ini hampir mirip sifatnya dengan orang Badui di Jazirah Arab. Kesamaan ini menurut Abou Bakar, karena selan orang Aceh memiliki watak yang keras—yang sama kerasnya dengan kaum Badui di tanah Arab—tapi di balik ini orang Aceh juga memilki sifat yang sangat lembut. Artinya, orang Aceh lebih merasakan sesuatu dengan perasaannya.

 

Kelembutan sifat orang Aceh ini tercermin dalam setiap tutur kata yang lemah-lembut dan penuh seni. Sehingga jangan heran, kalau masyarakat Aceh memiliki kekayaan sastra yang sangat tinggi nilainya. Sama seperti tingginya nilai sastra Arab yang dikembangkan kaum Badui di Jazirah Arab.

 

Pada dasarnya, masyarakat Aceh memang memiliki kelembutan sifat yang terpuji. Meski berwatak keras, tapi memiliki sifat yang sangat ramah. Keramah-tamahan sifat orang Aceh ini selain tercermin dalam bahasanya (baca hikayat Aceh) juga terlihat dalam sifatnya keramahannya dalam memuliakan tamu. Orang Aceh sangat menghargai dan memuliakan setiap orang luar yang datang berkunjung ke derehanya.

 

Memuliakan tamu (pendatang) bagi orang Aceh adalah suatu kewajiban yang diyakini sebagai anjuran dari ajaran agama yang dianutnya, itu ajaran agama Islam. Karena ajaran Islam mengamanahkan, apa bila datang tamu pada saat kita sedang makan, dan makanan lain tidak tersedia. Maka makanan yang sedang dimakan itu harus dibagi kepada tamu yang datang. Anjuran agama ini sangat dipegang teguh oleh orang Aceh. Karenanya jangan heran, bila Anda datang ke kampung-kampung di Aceh, Anda pasti akan disungguhkan sesuatu makanan sebagai tanda mulia orang Aceh pada tamunya.

 

Selain itu, orang Aceh juga memiliki sifat toleransi sosial yang sangat tinggi. Hal ini tercermin dalam sifat tolong-menolong antar sesama. Baik dalam bentuk yang bersifat material, maupun dalam bentuk fisik (pikiran) dan ternaga. Sehingga bila ada musibah atau kemalangan yang dialami oleh seorang warga masyarakat di Aceh, maka warga lainnya datang beramai-beramai membatu warga yang terkena musiabah atau kemalangannya.

 

Yang menariknya lagi dari sifat orang Aceh adalah mereka sangat mudah memaafkan kesalahan orang lain, dan sangat mudah diajak berdamai dalam menyelesaikan setiap persoalan (konflik) yang terjadi, baik antar sesama warga maupun dengan orang lain. Hal ini dapat dilihat dalam budaya sayam yang dianut oleh orang Aceh.

 

Dalam budaya Sayam orang Aceh jelas sekali terlihat bagaimana sifat rasa pemaaf orang Aceh yang luar biasa terhadap kesalahan orang lain. Meskipun kesalahan orang yang dilakukan terhadapnya hingga membawa kehilangan nyawa. Namun bagi orang Aceh kesalahan orang tersebut masih bisa dimaafkan dengan cara damai melalui budaya Sayam yang dianutnya, dan setelah itu mereka tidak lagi menaruh dendam dan dengki terhadap kesalahan orang yang telah dimaafkan.

 

Sifat orang Aceh dapat juga menjadi sangat keras tergantung dengan kondisi Sifat itu memang terbukti dalah pengalaman sejarah Belanda di Aceh. Makin keras Belanda ingin menaklukan Aceh, makin keras pula orang Aceh melawannya. Hingga Belanda mencatat dalam sejarahnya, dari keseluruhan perang yang pernah mereka lakukan di Nusantara, perang yang peling besar dan yang paling sulit mereka hadapi adalah perang dengan rakyat Aceh. Begitulah watak dan sifat orang Aceh.