Mr. Jali, The Real Tarzan From Lauser | Aceh Tourism

Mr. Jali, The Real Tarzan From Lauser

mr Jali

Mr. Jali

“Lauser itu nafas dan nadi saya, jadi tidak ada yang bisa melarang dan memecat saya kecuali Tuhan,’’ itulah sepenggal kalimat tulus yang keluar dari mulut lelaki 50 tahun yang tidak bisa baca tulis ini saat ditanya seberapa besar cintanya kepada Lauser.

Mr. Jali, begitu iya di sapa dikalangan peneliti, pencinta alam, pendaki gunung, dan masyarakat sekitar gunung Lauser. Pada 1981 debut awal ia memperkenalkan Lauser kepada dunia dengan menjadi pemandu turis asal Malaysia saat melakukan penelitian tentang burung di kawasan Lauser. Dengan berbekal pengalaman  sebagai petani tembakau di kaki gunung tersebut dan hanya memiliki peralatan seadanya bahkan jauh dari kata standar. Tetapi Mr. Jali mampu membawa tamunya ke tujuan mereka dalam waktu 3 hari.

Uniknya dalam perjalanan, ayah enam anak ini hanya mengandalkan terpal plastik warna hitam yang biasa di gunakan petani, sebagai tenda untuk berteduh dari hujan dan hawa dingin lembah Lauser, arah matahari serta tumbuhan sekitar sebagai kompasnya (penunjuk arah).

Pada 1987, Mr. Jali kembali mendapat tawaran menjadi guide bagi dua orang jurnalis kebangsaan Inggris bernama Siemen dan David untuk melakukan penelitian tentang semua satwa yang ada dilembah Lauser, dan dari situlah nama Rajali berganti menjadi Mr.Jali, dari kedua wartawan itu namanya semakin dikenal di berbagai kalangan khususnya di dunia International sebagai pemandu wisata Lauser karena brosur dan informasi dari mulut-kemulut yang disebar mereka kepada relasi dan teman se-negaranya. Dan sejak itu ia memantapkan hatinya menjadi guide Lauser dengan membuka jalur pendakian ke puncak gunung terpanjang di Asia Tenggara.

Mr. Jali yang memiliki nama asli Rajali ini merupakan putra asli Aceh. Laki-laki ramah dan bersahabat ini,  lahir dan besar di kawasan kaki gunung Lauser. Berprofesi sebagai petani tembakau di kaki gunung tertinggi di Sumatera ini. Kecintaan dan kedekatannya dengan alam membuat dia mampu menghafal seluk beluk dan likaliku hutan lauser.

Tidak hanya itu, Mr. Jali juga hafal bagaimana perilaku hewan-hewan didalamnya, serta semua jenis tumbuhan yang ada di hutan lauser, maka tak salah jika ia dijuluki sebagai “The Real Tarzan From Lauser dan “Kamus Berjalan dikalangan peneliti juga para pendaki gunung.

Sikapnya yang friendly sama siapa saja, unik, menyenangkan dan berwawasan luas serta kaya pengalaman membuat pria ini disenangi para tamunya. Dengan berbekal pengalaman dan pengetahuan seadanya, Mr. Jali, telah banyak membantu para akademisi dan mahasiswa untuk memperoleh gelar sarjana, doktor hingga profesor, padahal dia sendiri tidak bisa menulis dan membaca namun dia mampu menguasai bahasa Inggris dan menguasai pengetahuan tentang floura dan fauna.

Jangan pernah bertanya berapa kali ia sudah menaklukkan puncak Lauser, karena jawabannya sudah tidak terhitung, “wahh…(tertawa kecil)  tidak terhitunglagi ‘mbak, sudah ratusan kali. gunung Lauser rumah kedua bagi saya,” jelasnya saat dihubungi melalui sambungan telpon.

Selain memandu para peneliti dan pendaki asing ia juga pernah diminta untuk menjadi pemandu tim Ekspedisi Mapala Kompas Universitas Sumatera Utara (USU) saat ulang tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke–42 tahun.

