PLTD Apung Salah Satu Keajaiban Dunia | Aceh Tourism

PLTD Apung Salah Satu Keajaiban Dunia

PLTD Apong

PLTD Apung

Bangkai Kapal Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Apung milik PLN yang terseret sekitar 3 Kilometer ke daratan Gampong (desa) Punge Blang Cut, Kecamatan Jaya Baru, Kota Banda Aceh pada 26 Desember 2014 silam memiliki bobot sekitar 2.600 ton, dengan panjang lebih kurang 63 meter dan luas 1.900 M2. Bangkai kapal yang telah dijadikan sebagai objek wisata tsunami itu rencananya akan dijadikan salah satu keajaiban dunia.

Wakil Wali kota

Wakil Wali Kota Banda Aceh

Pemerintah Kota (Pemko) Banda Aceh mewacanakan, salah satu icon wisata tsunami Kota Banda Aceh itu menjadi salah satu keajaiban dunia. Wacana ini lahir lantaran Pemko Banda Aceh melihat kapal yang memiliki berat ribuan ton itu memiliki sejarah yang luar biasa yang tidak dimiliki di daerah atau negara lain.

 

“Banyak hal memang yang menjadi alasan mengapa wacana itu lahir. Melihat berat kapal, kemudian jarak yang dilalui, kemudian lagi dia (kapal PLTD Apung) bisa berdiri di tengah-tengah perkampungan. Peristiwa itu telah membuka mata semua orang, bagaimana dasyatnya tsunami, kekuatan gelombangnya bisa membawa kapal berat seperti itu,” kata Wakil Walikota Banda Aceh, Hj. Illiza Sa’aduddin Djamal, SE beberapa waktu lalu.

Illiza memaparkan kembali wacana yang telah lama diutarakan dan menjadi harapan Walikota Banda Aceh, Ir Mawardy Nurdin M.Eng, Sc kepada Tim Redaksi Majalah Aceh Tourism yang berkunjung dan bersilaturahmi di ruang kerjanya, lantai 3, Balaikota Banda Aceh.

Kapal milik PLN sebelum terseret tidak jauh dari pantai Ulee Lheue pernah menerangi Kota Banda Aceh pada 2003 lalu dengan kekuatan arus listrik sebesar 10,5 MW. Menurut Illiza lagi, saksi bisu bencana tsunami sembilan tahun lalu itu memang pantas dijadikan sebagai salah satu keajaiban dunia.

Namun demikian kata Illiza, untuk mewujudkan wacana itu, perlu waktu panjang guna memenuhi syarat-syarat yang harus dipenuhi. Seperti mewujudkan Pulau Komodo menjadi 7 keajaiban dunia.

“Bencana tsunami becana yang terbesar di dunia. Insya Allah, mudah-mudahan seiring dengan jalannya waktu, keberadaan PLTD Apung ini menjadi sebuah keajaiban dunia,” tuturnya seraya mengaminkan.

Selain memiliki wacana menjadikan PLTD Apung sebagai salah satu keajaiban dunia. Pemko Banda Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisatan, tak henti-hentinya terus menggali potensi wisata lainnya yang bisa dijadikan destinasi baru bagi wisatawan asing maupun lokal yang berkunjung ke Ibukota Provinsi Aceh yang tidak begitu luas ini.

“Seperti temuan sejarah kebesaran Kerajaan Aceh Darussalam di Gampong Pande dan Gampong Jawa oleh arkeolog kita. Pembenahan akan terus kita lakukan, meski membutuhkan dana yang tidak sedikit. Diharapkan dua gampong di Kecamatan Kutaraja ini menjadi tempat objek wisata sejarah, sehingga akan meningkatkan perekonomian masyarakat setempat,” kata Illiza.

Tak bisa dipungkiri, pariwisata telah memberi banyak kontribusi kepada peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Banda Aceh. Dari mulanya PAD sekitar Rp5 miliar kini bertambah hingga ratusan miliar. Menurut informasi yang diterima Aceh Tourism dari Wakil Walikota Banda Aceh, paling besar PAD didapatkan dari pajak hotel dan restoran.

Sebut Illiza pada 2013 terjadi kenaikan hingga 15 persen dari tahun sebelumnya. Pajak hotel yang ditargetkan sebesar Rp6.470.000.000470.000.000 dan realisasinya Rp8.236.552.250236.552.250. Begitu juga dengan restoran ditargetkan sejumlah Rp5.675.000.000675.000.000 dan realisasinya Rp6.118.927.014. (Saniah LS)