Muda Balia 26 Jam Hikayatkan Tsunami | Aceh Tourism

Muda Balia 26 Jam Hikayatkan Tsunami

Muda-Balia

Muda Balia

…Bek lee ta ingat e syedara kayee bak jaloh
Cit ka hana boh si umu masa
Bek lee ta ingat e syedara harta meulayang ka gadoh
Cit ka eh nanggroe bak po Rabbana

Meunyoe mantong e syedara e doa teuh gleeh
Mantong na hasee ta kirem doa
Nyoe mantong ta hudep wareh e galom ta mate
Wajeb sabee e wareh e pujo Rabbana,…

______________________________________________
…Tidak usah diingat hai saudara pohon ulin
Tidak akan berbuah sepanjang masa
Jangan lagi diingat hai saudara harta melayang yang hilang
Sudah sampai masanya, negara pada Rabbana

Kalau masih hai saudara doa kita bersih
Masih ada hasil kalau kita berdoa
Selagi (semasih) hidup duhai sahabat sebelum mati
Wajib selalu sahabatku puji Rabbana,…

 

Demikian sepenggal hikayat yang dilantunkan Muda Balia pada 26 – 27 Desember 2009 selama 26 jam nonstop. Acara bertema ”Tsunami Aceh – Thanks to The World” itu digelar di kompleks Kapal PLTD Apung dalam rangka peringatan 5 tahun peristiwa tsunami Aceh. Pria bernama asli Balia ini masih ingat akan syair yang spontan dilantunkannya saat itu karena ia juga korban tsunami.

“Waktu itu mengisahkan tentang kisah yang saya alami, dengan mata kepala sendiri dan dengar dengan telinga sendiri. Itulah yang saya kupas di panggung saat itu,” jelasnya kepada Aceh Tourism pertengahan November 2014.

Kini menjelang 10 tahun peristiwa tsunami Aceh diperingati, pria 34 tahun ini terkenang kembali saat meraih Rekor MURI atas prestasinya pembacaan hikayat terlama, yaitu 26 jam nonstop dengan jeda hanya 5 menit di tiap jam. Dia teringat dengan kerja keras rekan-rekannya saat itu yang berupaya melestarikan seni tutur Aceh hingga mendapat penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).

“Yang paling saya ingat kerja keras kawan-kawan menggarap itu tanpa pamrih, masih ada orang-orang yang setia dengan budaya nenek moyangnya. MURI memberi sertifikat kepada saya, berpesan semoga selalu memperjuangkan seni tutur nenek moyang,” tambahnya.

Lama tidak terdengar kiprahnya di pentas-pentas seni atau budaya Aceh, Muda Balia ternyata telah pulang ke kampung halamannya di Desa Seunuboek Alue Buloh, Kecamatan Kota Bahagia (sebelumnya Bakongan-red), Kabupaten Aceh Selatan sejak Oktober 2013. Dia memilih berhikayat dari rumah ke rumah dan bertani.

“Sekarang saya berkesenian di rumah-rumah orang pesta, kalau ada undangan pesta orang kawin. Alhamdulillah kita sering diundang untuk main hikayat mulai dari jam 8 malam sampai jam 4  pagi. Selain itu, kalau tidak ada undangan berkesenian, saya akan pergi ke kebun untuk tanam cabe, bertani lah,” tutur pria yang hijrah ke Banda Aceh sejak 1998 ini.

Meski saat ini harus berkesenian sembari bertani di kampung, ayah dua anak ini bersyukur masih ada panggilan untuk berhikayat di luar negeri, seperti di awal November 2014, dia dan Agus Nuramal diundang oleh Pemerintah Singapura untuk menampilkan seni tradisi Aceh ini. Begitupun ketika dia mempersiapkan pementasan hikayat Aceh di Taman Ismail Marzuki pada 9 Desember 2014.

Pelantun hikayat Peh Bantai (memukul/menepuk bantal-red) ini juga merasa berkewajiban untuk memelihara dan menjaga khasanah budaya atau kesenian yang ada di Aceh, salah satunya adalah seni tutur atau hikayat Aceh. Muda Balia yang sedari belia—ketika masih kelas empat SD berkecimpung dengan seni tutur—merasa bertanggungjawab terhadap amanah dari sang guru.

“Saya berguru kepada Zulkifli di Manggeng, beliau satu guru dengan Adnan PMTOH. Jadi diantara Tgk Adnan PMTOH dan saya main hari ini banyak persamaannya cuma property yang berbeda. Amanah dari guru saya bahwa ‘kesenian ini harus kau lanjutkan jangan sampai punah di Aceh, jangan segan-segan kau memberikan ilmu ini pada generasi berikut, karena ini bukan kesenian pribadi seseorang, ini kesenian tradisi nenek moyang bangsa Aceh,” jelas putra bungsu pasangan Syafi’i dan Rusna lebih mendalam.

Muda Balia yang dalam setiap penampilannya tidak lepas dari alat-alat peraga seperti bansi, peudeung (pedang) dan bantal yang dibalut dengan tikar pandan, mensyukuri kesempatan-kesempatan yang pernah diperolehnya selama ini karena bisa mengharumkan nama Aceh lewat hikayatnya sampai ke negeri Tirai Bambu, Cina.

Dia tetap optimis meski saat ini harus berjuang meneruskan tradisi berhikayat dari rumah ke rumah, karena menurutnya respons dari masyarakat sangat baik di setiap penampilannya. Dan dengan tangan terbuka dan siap membagikan ilmunya jika ada yang ingin berguru kepadanya.

“Saya berharap ke depan untuk kesenian tradisi Aceh umumnya, seni tutur pada khususnya, agar terus dijaga dan dilestarikan, dalam hal ini pemerintah hari ini harus betul-betul memberikan support kepada senimannya, adanya anggaran yang lebih besar untuk membina kesenian dan untuk pelatihan kesenian-kesenian, dan melibatkan seniman Aceh ketika ada acara atau pagelaran-pagelaran seni atau even besar di Aceh,” ungkapnya.

Muda Balia juga mendorong rekan-rekan seniman di daerah untuk terus berjuang melanjutkan seni-seni tradisi yang sudah ada, tidak berkecil hati karena rakyat Aceh masih berharap kesenian-kesenian tradisi yang ditinggalkan nenek moyang masih hidup di Aceh.

Bertepatan dengan momen 10 tahun peristiwa tsunami Aceh yang akan diperingati di 26 Desember 2014, Muda Balia berharap masyarakat bisa menarik hikmah dari peristiwa tsunami dan terus bercita-cita dan bekerja keras membangun Aceh.

“Harapan saya sendiri kepada semua lapisan masyarakat Aceh, seluruh bangsa Aceh sadar bahwa bala yang diturunkan oleh Allah itu bukan kecil, semoga itu pelajaran bagi seluruh bangsa Aceh tidak semena-mena dalam menjalankan hukum Allah. Terus bercita-cita dan bekerja keras untuk membangun Aceh dari segi ekonomi dan moral Bangsa Aceh,” katanya menutup perbincangan.(Kesia)