Menapak Jejak Orangutan di Suaq Belimbing | Aceh Tourism

Menapak Jejak Orangutan di Suaq Belimbing

orang_Hutan

Orang Hutan

Selain potensi wisata alam,spritual, seni dan budaya, sertakuliner, Kabupaten Aceh Selatan juga memiliki potensi objek wisata lainnya yaitu ekowisata. Kekayaan spesies langka yang ada di hutan pedalaman Suak Belimbing seperti orang utan (pongo abelii), menurut hasil penilitian dari peneliti orang utan di sini, merupakan habitat asli orang utan Sumatera.

 

Orang utan atau maweh (sebutan masyarakat sekitar untuk orangutan) atau dalam bahasa Aceh mawah, merupakan salah satu habitat yang tidak berkonflik dengan masyarakat. Jumlah pongo abeliidi kawasan ini di perkirakan sebanyak 250 sampai dengan300 ekor.


Tim jelajah Aceh Tourism tiba di Suak Belimbing pada Jumat (25/10) siang. Perjalanan darat yang ditempuh dari Kota Tapaktuan ke Suak Belimbing sekitar dua jam. Tim jelajah Aceh Tourism satu hari satu malam memasuki hutan belantara di Suak Belimbing dengan medan yang cukup berat.


Tidak jauh dari pondok yang sering digunakan sebagai penginapan bagi para peniliti orang utan, tim menyeberangi sungai yang sedang tenang airnya.Tak jauh dari sungai yang diseberangi, tim mulai memasuki pintu Taman Nasional Gunung Lauser (TNGL).


Seteleh menempuh hutan sekitar 2 Kilometer, tim melihat induk orang utan beserta anak yang sedang makan mangga. Mereka berpindah-pindah dari satu pohon ke pohon lainnya. Menurut pengelola Suaq Belimbing Camp Research, Mahmuddin, dia mengatakan bahwa populasi orang utan di Suaq Belimbing terpadat di Sumatera.


“Orang utan di sini hidupnya dengan cara berpindah-pindah dari satu sarang ke sarang lainnya.Jenis makanan buah-buahan seperti durian, nangka, leci, mangga, dan buah ara. Sisanya adalah pucuk daun muda, serangga, tanah, kulit pohon, dan terkadang orangutan memakan telur serta vertebrata kecil lainnya,” sebut Mahmuddin.


Lanjut dia, hewan yang DNA nya mirip DNA manusia inisuka melubangi bagian batang pepohonan yang berguna untuk menampung air hujan dan meminumnya dengan cara menghirup dari pergelangan tangannya. Orangutan di sini juga mengambil makanan yang berupa mineral dari dalam tanah, namun dalam jumlah yang sangat sedikit.


Disamping itu maweh di Suak Belimbing dan Sumatera pada umumnya, diketahui menggunakan potongan ranting untuk mengambil biji buah. Menurut peneliti orang utan, hal ini menunjukkan jenis orangutan Sumatera di sini memiliki tingkat intelegensi yang tinggi.


Dari data yang dipublikasikan oleh World Wildlife Fund (WWF), satwa ini memiliki ciri fisik kebalikan dari orangutan Borneo. Orangutan Sumatera mempunyai kantung pipi yang panjang.Pada orangutan jantan panjang tubuhnya sekitar 1,25 meter sampai 1,5 meter.


Berattubuh orangutan dewasa betina sekitar 30 hingga 50 Kilogram dan jantannya sekitar 50 hingga 90 Kilogram. Sedangkan bulu-bulu pada tubuhnya berwarna coklat kemerahan.


WWF juga mencatat sifat lain dari orang utan Sumatera. Umumnya setiap kelompok orang utan Sumatera terdiridari satu atau dua orangutan. Memiliki daya jelajah sekitar 2 hingga 10 Kilometer. Umumnya si jantan penyendiri, sedangkan betina sering di hutan bersama anaknya.
Menurut WWF, orangutan Sumatera betina mulai berproduksi pada usia 10-11 tahun, dengan rata-rata usia reproduksi sekitar 15 tahun.


Sementara pada usia 3,5 tahun, anak orangutan akan berasur-angsur memisahkan diri dari induknya, setelah sang induk melahirkan kembali.
Selain habita orangutan, di Suak Belimbing masih banyak terdapat spesies langka lainnya. Karena itulah wisatawan yang berkunjung ke Suang Belimbing tidak saja menjadikan tempat ini sebagai objek ekowisata, tetapi juga sebagai pusat penelitian dan ilmu pengetahuan untuk mengetahui spesies flora dan fauna yang langka hidup di sini secara langsung. (tim/dbs)