Mengenal Karakter Masyarakat Aceh | Aceh Tourism

Mengenal Karakter Masyarakat Aceh

Kupiah Meukeutop

Kupiah Meukeutop

Lembut dan penuh kasih sayang adalah sifat masyarakat Aceh sesungguhnya. Kalau pun terdapat stigma yang beredar di daerah luar, orang Aceh punya sifat dasar keras kepala dan suka memberontak. Ini bukanlah kemutlakan sifat ureueng Acehsecara keseluruhan.

Disebut bukan sifat mutlak orang Aceh karena biasanya sifat ini timbul kemudian hari karena suatu sebab. Semisal dikhianati, dicerca, dimaki, ditipu, dan sebagainya. Hal ini dengan jelas terungkap dalam rangkuman hadih maja. “Surôt lhèe langkah meureundah diri, mangat jituri nyang bijaksana”. (Mundur tiga langkah merendah diri, agar mereka bisa mengenali arti bijaksana).

Dua karakter yang paling menonjol dari masyarakat Aceh yaitu sikap militansi dan loyal. Hal ini bisa dibaca melalui syair do da idi. Senandung menidurkan bayi yang mengajarkan dan mengajak sang bayi agar setelah besar nanti tidak takut ke medan perang untuk berjuang membela bangsa.

Selain sikap militansi, loyalitas bagi orang Aceh adalah sebuah nilai dengan harga mahal. Hal iniagar membuat orang Aceh menjadi loyal. Seseorang haruslah mampu menunjukkan diri jujur dan dapat dipercaya. Tidak berkhianat ketika diberikan kepercayaan padanya.

Untuk ini sebuah hadih maja mengungkapkan,“Ureueng Aceh nyoe hate hana teupeh, boh kreh jeuet ta raba. Meunyoe hate ka teupeh, bu leubeh han dipeutaba”. (Orang Aceh kalau hatinya tidak tersingung, kehormatannya pun bisa disentuh. Kalau hatinya sempat tersingung nasi berlebihan pun tidak akan ditawarkan).

Lima watak orang Aceh yang menonjol adalah sebagai berikut:

Militan

Artinya memiliki semangat juang yang tinggi. Bukan hanya dalam memperjuangkan makna hidup tetapi juga dalam mempertahankan harga diri atau eksistensinya. Militansi Aceh adalah militansi dalam makna mempertahankan kebenaran yang diyakini masyarakatnya.

Reaktif

Artinya sebagai sebuah sikap awas atas harga diri yang keberadaannya dipertaruhkan dalam konstelasi sosial budaya. Orang Aceh sangat peka terhadap situasi sosial di sekitarnya. Orang Aceh tidak suka diusik, sebab jika tersinggung dan menanggung malu reaksi yang timbul adalah akan dibenci dan bahkan menimbulkan dendam. Hingga orang Belanda pada masa perang kolonial melebeli orang Aceh sebagai ‘Aceh Pungo’.

Konsisten

Hal ini tampak dalam sikap dan pendirian yang tidak plin plan, tegas, taat. Apalagi jika berkaitan dengan harga diri dan kebenaran. Sebagai representasi dari sifat ini terungkap dalam idiom masyarakat Aceh ‘meunyoe ka bak u, han mungken bak pineung’ (Jika sudah pohon kelapa, tidak mungkin pohon pinang). Konsistensi orang Aceh terlihat dalam patriotisme melawan penjajah, sejak zaman kerajaan, perang kolinialis, sampai pada zaman kemerdekaan.

Optimis

Tampak dalam melakukan suatu pekerjaan tertentu. Orang Aceh beranggapan bahwa setiap pekerjaan yang kelihatan sulit dan berat harus dicoba dan dilalui. Perang terlama melawan penjajah Belanda dilakoni hingga Belanda benar-benar harus angkat kaki dari Aceh. Walau pun berhadapan dengan kecanggihan mesin perang, masyarakat Aceh tetap optimis dengan modal militansi.

Loyal

Ini amat berkaitan dengan kepercayaan. Jika seseorang, lebih-lebih pemimpin, menghargai, mempercayai, tidak menipu, tidak mencurigai orang Aceh, mereka akan membaktikan diri sepenuhnya kepada sang pemimpin.

Kendati tidak semua hadih maja dapat berlaku secara harfiah di segala zaman, nilai filosofis di dalamnya tetap menggambarkan tipologi masyarakat Aceh secara keseluruhan. Filosofis yang diembanhadih maja tersebut masih terlihat dalam masyarakat Aceh hingga saat ini.

(Sumber: Memahami Orang Aceh, Karangan Dr. Mohd. Harun M.Pd)