Reusam, Kepulau Ini kami Harus Kembali | Aceh Tourism

Reusam, Kepulau Ini kami Harus Kembali

“Kita sedang berdiri di tempat yang dilalui gelombang tsunami 2004,” Teuku Samsuar mengungkit sebuah kisah satu dekade lalu.


Menuju Pulo Reusam | Ikbal Fanika

Menuju Pulo Reusam | Ikbal Fanika

Dia berhenti pada ketinggian 20 meter di atas permukaan laut (mdpl). Di depan tebing spot mancing yang menghadap Pulau Eunggah di kejauhan; pulau kecil yang juga diterpa tsunami 2004. Keringat membasahi pakaian dinasnya.

Setengah jam yang lalu, Samsuar memimpin tur ke Pulau Reusam. Ia Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Perhubungan Komunikasi Informasi Telematika Budaya dan Pariwisata (Dishubkomintelbudpar) Kabupaten Aceh Jaya.

Perjalanan dimulai dari TPI Lhok – Rigaih di pinggir jalan nasional Banda Aceh – Meulaboh, KM 141, tepatnya di perbatasan Gampong Lhok Timon – Gampong Rigaih Kec. Setia Bakti, Aceh Jaya. Teluk Rigaih tampak tenang saat Aceh Tourism  dan rombongan Samsuar berlayar dengan boat nelayan.

Samsuar ditemani Aizuddin anggota DPRK Aceh Jaya dari Fraksi Golkar Komisi A bidang pemerintahan dan perhubungan. Keduanya bersama rombongan terlihat tidak sabar ingin menunjukkan kami pesona pulau yang menjadi destinasi wisata andalan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Jaya.

Kota Calang diapit lautan tampak di selatan. Beberapa gugus pulau kecil menyebar di sekitar kami. Samsuar dan rombongannya belum tahu kenapa pulau yang sedang kami tuju bernama “reusam”. Tetapi mereka tahu alasan kami ingin mengunjungi pulau milik Raja Rigaih itu: mengabarkan keseriusan Pemkab Aceh Jaya yang tengah gencar membangun sektor pariwisata.

Boat perlahan memasuki beranda Pulau Reusam. Menepi ke dermaga kayu yang rampung dikerjakan Juni 2014. Penyeberangan telah memakan waktu 8 menit dan menempuh jarak 1 mil. Jembatan kecil menuntun kami ke bibir pantai. Sisa-sisa acara tiga hari lalu masih berjejak. Tulang-belulang ikan besar yang tidak sempurna terbakar masih terdampar di tumpukan sampah.

“Coba datang Sabtu lalu, pas kali. Pak Bupati naik jet ski, bahkan menyelam,” cerita Aizuddin.

Sabtu 22 November 2014, sebanyak 60 orang dari unsur Muspida Aceh Jaya jelajahi beberapa objek wisata Aceh Jaya, yang dipimpin Bupati, Azhar Abdurrahman. Salah satunya Pulau Reusam. Di perairan pulau itu jet ski meraung-raung, dikemudikan para profesional. Sebagian membersihkan lokasi pantai dan memancing di tebing-tebing. Aroma ikan bakar menguar di malam hari. Mereka berkemah.

Saat ini, Selasa, atau dua hari setelah acara itu, Kabid Pariwisata menemani kami dengan senang. Melalui jalan setapak yang dipandu seorang warga. Berjalan di bawah kanopi pepohonan yang beragam jenis.

Samsuar memperlihatkan spot-spot menarik ketika kami sudah di puncak ketinggian bukit Pulau Reusam, sekira 50 mdpl. Di utara, terlihat Pulau Ujung Barueh. Jalur tsunami 2004 memotong bagian ujung pulau ini hingga membentuk pulau baru yang lebih kecil. Kemudian hari, dibangun sebuah mercusuar oleh Dinas Perikanan dan TNI AL di Pulau Ujung Barueh mini itu.Untuk memantau aktivitas laut di sekitar.

