Ngopi Asik Dikebun Kopi | Aceh Tourism

Ngopi Asik Dikebun Kopi

seladang

Kurang dari 50 buku bertema politik, sosial, dan lingkungan, tersusun tidak begitu rapi di belakang meja pelanggan. Satu set sofa warna krem bercorak bunga-bunga, plus satu meja kayu klasik sengaja ditata di tengah bangunan minimalis. Di sana menjadi salah satu tempat yang paling disukai pengunjung.Selain hawanya yang sejuk, posisi ngopi yang demikian juga membuat benarbenar refresh.Sejumlah ornament kayu dan bunga yang tertata di sekitar, membuat ruangan dengan luas 3×2.5 meter tersebut semakin bernuansa.

Dalam area kebun kopi yang luasnya kurang dari 3 hektare, masih ada beberapa lokasi lain yang sengaja disiapkan untuk membuat pelanggan betah, misalnya balai dari bambu yang dibangun persis di pojok kanan depan Seladang Coffe. Di sudut kiri belakang, satu set kursi rotan dengan gubuk beratap daun rumbia juga menjadi pilihan bagi Anda yang menyukai suasana semi formal. Bagi  elanggan yang datang malam hari, Sadikin Gembel dan Istrinya Hasanah sudah menyiapkan satu lesehan kapasitas 15 orang, lengkap dengan tungku perapian, mengingat Seladang Coffe miliknya berada di dataran tinggi tanah Gayo yang saban malam

berhawa dingin. Tepatnya di Bener Meriah, sekitar 300 Km dari Banda Aceh, dan 14 Km sebelum menuju KotaTakengon, Ibukota Kabupaten Aceh Tengah. Dimulai pada awal 2016, ide minum kopi di kebun kopi menjadi trademark tersendiri bagi kedai kopi milik keluarga Sadikin alias Gembel dan Istrinya Hasanah. “Ide initerealisasi setelah diskusi panjang dengan Istri saya,” cerita Gembel mengawali dialog pada 15 Mei 2016. “Awalnya ini hanya kebun kopi biasa, tidak ubahnya dengan kebun kopi milik warga lain di sekitaran,” ceritanya lagi.

Untuk memanjakan pelanggan, Sadikin juga membuka ruang seluas-luasnya bagi yang berniat mencoba  emetik dan memilih sendiri biji kopi dari pohonnya, selanjutnya Sadikin dengan ramah memberitahukan cara mengolahnya. Jika Anda mampu bersabar di sana beberapa hari, pasti Anda akan bisa menikmati kopi yang Anda petik, Anda olah, dan Anda racik dengan tangan sendiri.

Baiknya, kalau sedang panen raya, itu lazimnya memasuki Juli dan Agustus, pelanggan yang sengaja datang untuk menjadi “petani kopi”dapat merasa langsung bagaimana memetik kopi di kebun, tentunya setelah mendapat arahan dari empunya Seladang Coffe.

Tidak perlu segan-segan, pelanggan boleh menganggap itu kebun kopinya selama berdiam di sana. “Ada kenikmatan lain yang bisa Anda rasa langsung saat memetik kopi yang sudah siap panen, itu ada di setiap pohon kopinya,” katanya. Bagi pelanggan yang gemar out door, pemilik Seladang Coffe juga mengizinkan Anda bermalam dalam area, namun sementara ini Anda harus rela bermalam ditenda. Atau bagi Anda yang tidak terlalu menghiraukan alas tidur Anda, Gembel juga tidak keberatan jika Anda berminat bermalam di lesehan atau balai-balai bambu di sekitar kebun kopinya.

Untuk meningkatkan pelayanan bagi tamunya yang kebanyakan datang dari luar kota, bahkan mancanegara, ayah tiga anak berambut gondrong ini selaku pengendali manajemen Seladang Coffe, berencana  empersiapkan shelter dalam area kebun kopinya “Hunian itu kita persiapkan untuk tamu yang ingin tinggal beberapa waktu di sini,” kata Gembel sembari duduk menghadap meja baristanya.

Nikmati Kopi dengan Cara Beda Tentang kopi yang Anda akan nikmati, Gerep yang berdiri di belakang meja  arista adalah jagonya. Ia boleh meracik lebih dua puluhan menu, dengan ragam cita rasa dan kenikmatan masing-masing, seperti Vietnam Drip, Chemex, dan Mocha Pop. Karena cara penyajian Arabica di sini mengandalkan ala tradisional dan membutuhkan waktu lebih lama, ada baiknya tamu memesan lebih dulu sebelum datang. “Jadi setiba di sini tidak harus menunggu terlalu lama,” kata Gerep. Kondisi ini, katanya, tidak menjadi masalah bagi tamu yang mempunyai waktu lebih lama untuk menikmati kopi, atau sekedar bermalas-malasan dan rehat di dalam kebun kopi. Karena salah satu aula yang khusus dibangun terpisah sekitar 50 meter di belakang pusat Seladang Coffe, di sana tamu dipersilahkan rebahan sesuka hati. Akan lebih nyaman, alur yang mengalir persis di samping aula juga bisa dimanfaatkan untuk membilas badan atau mandi.

Di lokasi, Tim Aceh Tourism, bertemu dengan sejumlah pecinta alam yang bermalam di Seladang Coffe.  ereka bermalam di sana, sebelum melanjutkan perjalanan mendaki Burni Telong. Menurut kelompok pecinta alam ini, mereka memilih bermalam di Seladang, bukan karena cita rasa kopinya saja, namun lebih kepada suasana

kekeluargaan yang dihadirkan di sana.Bagaimana cara menuju ke sana?, itu bukanlah masalah besar. Lokasi dapat ditempuh via darat dengan angkutan umum trayek Banda Aceh- Takengon, dengan waktu tempuh  sekitar 5 jam dari Banda Aceh.

Lokasi dapat juga ditempuh via udara, setelah mendarat di bandara Rembele, dari sana hanya membutuhkan waktu 25 menit. Percayalah, setiba Anda di sana sebagian lelah Anda selama perjalanan akan terbayarkan oleh suasana yang Anda dapat. Agar lebih meyakinkan Anda yang berniat datang untuk mencoba ngopi ala Seladang Coffe, informasi boleh dilacak di Paman Google. Akan sangat banyak informasi yang dibutuhkan terpampang dilayar komputer atau smartphone Anda, tentu Anda tidak akan tersesat dalam mencarinya.

Jika niat wisata Anda ingin menjelajah Tanah Gayo yang dikenalkaya akan panorama, umpama Danau Laut Tawar dan Burni Kleten yang menyatukan Takengon dan Gayo Lues, juga Gunung berapi, Burni Telong di Bener Meriah.Tim Seladang Coffe siap membagi informasi tentang kemana tujuan Anda selanjutnya, karena tentu saja berwisata ke Tanah Gayo tidaklah cukup di Seladang Coffe saja. Sebaliknya, belumlah lengkap berwisata ke Tanah Gayo jika belum menjadi bagian dari “Petani Kopi” sebagaimana kehidupan masyarakat setempat.