Nuansa Perang di Benteng Anoi Itam | Aceh Tourism

Nuansa Perang di Benteng Anoi Itam

meriam

Meriam peninggalan Masa Perang

Sabang tak saja dikenal dengan sebutan “44 Aulia”, tetapi juga dikenal dengan “Kota 1001 Benteng”. Karena banyaknya benteng-benteng peninggalan tentara Jepang yang tersebar di sepanjang bibir pantai Pulau Weh.

 

Tentara Jepang mendarat di Pulau Weh pada 12 Maret 1942. Para serdadu Negeri Sakura ini menggali terowongan bawah tanah di sepanjang pantai sebagai benteng pertahanan. Namun setelah tiga tahun lebih terlibat Perang Dunia II, mereka takluk dari Pasukan Sekutu dan meninggalkan semua wilayah jajahannnya.

 

Kini, nuansa zaman perang itu dapat dirasakan ketika berkunjung ke Kota Sabang, Provinsi Aceh. Salah satunya Situs Benteng Jepang Anoi Itam yang berada di Desa Sukajaya. Sekitar 8 Kilometer dari pusat kota.

 

Aceh Tourism ketemu Mahruzar (50), turis asal Medan, saat menelusuri Benteng Anoi Itam ini pada akhir Mei 2014. Dia bersama keluarganya menjejali lorong demi lorong bawah tanah benteng peninggalan Jepang tersebut.

 

“Benteng ini membuktikan kehebatan Tentara Jepang masa itu. Hanya 3,5 tahun berkuasa, mereka berhasil membangun bunker dan bertahan di sini sebelum terpaksa kembali ke Jepang,” jelasnya.

 

Mahruzar dan anak-anaknya berpose bersama hampir di setiap sudut terowongan yang menghadap Samudera Hindia. Kunjungan mereka berakhir di sebuah ruang pengamatan beratap yang berada di puncak bukit.

 

Memasuki ruangan ini, kita bisa berpura-pura menjadi tentara Belanda. Duduk di meriam sepanjang 3 meter. Mengarahkan moncongnya ke Bukit Barisan Pegunungan Sumatera di ujung Samudera melalui jendela bidik.

 

Keluarga Mahruzar tidak menyisir utara benteng. Padahal menurut Ibrahim Daud yang memandu Aceh Tourism hari itu, jejak peninggalan tentara Jepang dapat kita resapi bila mengelilingi perbukitan.

 

Ibrahim kemudian mengajak Aceh Tourism ke terowongan bawah tanah di ujung selatan. Terletak persis di tepi bukit. Berbatasan langsung dengan lautan. Permukaan laut turkois juga tersaji sepanjang sisi selatan. Kami menapaki undakan ke timur bukit dipayungi kanopi dedaunan dari pepohonan rindang.

 

Beberapa titik terowongan masih terlihat hingga mencapai jalan keluar lewat jalur yang berbeda saat memasuki situs benteng Jepang ini. Mengakhiri satu jam eksplorasi.

 

Sebelumnya, Aceh Tourism masuk melalui pintu utama. Sekitar 100 meter dari sebuah warung di tepi jalan raya. Mencapai warung itu setelah menempuh 14 Km perjalanan dari pusat Kota Sabang.

 

Dalam perjalanan darat Rabu pagi itu, Aceh Tourism menyaksikan eksotisme Pantai Sumur Tiga dan Pantai Anoi Itam di kiri jalan. Keindahan yang akan Anda nikmati sebelum menggapai Situs Benteng Jepang. (Tim)