Peupok Leumo, Tradisi Adu Lembu Usai Panen | Aceh Tourism

Peupok Leumo, Tradisi Adu Lembu Usai Panen

 

ukuran post photo 1

Tradisi adu lembu (sapi) atau dalam bahasa disebut Peupok Leumo, sejak zaman kemerdekaan hingga sekarang masih dilakukan oleh masyarakat di Provinsi Aceh. Seperti di Kabupaten Aceh Besar dan Banda Aceh yang berapa bulan lalu, usai panen raya menggelar pertandingan ini.

Adu lambu yang dilakukan usai panen ini bertujuan untuk menguji kekuatan lembu/sapi lokal, yang dilakukan di lapangan terbuka dan disaksikan masyarakat ramai sebagai hiburan.

Lembu yang diadu berkelamin jantan bertubuh besar dan bertanduk. Tanduk yang cukup panjang ini fungsinya untuk melemahkan lawan saat bertarung.

Perlombaan biasanya diikuti perwakilan dari beberapa desa dan kemudian lembu lokal yang menang di Peupok Leumo ini harganya akan naik dua atau tiga kali lipat dari harga biasanya di pasaran. Bisa mencapai Rp35 juta hingga Rp50 juta. Semakin sering memenangkan kontes, maka harga lembu (sapi Aceh) juara akan dihargai semakin mahal.

Pertandingan Peupok Leumo berlangsung sekitar 10 menit yang dipimpin seorang juri. Masing-masing lembu yang dikendalikan oleh seorang joki yang memegang tali kekang yang diikat dihidung sapi. Pertandingan dimulai dengan saring menyerang dengan menggunakan tanduk. Jika salah satu lembu ada yang lari akibat terkena serangan tanduk, maka lembu yang tidak lari dinyatakan sebagai pemenang. Namun jika tidak ada lembu yang lari dari arena adu, maka pertandingan dinyatakan seri. (Saniah LS)