Mengintip Perajin Rencong di Desa Baet Mesjid | Aceh Tourism

Mengintip Perajin Rencong di Desa Baet Mesjid

Perajin-Rencong

Peng Rajin Rencong

Tidak afdol rasanya jika bertandang ke suatu daerah tanpa membawa cenderamata atau oleh-oleh khas daerah tersebut. Biasanya barang yang menjadi buah tangan memiliki nilai budaya dan sejarah bagi suatu daerah.

 

Nah, jika  Anda melancong ke provinsi terujung di Pulau Sumatera, Aceh, maka Anda akan banyak menemui kios-kios penjual souvenir di daerah tujuan wisatanya. Antaranya, Kota Takengon (Aceh Tengah), Pidie Jaya (Pijay), Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Kota Sabang, dan Aceh Singkil. Mulai dari rencong, bros, tas tangan, dompet, kupiah, kain songket, hingga kain batik.

 

Namun jika Anda penasaran dan ingin tahu lebih dekat lagi proses pembuatannya, maka jika bertandang ke Kota Banda Aceh sebaiknya Anda menyempatkan diri mengunjungi Desa Baet Mesjid, Kecamatan Sibreh, Aceh Besar. Jaraknya tidak terlalu jauh sekitar 22 Kilometer atau setengah melalui jalan darat dari Kota Banda Aceh.

 

Di perjalanan saat menuju Desa Baet Mesjid, Anda akan menikmati suasana perkampungan yang asri. Sepanjang memasuki desa tersebut, terlihat persawahan yang membentang di kaki Bukit Barisan.

 

Di Desa Baet Mesjid, Anda akan menemui para perajin rencong yang umumnya digeluti para kaum adam ini. Mereka memandai besi secara turun temurun hingga menjadi rencong.

 

Seperti yang dilakoni, Dani salah seorang pengrajin rencong yang telah bergelut sejak sepuluh tahun lalu. Pria berusia 28 tahun ini sejak tamat SMA telah mempelajari pembuatan rencong dari orang tuanya. Kini Ia memiliki langganan sendiri yang datang memesan rencong dari berbagai toko souvenir di Kota Banda Aceh.

 

“Sekitar 100 orang laki-laki di sini berprofesi sebagai pembuat rencong,” kata Dani beberapa waktu lalu kepada media ini disela-sela kesibukannya membuat senjata tradisional Aceh ini.

 

Menurut Dani, menjadi pengrajin rencong memang profesi tetap para lelaki di tiga desa tersebut. Namun mereka masih meluangkan waktu untuk menggarap sawah seperti biasanya.

 

Dia mengaku dalam sehari, rata-rata pengrajin dapat menyelesaikan dua buah rencong. Desa ini juga memiliki tempat untuk mencetak sendiri mata rencong dari kuningan. Kemudian, barulah dipasang gagang dan sarung yang terbuat dari tanduk kerbau maupun sapi.

 

Desa Baet Lampuot dan desa Baet Meusagoe, dua desa tetangga Desa Baet Mesjid  menjadi desa pembuat benda pusaka ini. Kaum lelaki di sini terus mempertahankan dan melestarikan senjata yang memiliki nilai budaya dari peninggalan nenek moyang mereka.

 

Ketiga desa ini juga sering kedatangan wisatawan yang ingin melihat langsung proses pembuatannya. Pengunjung tidak saja bisa melihat dari awal hingga akhir proses pembuatan rencong. Tetapi mereka juga mendapatkan senjata tradisional Aceh berbentuk huruf  L berukiran “Basmallah” (panjang 10 Cm hingga 50 Cm) dari pengrajin dengan harga lebih murah dari toko souvenir.

 

Dari amatan media ini, pada setiap rumah pengrajin terdapat tempat khusus untuk mereka bekerja. Bangunan tanpa dinding berukuran 3×4 Meter itu terbuat dari beton. “Tempat ini dibangun oleh BRR dulu,” ungkap Dani.

 

Rencong bagi masyarakat Aceh, memiliki nilai budaya dan sejarah yang tinggi. Sehingga senjata tradisional ureung Aceh (orang Aceh) yang biasa dipakai para bangsawan, panglima  perang, saat melawan penjajah kini sudah bisa Anda dapatkan sebagai souvenir untuk dibagikan kepada kolega, kerabat, sahabat, dan keluarga.

 

Alat perang masa kolonial  ini dalam bahasa Acehnya disebut reuncong. Reuncong merupakan lambang keperkasaan atau keberanian para pejuang Aceh pada masa penjajahan melawan tentara Portugis, Jepang, dan maupun Belanda.  Dengan semangat perjuangan, rencong mulai menjadi warisan budaya dan kini diminati sebagai cenderamata.  (Yanti)