Mengungkap Aceh Yang Sebenarnya | Aceh Tourism

Mengungkap Aceh Yang Sebenarnya

Aceh menjadi tuan rumah Pasar Wisata Indonesia atau Tourism Indonesia Mart & Expo (TIME) ke-20. Even tahunan ini berlangsung selama empat hari, 23-26 Oktober 2014, di Hotel Hermes Palace, Banda Aceh. Acara yang digelar oleh Masyarakat Pariwisata Indonesia ini dihadiri 60 pembeli (buyer) dari 18 negara dan 60 penjual (seller) dari seluruh provinsi di Indonesia.


 

TAZBIR Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.

TAZBIR
Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri
Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif
(Kemenparekraf) RI.

Seluruh peserta menempati 36 stand di area pameran, dengan harapan dapat meningkatkan citra Indonesia dan khususnya Aceh ke masyarakat internasional di samping mempromosikan industri pariwisata Indonesia di pasar dunia. Di sela-sela event ini, Tim Aceh Tourism yang terdiri atas Salman Varisi, Makmur Dimila, dan Ikbal Fanika, me­wawancarai Tazbir, SH. M. Hum.

Tazbir adalah mantan Kepala Dinas Pariwisata DIY Yogyakarta (2007-2013). Dia dilantik sebagai Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri pada Direktorat Jenderal Pemasaran Pariwisata Kemenparekraf RI, Januari 2014. Ia kelahiran Lhokseumawe, 1957, menempuh pendidikan SMA dan kuliah di Yogyakarta sebelum memulai karir di Departemen Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi (Depar­postel) Yogyakarta tahun 1986. Berikut petikan wawan­cara dengannya, terkait promosi pariwisata Aceh :

Kenapa TIME 2014 digelar di Aceh?

Pertama, ini sebuah pilihan yang tepat, karena respons dari Pemerintah Daerah juga bagus. Peserta pun mer­espons dengan baik. Kita lihat bahwa ada buyer dari 18 negara. Artinya mereka berkeinginan datang dan melihat Aceh. Ini menguntungkan bagi kita (Aceh_red).

Sekarang banyak sekali komentar-komentar bahwa mereka melihat kenyataan di Aceh tidak seperti yang mereka persepsikan sebelum ke Aceh. Bahwa Aceh itu memang cukup bagus wisatanya dan nyaman untuk dikun­ jungi. Dan ini sangat besar dampaknya kepada promosi pariwisata Aceh.

Kedua, dalam sambutan pembukaan TIME, Gubernur Aceh Zaini Abdullah menyampaikan bahwa pariwisata sudah diyakini menjadi penggerak ekonomi. Bahkan jika dikaitkan dengan syariat islam sekalipun. Syariat islam tidak pernah dipertentangkan dengan pariwisata. Di negara-negara islam seperti Timur Tengah, pariwisatanya jalan, sesuai dengan adat yang berlaku di negara tersebut.

Ketiga, kita berharap Pemerintah Aceh dan pemer­itahan kabupaten/kota ke depannya lebih serius dalam menyambut tamu. Memang, ada daerah-daerah yang sudah sangat familiar dengan pariwisata seperti Sabang yang terbiasa menerima tamu dari luar. Ini bisa menjadi modal Aceh untuk membentuk image pariwisata Aceh yang nyaman dan aman serta masyarakatnya bersikap ramah kepada tamu.

Sebetulnya, sudah ada peninggalan dari leluhur kita: mulia jamee ranup lampuan, mulia rakan mameh suara. Artinya apa? Orang Aceh ialah orang yang menghormati tamu karena itu salah satu esensi dari ajaran agama. Dan hal ini juga menjadi bagian dari budaya kita.

Mulia jamee ranup lampuan, artinya menghormati tamu sampai tamu disongsong dengan pemberian sirih. Mulia rakan mameh suara. Ini bagian dari hospitality (keramah-tamahan), suara yang lembut. Itu memang sudah jadi modal dasar untuk mengembangkan pariwisata Aceh.

Apa yang paling diharapkan dari event TIME 2014?

Tentu image tentang Aceh. Kita ingin memberikan pemahaman lebih baik tentang Aceh. Selama acara, kami melihat para peserta tidak ada yang takut. Tidak ada yang ingin pulang duluan. Semua menikmati dan antusiasnya tinggi. Respons mereka tentang Aceh sangat bagus.

Kita tidak mau selama ini Aceh sangat tidak ada infor­masi. Coba pergi ke Bali, di sana banyak sekali orang jual paket wisata. Saya yakin tidak ada yang jual paket wisata ke Aceh. Paling dekat di Sumatera Utara, Danau Toba. Jadi kita mesti mulai aktif. Strategi kita yaitu jualan paket di Medan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi terdekat.

Paling penting dari event ini adalah bagaimana supaya orang tahu kondisi Aceh sebenarnya. Inilah Aceh sebe­narnya. Aceh sebenarnya itu apa? Aceh yang makannya enak, Aceh yang aman, Aceh yang jalannya cantik sekali, lebar dan mulus.

Jadi selama ini orang luar tahu, Aceh yang tidak sebe­narnya?

Iya, Aceh tidak sebenarnya. Sekarang kita kampanye­kan Aceh sebenarnya, Aceh yang kondusif, Aceh yang ramah, Aceh yang makanannya enak, Aceh yang tariannya keren banget, Aceh yang pantainya masih perawan, Aceh yang pasir putihnya begitu cantik, ya kan. Aceh yang akses penerbangannya sudah mulai bagus, ya kan. Aceh yang underwaternya cantik, atau Aceh yang gioknya tiga terbaik di Indonesia.

Selama ini terlalu banyak misunderstanding (kesala­hpahaman) terhadap Aceh. Kenapa salah paham? Karena informasi. Nah, biasanya koran kalau mau tulis soal konflik Aceh, dia akan tulis sesuatu yang punya nilai jual tapi tidak memikirkan efek buruknya. Begitu sudah aman, media itu tidak menulisnya lagi. Ada, paling beritanya kecil. Sebe­narnya tidak fair juga. Padahal persepsi orang selama ini sudah terlanjur rusak.

Persepsi itu salah satu dampak dari pemberitaan media. Media bisa menguntungkan bisa juga merugikan. Makanya, Aceh harus memperbanyak berita positif. Jadi kalau ada satu berita negatif, kita tutupi dengan 10-15 berita positif.

Berita positif salah satunya tentang event. Makanya minggu lalu kita bikin Festival Jazz di Sabang, sehingga masuk koran. Dan orang tahu, o, ada jazz, keramaian, dan semua orang aman-aman saja. Jadi perlu juga strategi pemerintah untuk memasukkan informasi yang positif tentang Aceh kepada media-media secara rutin, apalagi media nasional.

Pemberitaan positif inilah yang selama ini tidak ada. Aceh terlalu lama memasok informasi tentang kerusuhan, konflik, bencana, dan sebagainya. Padahal sekarang sudah aman, nyaman, dan recovery dari segi infrastruktur sudah bagus. Tetapi recovery imagenya belum. Ini yang susah untuk meyakinkan orang mau datang lagi ke Aceh atau ingin ke Aceh.

Kalau Yang Maha Kuasa sudah memberikan potensi yang besar tapi rakyatnya masih miskin, siapa yang salah? Ya, salah kita sendiri, karena tidak mau garap.

Saya berpikir bahwa Aceh nanti akan menjadi seperti Cina waktu dulu tertutup, masa Cina bernama Negara Tirai Bambu atau komunis. Begitu tirainya dibuka, semua orang ke Cina, ingin tahu kayak apa sih tirai bambu yang dulu terlarang. Aceh juga begitu, kayak apa sih Aceh setelah aman?

Informasi yang pasti merupakan bagian dari pemasa­ran, itu perlu dilakukan dengan serius. Harus ada sinergi yang baik antara pemerintah dan pelaku industri pari­wisata. Promosinya pun harus ditingkatkan, baik di dalam maupun luar negeri.

Bagaimana Anda melihat promosi pariwisata oleh Pemerintah Aceh saat ini?

Memang kita itu masih ada persoalan bahwa belum semua pemerintahan itu sama langkah dan pemahaman­nya, sehingga betul-betul terbangun satu sinergi. Nah, membangun sinergi itu sangat ditentukan oleh komitmen pimpinan. Walikotanya, bupatinya, gubernurnya, komit tidak? Kalau pimpinan komit, pasti ke bawahnya gampang. Contoh Sabang. Walikotanya bilang, semua dinas dan instansi harus mendukung pariwisata. Kalau Dinas Pari­ wisata bilang di sana ada jalan atau jembatan rusak, Dinas Pekerjaan Umum langsung bergerak.

Pariwisata berhasil kalau semua dinas atau instansi sesuai dengan tugas dan tanggungjawabnya, mendukung Tiga Rumah Besar Program Pariwisata berikut.

Pertama, mempersiapkan destinasi. Mempersiapkan semua fasilitas, infrastruktur, objek wisata, investasi di pariwisata, apapun yang menjadi potensi di situ.

Kedua, memasarkan dan promosi. Bagaimana mempro­mosikan, bikin event, dan bagaimana membuat kegiatan yang berkelanjutan. Dalam hal ini, pariwisata harus punya kedekatan dengan media. Media massa adalah ujung tombak dan partner strategis bagi pariwisata. Kalau tidak dekat dengan media, tidak bisa jualan. Promosi tidak mesti keluar daerah atau luar negeri, tapi juga harus diimbangi apa yang dilakukan dalam daerah.

Ketiga, standardisasi. Standar hotel, restoran, dan fasil­itas pendukung pariwisata lainnya harus sesuai dengan yang berlaku secara internasional. Kalau Aceh ingin punya hotel bintang 4, maka harus sama dengan hotel bintang 4 yang ada di Bali. Tidak bisa misalnya, hotel berbintang dengan standarnya ada kolam renang kita bikin tidak ada kolam renangnya. Di samping itu, sumber daya manusia harus berkompeten. Pemda Aceh harus duduk bersama pelaku industri pariwisata, untuk mempersiapkan orang-orang yang kompoten mengurus pariwisata Aceh.

Ketiga hal itu apa sudah terlaksana di TIME 2014?

Semua sudah jalan sebetulnya. Tapi harus dioptimal­kan lagi. Sebetulnya TIME 2014 ini kan bukan spesifik jual Aceh, tapi kita jual Indonesia: Wonderful Indonesia. Ini adalah pasar wisata milik Indonesia, nasional, tapi kita tempatkan di Aceh supaya orang bisa lihat produk wisata Aceh yang selama ini jarang dijual.

Dengan segala potensi yang ada, konsep pariwisata seperti apa yang harus diterapkan di Aceh?

Aceh pasti tak bisa lepas lagi dari keindahan alam, keunikan seni dan budaya, kuliner yang khas juga industri kreatifnya.Tapi kita harus memberi batas, memberi koridor kepada wisatawan untuk mengkonsumsi produk wisata kita sesuai dengan budaya lokal, tentu budaya yang islami yang sudah kita miliki. Jadi tidak pernah pariwisata itu untuk merusak. Justru kita harus memberi batasan. Kita sendiri yang memfilter.

Aceh konsep pariwisatanya bagaimana? Mau ambil konsep siapa tidak masalah, yang penting wisatawan tahu informasi, ada kepastian, dan rasa aman. Itu saja tiga hal. Kemudian informasinya harus clear. Seharusnya Pemda Aceh menyiapkan satu buku panduan kecil (guide book) cara berwisata di Aceh. Buku ini nantinya menjelaskan apa saja yang bisa dan tidak boleh dilakukan wisatawan selama di Aceh.

Bagaimana cara membuat masyarakat Aceh sadar wisata?

Sebenarnya pariwisata itu bagaimana maunya kita, tamu yang menyesuaikan diri. Kalau turis pakai bikini, mau bebas, ia akan ke Bali. Kalau dia mau alam dan budaya yang sopan, dia akan ke daerah-daerah yang menuntut begitu. Di Malaysia dan Brunai Darussalam, konsep pari­wisatanya seperti itu dan berjalan baik.

[highlight]

“ Paling penting adalah bagaimana supaya orang tahu kondisi Aceh sebenarnya. Inilah Aceh sebenarnya. Aceh sebenarnya itu apa? Aceh yang makannya enak, Aceh yang aman, Aceh yang jalannya cantik sekali, lebar dan mulus.”

TAZBIR
Direktur Promosi Pariwisata Dalam Negeri
Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI.

[/highlight]