Meulingge, Surga yang Tak Terabaikan | Aceh Tourism

Meulingge, Surga yang Tak Terabaikan

Kompleks Mercusuar Williams Torrent Pulo Breueh yang sudah dipercantik_ Foto Mamu

Kompleks Mercusuar Williams Torrent Pulo Breueh yang sudah dipercantik_ Foto Mamu

Desa ini, Meulingge, diangkat dalam sebuah film “Pulo Aceh Surga yang Terabaikan”. Perlahan desa ini mulai menjadi pusat turisme baru di Aceh. Apalagi di sana bertengger mercusuar William’s Torrent III,…

Menara suar William’s Torrent III baru saja selesai dicat ulang saat tim Aceh Tourism mengunjunginya pada pertengahan November 2015 lalu. Bangunan sejarah peninggalan Belanda itu tampil mengkilap dengan warna sakral Indonesia, Merah Putih.

Sejatinya bukan hanya mercusuar di ujung Nusantara itu yang berubah manis. Pun kehidupan masyarakat Meulingge, desa yang paling sering didatangi turis dalam beberapa tahun terakhir.

Ekspresi masyarakat kepulauan cukup terlihat di tepi Dermaga Meulingge siang itu. Di batas pemukiman warga, terdapat satu warung kopi yang sekujurnya dicat dengan motif klub sepakbola Spanyol, Barcelona.

Di belakangnya, rangkang (pondok kayu) dihuni warga yang berkumpul menyambut peserta media fieldtrip dalam even Explore Destinasi Pulo Aceh 2015, Aceh Tourism ikut serta dalam media field trip tersebut. Diskusi dipimpin Ismuha, Sekretaris Desa Meulingge, Pulo Breueh.

“Ada banyak hal yang berubah di Desa Meulingge ini, terutama setelah dibuat film Pulo Aceh Surga yang Terabaikan,” ujar Ismuha, kepada Aceh Tourism beberapa waktu lalu.

Masyarakat desa di paling ujung barat Indonesia itu pun, kata Ismuha,  sudah bisa menikmati aliran listrik dengan normal. Tidak lagi sering menyalakan lilin di malah hari.

Dari kedai kayu, Aceh Tourism bersama peserta lain, menuju Pantai Meulingge dengan teluk landai yang melengkung indah. Langit saat itu cerah, permukaan laut tampak biru kehijauan. Terlihat sebuah dermaga kayu menjorok ke teluk, tidak lagi bolong-bolong seperti beberapa tahun lalu Aceh Tourism ke tempat ini. Perubahan ini seakan menunjukan Meulingge siap menyambut kedatangan siapa saja.

Desa Meulingge dihuni 115 kepala keluarga dengan penduduk sekitar 400 jiwa. Mata pencaharian warga bersumber dari laut dan berkebun. Di musim barat, nelayan beralih profesi menjadi petani, mereka berkebun, sebab tidak bisa melaut akibat gelombang besar.

Di desa ini, kata Ismuha, sehari-hari, masyarakat setempat menyulap rumah mereka menjadi home stay bagi turis lokal dan asing yang berwisata ke Pulo Breueh. Wisatawan bisa tinggal di rumah warga yang agak tersembunyi oleh pepohonan, namun cukup memberikan kesan back to nature: asri.

Pascatsunami, lanjut Ismuha, sudah banyak turis yang mengunjungi Meulingge. Kebanyakan datang untuk melihat keindahan daerah di ujung barat Indonesia ini dari puncak Mercusuar William’s Torrent III, meskipun jalan menuju ke Ujong Peuneung, tempat berdirinya lampu suar itu masih terjal.

“Seharusnya jalurnya  dipermudah dan jika ada pihak yang ingin ke mercusuar, disarankan komunikasi dulu dengan pihak desa,” saran Ismuha.

Sepanjang perjalanan Aceh Tourism bersama peserta lain, dari Desa Lampuyang ke Meulingge, kami disambut pantai-pantai eksotis yang melengkung diapit tanjung dengan pasir putih dan air yang hijau bening. Mulai dari Pantai Alue Paya, Pantai Balue, Pantai Deumit, dan Pantai Rinon. Semua pantai-pantai di sini sangat indah dan masih alami.

Di Pantai Balue misalnya, masyarakat jarang mandi di sana, kata Fauziyun (48), warga Desa Lampuyang. Namun kata dia, “bule yang berkunjung ke Pulo Aceh sering mandi di pantai itu”.

 

  • Hiburan Seni di Dermaga Lamteng

Di Pulo Nasi, malamnya, warga dua mukim berkumpul di Dermaga Lamteng, Desa Lamteng. Membludak. Ibarat pasar malam, bila tidak pantas disebut konser di pulau terpencil.

Acara Malam Kesenian Pulo Aceh diisi oleh seniman lokal yang sudah populer di ranah entertainment lokal. Hiburan itu menjadi sangat menarik, ketika menampilkan adu Rapai Daboh antar dua mukim. Tim dari Desa Meulingge, Pulo Breueh, melawan tim dari Desa Rabo, Pulo Nasi.

Ratusan warga cukup antusias, karena memang jarang menyaksikan hiburan seni di pulau yang berada di Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh.

“Saat ini kami di Meulingge sulit sekali melestarikan Rapai Daboh. Anak muda sudah tidak tertarik di samping fasilitas tidak ada,” curhat Muslem (45), Ketua Tuha Peuet Meulingge yang juga seniman desa itu selesai pentas seni yang digelar dalam even Explore Destinasi Pulo Aceh.

Muslem mengatakan, adanya Malam Kesenian Pulo Aceh dalam even Explore Destinasi Pulo Acehyang digelar Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas Sabang (BPKS) cukup membantu mereka memperkenalkan seni kepada anak cucu mereka. Sebelumnya, seni hanya pertunjukan musim Maulid Nabi, jika diundang warga.

 

  • Menghormati Kearifan Lokal

Event Explore Destinasi Pulo Aceh yang digelar BPKS, sebagai ajang mempromosikan potensi wisata kepulauan. Namun kata Ismuha, di desanya, para turis tidak terlalu bebas. Jika ada turis yang berkungjung, masyarakat setempat tetap menerimanya, dengan syarat, setiap tamu harus melapor keBalai Desa.

“Biasa jika turis perempuan datang bersama laki-laki, yang perempuan tinggal di rumah warga, sementara lelaki boleh tinggal dan menginap di mana saja bahkan bisa camping di pantai,” jelasnya soal kearifan lokal di Meulingge.

Malam di pulau mungkin akan jadi malam terindah bagi wisatawan lelaki yang terbiasa tidur tenang dalam ruangan. Ismuha sering mendapati turis lokal lelaki melakukan hal itu, berkemah di bibir pantai dengan taburan bintang di langit.

Meulingge menurut Ismuha sangat layak dijadikan objek wisata lingkungan. Turis datang untuk menikmati keasrian desa dan menghormati kearifan lokal masyarakatnya.

“Tidak perlu dibangun penginapan mewah seperti banyaknya hotel atau resort di Pulau Weh. Kamimemang perlu maju, tapi semua ada batasnya,” tegas Ismuha.

Desa Meulingge (Pulo Breueh), Kecamatan Pulo Aceh, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh,menunjukkan potensi bagi sektor turisme di Aceh. Tetapi aspirasi masyarakat Meulingge, menurut Ismuha, perlu dipenuhi, baik oleh warga Pulo Aceh sendiri maupun pihak-pihak berwenang. Sehingga surga yang tidak lagi terbiarkan itu tetap alami.(Makmur Dimila)