Menapak Jejak Sumbangsih Dunia untuk Aceh | Aceh Tourism

Menapak Jejak Sumbangsih Dunia untuk Aceh

Gerbang Menuju Kampung jackie chan

Gerbang Menuju Kampung jackie chan | Ikbal Fanika

Selain cerita pilu dan nelangsa, tsunami meninggalkan kisah tentang solidaritas dunia untuk Aceh. Jejaknya tertinggal di banyak tempat dengan wujud beragam. Dari Komplek Perumahan Persahabatan Indonesia-Tiongkok hingga lembaga pendidikan Politeknik Venezuela. Sumbangsih dunia untuk tanoh indatu.

Bencana dahsyat pada 26 Desember 2004 silam benar-benar membuat Aceh hancur dan lumpuh. Gempa yang disusul gelombang tsunami mengakibatkan sekira 120 jembatan vital ambruk, 3.000 kilometer jalan rusak parah dan hancur. Korban jiwa atau korban hilang diperkirakan tidak kurang dari 167 ribu, dan 500 ribu rakyat Aceh lainnya terpaksa mengungsi.

Duka Aceh menjadi duka dunia, bencana ini telah mengusik rasa kemanusiaan masyarakat dunia. Atas nama kemanusiaan pula, komunitas internasional dari beragam suku, bangsa, dan agama mengulurkan bantuan untuk menata kembali Aceh yang hancur diluluhlantakkan gempabumi dan tsunami.

Kampung Persahabatan Indonesia-Tiongkok hanya satu di antara bentuk solidaritas itu. Sumbangsih dunia lainnya tersebar di seluruh wilayah Aceh. Di Gampong Neuheun saja, misalnya, masih ada komplek perumahan sumbangan masyarakat Arab Saudi. Perumahan serupa juga ada di Ingin Jaya dan Lampuuk, masih di Aceh Besar. Bedanya, perumahan di Ingin Jaya hasil sumbangan masyarakat Kuwait dan komplek di Lampuuk sumbangan negara Turki.

Komplek perumahan lain dari negara beragam juga berdiri di banyak tempat lainnya. Di Jangeut, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, juga berdiri rumah bantuan dari Qatar Charity. Sementara rumah bantuan dari ADB dan Islamic Relief tersebar di wilayah Banda Aceh dan beragam wilayah Aceh lainnya.

Jejak sumbangsih dunia juga tertinggal dalam bentuk lembaga pendidikan. Salah satunya adalah Politeknik Venezuela-Indonesia (Poliven). Terletak di Desa Suruy, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.

Perguruan tinggi ini diresmikan pada 12 Agustus 2009. Peresmian dilakukan langsung oleh Menteri Luar Negeri Indonesia saat itu, Hasan Wirajuda, Wakil Menteri Pendidikan Venezuela Tibisay Cruz Hung Rico, dan Gubernur Aceh Irwandi Yusuf.

Dalam sambutannya, Hasan Wirajuda kala itu menyebut hadirnya Poliven merupakan bentuk keberhasilan kerjasama internasional dalam melakukan rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh pascatsunami. Menurutnya, pembangunan fasilitas pendidikan ini merupakan bagian penting dari pembangunan Aceh setelah remuk dihantam bencana.

“Kita berterima kasih kepada masyarakat internasional atas bantuan mereka membangun Aceh kembali pascatsunami,” kata Wirajuda sebagaimana dikutip dari website resmi Koordinasi Penyelesaian dan Keberlanjutan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias.

Bendera dan Plakat Thank You

Berbentuk seperti kepala bahtera, 53 prasasti itu tertanam di sepanjang jogging track Lapangan Blang Padang, di Pusat Kota Banda Aceh. Di masing-masing prasasti, terukir bendera serta nama negara yang mengulurkan tangan menata kembali Aceh yang hancur dihamuk gempa dan gelombang tsunami. Ucapan “terima kasih” dan “damai” dibubuhkan dalam masing-masing bahasa.

Mesjid Oman | Ikbal Fanika

Mesjid Oman | Ikbal Fanika

Itulah Plakat Thank You and Peace yang menjadi bagian dari Monumen Aceh Thanks The World yang juga berada di lapangan yang sama. Monumen ini dibangun sebagai bentuk ungkapan syukur atas sumbangsih masyarakat dunia yang telah membantu menata kembali kehidupan masyarakat Aceh setelah bencana mahadahsyat itu. Lima puluh tiga plakat mewakili masing-masing ungkapan terima kasih kepada masing-masing negara donor.

Pun ucapan terima kasih kepada negara donor terpampang di Museum Tsunami Aceh yang tak jauh dari Lapangan Blang Padang. Ada sekitar 53 bendera yang bertengger dan berjejer di atas langit-langit bangunan Museum Tsunami Aceh. Jejak sumbangsih negara donor membangun dan memulihkan “luka Aceh” ini akan terus ada, sebagai ungkapan dan ucapan terima kasih dari rakyat Aceh.

Kini, satu dasawarsa telah berlalu sejak bencana itu melanda. Aceh telah bersalin rupa. Fasilitas-fasilitas yang hancur telah dibangun kembali, bahkan jauh lebih lengkap dan mengkilap dari sebelumnya.

Kehidupan kembali berangsur normal dan terus membaik seiring waktu. Sementara lembaga dan program donor telah usai dan kembali ke negara masing-masing, jejaknya masih membekas jelas di tanoh indatu. Mereka telah pergi dan menjadi syuhada diikhlaskan. Kini tinggal, akan terus melanjutkan peradaban untuk generasi selanjutnya. Tapi riwayat persahabatan Aceh dan negara-negara donor itu tetap tinggal dan abadi.(Rahmat Taufik)