Profesi yang gelutinya saat ini tidak hanya sekedar menjadi pemandu (penunjuk arah) Mr. Jali juga mendirikan pondok dikaki gunung Lauser tepatnya di Keudah, namun apadaya,  saat konflik Aceh 1995 semua pondoknya dibakar orang tidak dikenal, dan itu membuat pria ini down dan terpuruk. Menyedihkan, sebanyak 25 pondok penginapan yang dia bangun dengan modal hutang ke bank musnah seketika.

“Saat itu juga saya berfikir hidup harus berjalan. Alhamdulillah pertolongan Allah itu datang melalui seorang teman pendakian asal Jerman yang pernah saya pandu dulu. Bule itu memberi bantuan sebesar Rp80 juta pada 2002 dan dengan modal itu saya kembali membangun pondok-pondok tersebut. Pada 2008 pasca perjanjian damai Aceh, pondok ramai dikunjungi pendaki hampir setiap bulannya,” tutur Mr. Jali penuh semangat.

Hutan Lauser memiliki dua puncak, dengan ketinggian 3.119 dan 3.404 MDPL. Hutan ini merupakan taman nasional yang kelestriannya mulai terancam, jalur pendakian lauser merupakan jalur terpanjang di AsiaT. Dan untuk sampai ke puncaknya bukan perkara mudah butuh waktu 15 hari dengan medan yang sangat berat sehingga butuh stamina juga mental yang kuat.

Mr. Jali adalah sosok tarzan di dunia nyata. Setiap pengunjung yang datang ke pondoknya Dia selalu meminta mereka untuk mengisi buku tamu dengan menuliskan kesan dan pesan. Sifat humoris, stamina, dan pengetahuan yang dimilikinya menjadi daya tarik tersendiri bagi tamunya yang memakai jasanya. Selain dia, juga banyak guide-guide lainnya dikawasan hutan Lauser terutama dikawasan wisata Katambe, dikaki gunung Lauser. menjadi guide adalah pilihan untuk mencari rizki.

Sang juru kunci Lauser ini sering di undang keberbagai daerah di Indonesia bahkan hingga Papua, karena penglamannya ia dianggap big bos nya guide di Lauser, selain itu dia telah mendidik 25 orang guide di tempatnya desa Keudah. Kini anak-anak didiknya telah mampu menemani para pendaki yang datang dan sangat dapat diandalkan, namun dia masih menyayangkan semua pemadu wisata di Lauser ini belum memiliki lisensi, tidak terkecuali dirinya.

Apa yang dilakukan Mr. Jali saat ini sangat berdampak pada penghasilan masyarakat setempat terutama bagi 25 orang guide binannya, pendaki dari luar negeri misalnya, dengan pelayanan jasa sebagai guide dan porter (pembawa barang) akan mendapat bayaran yang tinggi untuk sekali pendakian, guide di bayar Rp150 ribu, poter Rp100 ribu per harinya. Jika mencapai puncak mereka akan menemani pendaki sekitar 15 hari berarti dan para pendaki juga sering memberi tips.

“Ini adalah salah saatu cara, menjaga hutan Lauser dan meningkatkan ekonomi masyarakat disekitar hutan Nasional,” kata Mr. Jali seraya menambahkan dengan penghasilan yang mereka dapat maka masyarakat sekitar tidak lagi menebang hutan buat makan.

“Saya berharap pemerintah bisa membangun prasarana jalan kekawasan pondok saya. Selain para pendaki masyarakat juga bisa ikut berkunjung. Jika jalan bagus, kawasan sungai bisa dijadikan objek wisata arung jeram, bisa dibuat cubbing dan ada guide yang stanby sehingga aman,” kata Mr. Jali.

Lanjutnya, tidak hanya itu, nantinya sepanjang sungai bisa dibuat warung-warung agar masyarakat setempat bisa jualan, anak-anak bermain disungai, orang tua duduk di warug menikmari penganan yang dijajaki masyarakat dan pemerintah bisa dapat PAD, ekonomi masyarakat meningkat, hutan juga bisa terjaga.

Tetapi, pria ini heran, entah kenapa hingga saat ini pola fikir yang begitu sederhana saja begitu sulit diwujudkan dan di realisasi oleh pemangku kepentingan di negeri ini. (Fitri Juliana)