Memukau Yachter di Marina Lhok Weng | Aceh Tourism

Memukau Yachter di Marina Lhok Weng

REY_28771

Pariwisata Sabang semakin bergeliat dengan adanya Marina Lhok Weng untuk disinggahi kapal yacht.

Sepanjang pekan terakhir April 2016, masyarakat Pulau Weh dihibur oleh kehadiran yacht berbendara asing. Kapal-kapal itu mengapung di Teluk Sabang. Bisa dilihat dari Sabang Fair, Kota Bawah, Kota Atas, Pulau Klah, dan beberapa sudut kota lainnya.

Jejeran kapal layar wisata itu melukiskan pemandangan lain nan cantik ketika matahari berangsur tenggelam. Semburat jingga hari Rabu, dengan sunset yang merah saga, menghasilkan siluet tiang-tiang yacht di langit Kota Sabang.

Kamis pagi, jam 8.30, enam dari 19 yacht asing tersebut, meninggalkan kolam Pelabuhan CT1 BPKS di Teluk Sabang. Bukan untuk pulang. Tapi menempuh gelombang bulan April yang tenang menuju Dermaga Marina Lhok Weng, ke barat daya Pulau Weh.

Sepasang paramotor meraung-raung di udara, pun windsurfing yang merayap di permukaan laut Samudera Hindia; mendampingi lajuan yacht. Langit cukup cerah. Sambutan meriah pun segera menanti mereka.

Di halaman Dermaga Marina Lhok Weng, Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS), selaku penyelenggara Sabang Marine Festival 2016, menanti dengan segenap persiapan. Termasuk puluhan remaja yang berbalut pakaian adat Aceh yang siap mempersembahkan tarian daerah secara kolosal.

Marina Lhok Weng adalah pelabuhan mini yang dibangun 2015 oleh BPKS. Kepala Unit Manajemen Pelabuhan BPKS, Zulkarnaini, beberapa waktu lalu mengatakan, Dermaga Marina Lhok Weng itu dibuat khusus untuk bersandarnya yacht.

Dermaga itu berada di Teluk Lhok Weng yang sangat tenang, terlihat ketika Aceh Tourism menyambanginya untuk pertama kali pada medio Oktober tahun lalu.

Dari Pantai Teupin Layeue, Iboih, speedboat yang membawa kami sore itu hati-hati memasuki Teluk Lhok Weng.

Di bawah permukaan laut, dari tepian boat fiber, kelihatan terumbu karang hidup yang menjadi sarangnya ragam ikan hias, bahkan menjadi arena bermain penyu.

Permukaan teluk yang landai itu dipercantik dengan mengapungnya dermaga fiber (floating dock) yang menghubungkan ke daratan. Dermaga berletter ‘H’ itu otomotis menyesuaikan diri dengan debit air. Tak akan terpengaruh oleh naik-turunnya perairan teluk.

Belakangan, terumbu karang yang mendiami jalur masuk kapal ke Marina Lhok Weng dipindahkan ke lokasi lain, sehingga tidak merusak biota laut ketika dikunjungi boat maupun kapal yang mengangkut tamu.

Terbukti, enam yacht di SMF 2016 masuk melalui jalur khusus yang telah dipersiapkan pihak BPKS. Yacht merapat dan memasuki sela-sela dermaga serupa ranting kayu, dengan karakter khas garis-garis kuning. Penghuni yacht keluar dari dalam dan menaiki dermaga.

Segera, para penari mengatur formasi, memenuhi tubuh dermaga. Tarian kolosal dibuka dengan Tari Likok Pulo, disusul beberapa jenis tarian aceh lainnya yang cukup memukau turis mancanegara itu.

Sabang Marine Festival (SMF) 2016 memang digelar terutama untuk menarik minat turis asing dengan dibukanya Dermaga Marina Lhok Weng sebagai singgahan bagi yachter. Acara itu didukung oleh Kementarian Pariwisata RI, Dinas Kebudayaan Pariwisata Aceh, dan Disbudpar Sabang.

Ketua Panitia SMF II dari BPKS, Fauzi Daud, menyatakan, acara tahunan ini digulirkan guna menambah angka kunjungan turis mancanegara di Indonesia dan mengangkat Sabang sebagai destinasi wisata yacht.

Misi itu cukup sukses dengan hadirnya 19 kapal yacht yaitu Morning Star, Aku Ankka, EN Pointe, SY Shadowfax (AS), Swift, Storm, SY Manta, Bernacle C (Inggris), Thorfinn, ZOA, Dream Dancer (Australia), Kattum, La Louipiote (Perancis), Jenain, Calypso (Afrika Selatan), Cest Le Vent, SY Spailpin (Malaysia),  Mariposa (Jerman), dan Revenson.

Kepala Disbudpar Aceh, Reza Fahlevi, pun menginginkan SMF II sebagai corong memperkenalkan potensi bahari Sabang kepada masyarakat internasional, khususnya bagi para pelayar.“Juga mempromosikan Sabang sebagai destinasi wisata kapal yacht dengan Marina Lhok Weng sebagai salah satu destinasi wisata bahari,” sebutnya.

Namun, dia menekankan, pagelaran SMF yang kedua itu tak hanya berfokus pada kegiatan berbasis laut dan pelayar saja. Dirangkai juga denganatraksi menarik lainnya yang melibatkan masyarakat, komunitas, dan pelayar kapal yacht.

Rilis Disbudpar Aceh persis seperti terlihat di Dermaga Lhok Weng pagi itu. Satu jam berlalu, para tamu asing diboyong dengan boat kayu besar ke Pantai Teupin Layeue, Iboih, untuk melihat-lihat keindahan bawah laut Iboih dan makan siang. Sementara yacht dibiarkan mengapung di Teluk Lhok Weng, hingga mereka kembali dengan sensasi pelesiran Pulau Weh yang membara.

“Sabang sangat layak dikunjungi terutama untuk melihat keindahan alamnya. Kami akan mempromosikan Sabang ke komunitas yacht dunia setelah kami kembali ke negara asal kami,” sebutnakhoda Thorfinn, Dwayne Turpin, begitupun diakui nakhoda Aku Ankka, Glen Horne,

Isabella, nakhoda SY Manta juga cukup terkesan dengan partisipasinya di SMF 2016. Ia menilai itu event luar biasa bagi para yachter. Mereka puas menikmati serangkaian kegiatan yang bahkan melibatkan mereka dalam berbagai lomba. Ia sendiri terlihat cukup bersemangat mengikuti lomba lompat karung di hari ketiga festival.(Makmur Dimila)

 



Makmur Dimila

Lelaki yang hobi jalan-jalan dan suka nulis. Simak ceritanya di safariku.com