Pemandangan di pantai Reusam

Pemandangan di pantai Reusam | Ikbal Fanika

Kami turun. Melibas trek yang lembab. Ilalang meraih pinggang kami, saat berhenti di ketinggian 20 mdpl. Di titik spot mancing yang tidak rubuh diterjang tsunami. Dari sini, perjalanan memutar ke selatan, mengakhiri keliling setengah Pulau Reusam di pantai yang landai.

“Pulau Reusam milik Raja Rigaih keturunan Teuku Umar,” beber Samsuar.

Sebab itulah, pulau seluas 16 hektare ini sulit dipoles Pemkab karena harus membeli lahan terlebih dahulu. Pun begitu, pengelolaan sebagai objek wisata sudah terbuka lebar dengan kebijakan Bupati yang langsung memprioritaskan Pulau Reusam sebagai destinasi andalan di Aceh Jaya.

Azhar bahkan beberapa kali mencari spot menyelam di perairan sekitar Pulau Reusam.  Dia bersama Kapolres Aceh Jaya, Dandim 0114, didampingi Panglima Laot setempat, menyelam hingga ke dasar laut pada 11 Oktober 2014. Didapatinya titik terumbu karang yang masih alami.

“Pulau ini menjadi objek wisata yang patut disambangi di Aceh Jaya,” kata Azhar kepada media online lokal.

Pulau Reusam merupakan satu dari 16 pulau di perairan Aceh Jaya yang sudah terdata dan memiliki nama. Tahun-tahun sebelum Aceh Tourism berkunjung, pulau ini sudah menjadi tujuan tamasya warga lokal. Pada hari-hari libur, mereka datang dengan boat nelayan dari TPI Lhok – Rigaih. Pelancong tidak hanya menikmati panorama alam dari garis pantai berpasir putih sepanjang 300 meter, tetapi juga mengagumi nilai historis yang terdapat di pulau itu.

“Pada masa Agresi Belanda, pulau ini dijadikan tempat singgah kolonial Belanda,” tutur Samsuar.

Suatu masa, warga menemukan 10 meriam di bukit Pulau Reusam. Peninggalan perang itu kemudian dikosongkan dari pulau karena suatu alasan. Kami pun tak sempat melihat lagi benda-benda tersebut. Tetapi, dua dari lima kru Aceh Tourism coba mencari spot snorkeling di halaman Pantai Pulau Reusam.

Kami menyelam permukaan di separuh garis pantai. Hasilnya, tidak ada terumbu karang dan ikan-ikan yang mungkin kita temui di Pulau Rubiah, Sabang. Angin barat menyulitkan kami untuk menjangkau area lebih jauh. Ombak besar pun menggagalkan rencana kami nikmati satu titik yang sudah dipastikan sebagai spot snorkeling, terletak di antara tebing-tebing yang tidak jauh dari dermaga.

Menjelang siang, Samsuar menyatakan, Pemkab Aceh Jaya tengah gencar membangun pariwisata. Di Pulau Reusam, baru ada dermaga untuk memudahkan kunjungan turis. Selanjutnya, mereka akan menyediakan fasilitas publik lainnya seperti sumur air tawar. Mereka sudah mencoba gali sumur dan mendapati airnya tidak asin.

“Pulau Reusam ini perlu dipromosi apa adanya, jangan muluk-muluk,” kata Kabid.

Di samping membangun fasilitas pendukung, kini pihaknya terus memberikan wawasan wisata kepada masyarkat di objek daerah tujuan wisata, melalui Kelompok Sadar Wisata yang dibentuk sejak awal 2014.

Tadi malam di Pay Kuphi Kota Calang, Aizuddin bilang: “Matahari terbit bisa terlihat di Pulau Reusam dan pada sore kita bisa memutar ke barat pulau untuk menikmati sunset.” Sayangnya, kami cuma dua jam di sana; dari jam 10 pagi sampai jam 12 siang. Artinya, ke Pulau Reusam kami harus kembali.(Makmur Dimila)



Makmur Dimila

Hobi jalan-jalan, suka nulis, dan ngopi arabika. Simak ceritanya di safariku.com