5.075 Penari Saman Gayo Pecahkan Rekor MURI | Aceh Tourism

5.075 Penari Saman Gayo Pecahkan Rekor MURI

5.075 Penari Saman GAYO PECAHKAN REKOR

5.075 Penari Saman GAYO PECAHKAN REKOR | Junaidi Hanafiah


Perwakilan MURI (Museum Rekor-Dunia Indonesia), Awan Raharjo menyebutkan, tari saman, Senin, 24 November 2014 tercatat dalam buku MURI di urutan 6.752 dengan jumlah 5.075 penari.

Tepukan dan sorakan dari ribuan penon­ton bergemuruh memecah kesunyian Stadion Seribu Bukit, Kota Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, Provinsi Aceh, setelah Awan Raharjo mengumumkan 5.075 penari tersebut telah memecahkan Rekor MURI. Dan Wakil Gubernur Aceh, Muzakir Manaf menjadi saksi sejarah, atas keber­hasilan masyarakat Gayo Lues mengukir Rekor MURI tersebut.

“Empat tahun lalu MURI sudah pernah mencatat rekor penari Saman terbanyak dengan jumlah 3.000 orang di Banda Aceh. Tetapi, kali ini kegiatan di Gayo Lues mencatat untuk rekor dunia dengan jumlah 5.075 penari. Harapan kami, tarian ini adalah tradisi milik dunia yang wajib dilestarikan,’’ kata Awan Raharjo.

Tari Saman, tarian yang berasal dari Gayo Lues dimainkan oleh nenek moyang masyarakat di Dataran Tinggi Gayo, sejak dulu. Para lelaki memainkan saman di manapun, baik itu di rumah, musalla, atau tempat lainnya, untuk menyampaikan syiar Islam.

Pada kesempatan itu, Wakil Gubernur Aceh meminta tarian warisan nenek moyang Aceh yang telah menjadi warisan dunia ini terus dipertahankan. Dia juga meminta agar tari Saman Gayo dikembangkan sehingga masyarakat dunia terus tertarik mempelajari dan memainkannya.

“Mari pertahankan agar tarian ini dapat terus berkem­bang dan tidak punah. Maka itu terus dilestarikan dan diajarkan ke generasi muda Aceh,” harap Muzakir Manaf.

Sementara itu di kesempatan yang sama, Bupati Gayo Lues, Ibnu Hasim menyebutkan, tarian saman massal yang memecahkan Rekor MURI itu, dimainkan 5.057 penari. Na­mun hasil hitungan petugas MURI berjumlah 5.075 penari.

“Mereka semua adalah masyarakat Kabupaten Gayo Lues yang berasal dari semua desa di kabupaten tersebut.

Ada pelajar, PNS, unsur TNI, polisi, yang paling banyak merupakan masyarakat yang berasal dari semua desa di Kabupaten Gayo Lues,” sebut Ibnu Hasim.

Menurut Ibnu Hasim, tari saman adalah tarian warisan budaya asli suku Gayo sejak abad ke-13, di daerah Gayo Lues dan sekitarnya di Provinsi Aceh. Dinamakan sa­man, karena tarian ini dikembangkan oleh seorang ulama bernama Syeh Saman, untuk penyampaian pesan keagamaan.

Awalnya, saman dimainkan di berbagai tempat seperti di bawah musalla, rumah, sawah, atau lainnya untuk menyebarkan ajaran Islam dengan syair-syair yang berisi nasehat.

“Pemain saman adalah laki-laki, um­umnya muda, dan jumlahnya selalu ganjil duduk bersimpuh atau berlutut dalam baris rapat,” jelasnya.

Kata Ibnu Hasim, hingga saat ini masyarakat Gayo Lues masih sangat meng­hargai saman, bahkan tarian tersebut masih terus dimainkan oleh masyarakat di semua desa. Anak-anak hingga orang dewasa kata dia, masih terus memainkan tarian tersebut. Namun kadang-kadang lagunya yang diubah, dimainkan dengan lagu yang sedang hits saat ini.

Karena keunikan, keaslian dan lain­nya, Badan PBB Urusan Pendidikan, Sains dan Kebudayaan (UNESCO) secara resmi mengakui tari Saman Gayo dari Provinsi Aceh sebagai warisan budaya dunia tak benda dalam sidang di Bali pada 24 November 2011.

Dari dulu, catatan sejarah, tarian saman hanya boleh dimainkan oleh laki-laki dewasa. Kemudian perkem­bangannya, dari tempat asalnya di Gayo Lues, tarian ini tidak saja dimainkan laki-laki dewasa tetapi juga remaja, dan anak-anak.

Kebanggaan tari Saman Gayo tidak hanya dimiliki para penari, tetapi terlihat masyarakat Gayo Lues yang memadati Stadion Seribu Bukit, Kota Blangkejeren, juga antusias tanpa menghiraukan teriknya matahari. Apalagi ketika hari itu, Rekor MURI telah ditoreh oleh 5.075 penari yang berasal dari sejumlah desa di Kabupaten Gayo Lues. (Junaidi Hanafiah)

Keyword: gambar penari saman
Penari saman
Tarian Saman
5.075 Penari Saman GAYO