Pasi Saka Pantai Berpasir Gula | Aceh Tourism

Pasi Saka Pantai Berpasir Gula

Pantai Berpasir

Pemandangan Pantai Pasi Saka

Pemandangan Pantai Pasi Saka | Rinaldi AD

Di ketersembunyiannya, Pasi Saka me­nawarkan lanskap alam yang memikat. Selain masih alami, pasir putih memben­tang yang diapit dua bukit sabana membuat garis pantai ini seolah tersembunyi dari dunia luar. Hidden treasure Aceh Jaya.

Awan hitam mulai menggelayut di langit Jeumpheuek saat kami berkunjung akhir November lalu. Di ujung kampung, beberapa nelayan tampak sibuk memperbaiki jalanya. Sebagian lain melepas siang di sebuah warung kopi panggung di tepi sungai itu.

Senyum bersahabat terpancar dari wajah para warga saat kami berhenti di tepi warung kopi itu. “Piyoh,” kata salah satu di antara mereka. “Mampirlah.”

Pasir Pantai Pasi Saka

Pasir Pantai Pasi Saka | Rinaldi AD

Jeumpheuek adalah sebuah kampung di Kecamatan Sampoiniet, Aceh Jaya. Letaknya berada di KM 117 jalan nasional Barat-Selatan Provinsi Aceh. Dari Calang, ibu kota Kabupaten Aceh Jaya, desa ini terpaut sekitar 28 kilometer ke arah Banda Aceh. Jeumpheuk sendiri merupakan desa terakhir sebelum menuju Pasi Saka.

Pasi Saka merupakan nama sebuah pantai di belakang desa ini. Garis pantainya menjuntai pada bibir Samudera Hindia. Tersembunyi di antara dua sabana–dan relatif jauh dari pemukiman-, pantai ini terbilang masih jarang dikun­jungi. Bahkan oleh masyarakat lokal sekali pun. Pantai alami yang belum terjamah aktivitas pariwisata. Hal inilah yang membuat kami penasaran untuk mengunjunginya.

Kunjungan kami ke Pasie Saka berawal dari saran Teuku Samsuar, Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Per­hubungan Komunikasi Informasi Telematika Budaya dan Pariwisata (Dishubkomintelbudpar) Aceh Jaya. “Jalurnya memang masih sulit. Namun kalau sudah sampai ke sana, jangan-jangan malah nggak mau pulang lagi,” candanya sebelum berangkat.

Maka jadilah kami bertandang pada akhir November itu. Selain Samsuar, saya bersama empat tim Aceh Tourism lainnya juga ditemani Aizuddin, anggota DPRK Aceh Jaya dari Fraksi Partai Golkar; Asrul, aktivis lingkungan dari Geu­dumbak Foundation; Riki, pegawai Dishubkomintelbudpar Aceh Jaya; serta tiga guide lokal dari gampong setempat. Mereka adalah Nazar, ketua Kelompok Sadar Wisata Gam­pong Jeumpheuek, Taufik, dan juga Maulidi.

Seperti kata Samsuar, akses menuju Pasi Saka memang sulit. Dari ujung kampung Jeumpheuk, kami mesti melewa­ti jalan setapak di tepi pantai untuk kemudian menanjak bukit Ujong Gla. Pendakian memakan waktu setengah jam sebelum akhirnya berjumpa dengan pantai tersembunyi itu.

Menurut penjelasan Nazar, sebenarnya ada satu kampung lain antara Jeumpheuek dan Pasi Saka. Namanya Mata Ie. Namun kampung ini hilang tersapu tsunami. Sebagian wilayahnya kini sudah menjadi lautan. Sedang­kan yang masih daratan sudah ditumbuhi semak ilalang. “Warga yang tersisa direlokasi,” jelasnya.

Sisa kampung ini memang kemudian masih terlihat dalam perjalanan menuju Pasi Saka. Pada jalan setapak di tepi pantai yang dulu gampong Mata Ie itu, beberapa pondasi rumah masih terlihat. Juga cincin sumur yang be­rada di sisi pantai. Jejak bencana mahadahsyat itu masih terlacak.

Selepas garis pantai eks gampong Mata Ie, perjalanan menuju Pasi Saka memasuki tanjakan berbukit. Namanya bukit Ujong Gla. Tidak terlalu menanjak memang, namun cukup menguras keringat juga. Tanah licin oleh basah hu­jan yang sepertinya belum lama turun. Lorong-lorong kecil bebukitan seperti tertutup kanopi dari daun-daun pohon yang rindang.

Setidaknya setengah jam berlalu hingga kami men­emui sebuah tanah lapang berikut pantai di sisi kirinya. Tapi tunggu dulu, ini bukanlah Pasi Saka yang hendak dituju. Setelah kembali mendaki sebuah padang sabana, baru kemudian garis pantai tersembunyi ini menunjukkan kemolekannya.

Pemandangan diatas Bukit pasi saka

Pemandangan diatas Bukit pasi saka | Rinaldi Ad

Maka di situlah kemudian kami berada: hamparan pasir putih membentang pada garis pantai yang landai, riak mengalun perlahan, padang sabana mengapit di kiri dan kanan, batu karang besar menjorok di tepi lautan. Tak ada keriuhan apa-apa selain ombak yang mendebur dan angin yang menderu.

Inilah si Pasi Saka, pantai tersembunyi yang menjuntai pada bibir Samudera Hindia itu. Ia memang manis semanis namanya (saka berarti gula dalam bahasa Indonesia, menyifati rasa manis). Perjalanan setapak melewati eks gampong Mata Ie serta pendakian tanah basah bukit Ujong Gla terbayar selunas-lunasnya. Pesona pantai tersembunyi ini sepadan dengan jalur sulit untuk menggapainya.

Senyum kemenangan merekah dari bibir Samsuar, melihat tamu yang dibawanya terperanjat kegirangan. “Inilah potensi keindahan alam Aceh Jaya,” katanya. “Benar-benar masih alami,” sambungnya lagi.

Sementara anggota tim lain larut dalam kekagumannya masing-masing, saya memilih mengeksplorasi garis pantai ini. Rinaldi AD dan Ikbal Fanika, fotografer Aceh Tourism memburu gambar-gambar dalam setiap klik kamera. Nazar, Taufik, Maulidi: para guide lokal, memilih beristirahat di bawah sebatang pohon rindang di padang sabana di tepi pantai ini. Asrul dan Riki, yang semula berteduh bersama mereka, belakangan ikut mengeksplor dan mengabadikan beberapa lembar gambar dari kamera DSLR mereka.

“Baru pas kalau kita gelar tenda di sini, camping barang dua malam,” Salman, Pimpinan Umum majalah ini, memberikan komentar. “Indah sekali,” katanya.

Hal lain yang amat menarik dari pantai ini adalah bulir pasir-pasirnya. Jika dilihat dari jarak dekat-namanya saja pasir, harus dilihat sedemikian dekat untuk melihat butir per butir-, beberapa bulir pasir ini berbentuk seperti kristal yang berwarna bening. Persis seperti butir gula. Karena itu pula, barang kali, pantai ini dinamai Pasi Saka.

“Tidak ada pantai lain di daerah ini yang pasirnya sep­erti ini,” kata Nazar. Ia pun pada akhirnya tergoda untuk menjamahi pasir putih Pasi Saka itu.

Saat kami pulang berapa jam kemudian, pantai ini kembali tersembunyi dalam sunyi. (Rahmat Taufik)

keyword: pantai berpasir
pantai berpasir Gula
pantai ujung
aceh jaya