Pulo Aceh, Keindahan yang Tersembunyi | Aceh Tourism

Pulo Aceh, Keindahan yang Tersembunyi

Peserta Media Field Trip Explore Destinasi Pulo Aceh berpose di puncak mercusuar_Foto Mamu 1

Panorama indah dari puncak mercusuar Willem’s Toren Pulo Breueh

Boat kayu Kapal Motor (KM) Aroeh Bintang mulai memutar haluannya. Teluk Lamteng yang tenang, pagi itu mendadak riuh. Tawa dan celoteh bocah Pulo Nasi yang sibuk mengkail ikan menjadi tontonan menarik bagi pelancong yang rindu masa kecil.

Airnya yang bergradasi hijau toska sedikit kecokelatan karena kapal yang membawa saya mulai melepas sauhnya, hendak ke satu pulau lagi di seberang. Untuk pertama kalinya seumur hidup, saya akhirnya bisa menjejakkan kaki ke pulau terbarat Indonesia. Pulo Breueh.

Dalam kapal ini, saya bersama 9 peserta Media Field Trip event Explore Destinasi Pulo Aceh 2015, yang diselenggarakan Badan Pengusahaan Kawasan Sabang (BPKS). Selain Pulau Weh, Sabang, Pulo Aceh—yang di dalamnya terdapat Pulo Nasi dan Pulo Breueh, Aceh Besar, juga menjadi tugas BPKS dalam mengembangkan potensinya.

Angin laut mendesir sedikit kencang seperti alunan rangkaian nada yang terus menghentak beriringan dengan degupan detak jantung. Tiupannya tergantung gelombang laut. Naik-turun seiring dengan tinggi rendahnya ombak.

Hanya berselang beberapa menit, sudah kelihatan pulau-pulau yang ditumbuhi kelapa. Nyiur daunnya menyambut kami untuk segera berlabuh. Kapal sedikit bergoyang keras ketika mulai memasuki arus yang cukup kuat. Arus Lampuyang.

“Itu Pulau Tengkorak, Yud,” seru Tengku Samad.

Pria bertubuh gempal dan berkulit gelap ini adalah penduduk asli Pulo Nasi. Pulo Tengkorak yang ditunjuknya itu tak lebih dari sebuah pulau kecil bulat yang terletak persis di sebelah Pulo Breueh. Tak ada bentuk tengkorak. Hanya saja masyarakat setempat suka menyebutnya demikian.

Tiba-tiba, sang pawang boat melambatkan laju kapal. Lalu berbelok ke kiri. Seolah ada gerbang yang menganga seperti berasal dari kerajaan ala eropa abad 15. Saya terkesima dengan kesan pertama. Dua buah punuk bukit—tanjung—yang saling berdekatan memberikan celah yang cukup unik.

Kedua tanjung itu saling berhadapan. Hanya dipisahkan oleh permukaan air laut selebar kira-kira 60 meter. Cukup satu atau dua boat kayu masuk. Seperti sebuat selat kecil sebagai tempat keluar masuk kapal lengkap dengan pintu gerbang. Sebuah mahakarya yang unik dari alam untuk Teluk Lampuyang, Pulo Breueh.

Gampong Lampuyang, Mukim Pulo Breueh, merupakan ibukota Kecamatan Pulo Aceh. Namun suasana di dermaganya lebih sepi bila dibandingkan dengan Dermaga Lamteng, Mukim Pulo Nasi. Dermaga Lampuyang hanya ramai saat hari kerja tiba.

Tengku Samad, mengatakan, hari Senin adalah hari paling ramai di Lampuyang. Begitu pun kala setiap sore hari, akan ada beberapa boat yang masuk ke dalam pelabuhan. Mereka akan menurunkan penumpang, sepeda motor, sampai bahan baku keperluan sehari-hari di Pulo Breueh.

Mengingat aksesnya yang sedikit repot, tak salah bila akhirnya dua pulau berpenghuni di ujung barat Indonesia itu menjadi destinasi bagi mereka yang merindukan ketenangan yang berbanding lurus dengan sebuah keindahan yang luar biasa.

Di dermaga, kami sudah dinanti oleh warga lokal yang ‘mendadak’ menjadi tour guide. