Menziarahi Makam Tanpa Nisan | Aceh Tourism

Menziarahi Makam Tanpa Nisan

Kuburan Massal Korban Tsunami di Aceh

Kuburan Massal Korban Tsunami di Aceh | Ikbal Fanika

Kuburan massal tsunami jauh dari kesan mistis dan seram. Makam tanpa nisan ini justru tersolek indah dengan rerumputan yang menghijau dan pohon-pohon yang rindang. Nelangsa tak selamanya harus dikenang dalam kelam.

Sebuah tugu berdiri tegak di dalam taman seluas hampir dua kali lapangan bola itu. Tingginya sekitar dua meter. Bentuknya lebar di bagian bawah dan meruncing di bagian atas, persis seperti segitiga sama kaki. Keramik dengan ukiran beberapa kata pesan petuah, dipacak pada bagian tengahnya.

Bala tasaba, nikmat tasyuko. Di sinan le ureung bahagia,” begitu petuah tersebut terangkai. Terjemahan dalam bahasa Indonesia dan Inggris turut dibubuhkan pula di bawahnya. Sebuah pesan sederhana namun sarat makna tentang tentang nilai-nilai kehidupan. “Bersabar saat mendapat bala, bersyukur saat mendapat nikmat. Di situlah letaknya kunci kebahagiaan.”

Tugu itu berada dalam komplek kuburan massal tsunami di Gampong Siron, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar. Tidak terlalu mencolok memang, namun letaknya akan mudah ditemui saat menyusuri komplek kuburan tanpa nisan itu.

Tugu Taman Kuburan Massal

Tugu Taman Kuburan Massal | Foto Ikbal Fanika

Saya bersama fotografer Aceh Tourism, Ikbal Fanika, mengunjunginya pada satu pagi yang cerah awal November lalu. Ziarah tsunami, kami menyebutnya demikian. Sebuah perjalanan spiritual. Mengenang masa lampau, memetik pelajaran untuk masa depan.

Seperti namanya, Kuburan Massal Siron berada di Gampong Siron, di sisi kanan jalan menuju Bandara Sultan Iskandar Muda. Dari pusat kota Banda Aceh, komplek kuburan ini dapat ditempuh kurang dari setengah jam perjalanan. Dari Bundaran Lambaro menuju Bandara, jaraknya hanya beberapa ratusan meter.

Meski namanya kuburan massal, tempat ini jauh dari kesan mistis dan seram. Nuansa taman justru lebih kental terasa. Rumput-rumput hijau yang terpotong rapi memenuhi area komplek makam. Pohon-pohon yang ditanam rapi tumbuh merindang, mulai dari palem, bunga kamboja, hingga yang berpokok keras seperti sangon dan kelapa.

“Cukup nyaman,” kata Ikbal. Saya mengiyakan.

Sebuah lorong dengan pavin block bercat merah membelah komplek kuburan ini menjadi dua bagian. Lorong itu bisa digunakan untuk menyusuri seluruh area makam tanpa nisan ini. Pepohonan ditanam di sepanjang sisi kanan dan kiri lorong sehingga membuat suasana cukup adem dan tenang. Beberapa jambo (saung) juga ada di sana.

Pun demikian, di balik rupanya yang indah, komplek kuburan massal ini tetap menyimpan kenangan paling suram dari sejarah bencana paling dahsyat yang pernah melanda tanoh indatu ini: gempa dan tsunami 26 Desember 2004. Bencana ini merenggut lebih dari 200 ribu nyawa. Memorak-porandakan provinsi paling barat Indonesia ini. Salah satu bencana alam paling besar yang pernah tercatat dalam sejarah dunia.

Komplek kuburan ini menjadi tempat peristirahatan terakhir bagi hampir seperempat jumlah korban. Tepatnya, 46. 718 korban dimakamkan secara massal di tanah ini. Tak ada gundukan tanah dan liang khusus seperti layaknya kuburan biasa. Apalagi nisan dengan ukiran identitas serta tanggal lahir dan meninggal. Semua tertimbun di bawah tanah rata yang kini dipenuhi dengan rumput-rumput yang menghijau.

Muhammad Kasim, 63 tahun, penjaga makam, menuturkan kuburan ini rutin dikunjungi oleh masyarakat untuk melakukan ziarah. “Biasanya ramai pada peringatan tsunami dan hari raya. Baik hari raya iduel fitri maupun hari raya iduel adha,” katanya. “Kadang juga ada pengunjung dari Malaysia hingga Thailand.”

Dari Kasim kami juga tahu luas komplek kuburan ini hanya kurang 50 meter dari dua hektare. Jumlah itu barangkali merupakan area terluas untuk komplek kuburan massal di Aceh, bahkan Indonesia.

Di bagian belakang komplek makam, ingatan sejarah dibangun dalam wujud monumen berbentuk gelombang laut. Gelompang ini merepresentasikan tsunami yang menerjang daratan. Satu penggalan ayat dalam surat Yaasin terpampang di sana. Innamaaa amruhuu idzaa araada syaian an yaquula lahuu kun fayakuun. Sesungguhnya urusan-Nya, jika Dia (Tuhan) menginginkan sesuatu, Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah”, maka jadilah sesuatu itu.

Kuburan massal Siron bukan satu-satunya kuburan massal korban gempa dan tsunami 2004. Di Ulee Lheue, Banda Aceh, kuburan serupa juga dibangun untuk korban lainnya.

Seperti di Siron, kuburan ini juga mirip dengan taman dengan pohon-pohon hias yang ditanam berjejar. Bedanya, luas dan jumlah korban yang dimakamkan di sini lebih sedikit dibanding kuburan massal Siron.

Kuburan massal Ulee Lheue dibangun di depan eks rumah sakit Meuraxa. Rumah sakit ini ikut hancur dihantam gempa dan gelombang tsunami. Reruntuhan gedungnya tetap dibiarkan berdiri di bagian belakang komplek makam. Adapun rumah sakit Meuraxa kini sudah dipindahkan ke Desa Mibo di kecamatan yang sama.

Taman di Kuburan Massal

Taman di Kuburan Massal | Foto Ikbal Fanika

Di kuburan massal ini, dimakamkan kurang lebih 14.800 korban jiwa. Jasad korban dewasa dimakamkan di sisi kanan serta sisi kiri bagian depan makam, sedangkan jasad anak-anak berada di bagian belakang sisi kiri. Di sekeliling makam, terpacak tembok yang saling terpisah dengan tulisan asmaul husna yang sekaligus berfungsi sebagai area pagar komplek kuburan seluas 15.800 meter persegi itu.

Kuburan massal yang lebih kecil juga terdapat di wilayah Lhoknga, Aceh Besar. Bedanya, kuburan massal di sana terpisah di beberapa tempat. Menurut seorang warga yang ditemui Aceh Tourism di sana, setidaknya ada enam lokasi terpisah kuburan massal di kawasan Lhoknga ini.

Empat di antaranya berada di jalan Mon Ikeun-Lampuuk. Sedangkan sisanya berada tak jauh dari masjid Lhoknga. Pada setiap makam, didirikan semacam tugu kecil penanda lokasi kuburan massal.

“Sebagian memang kurang terawat, karena letaknya yang jauh dari jalan. Sudah bersemak-semak,” katanya.

Menziarahi makam-makam tanpa nisan memang berbeda nuansanya dengan mengunjungi makam bernisan. Tidak ada kesan mistis dan angker, justru disuguhi pengalaman spritual yang membuat kita harus bersyukur masih bisa menjalani kehidupan ini. (Rahmat Taufik)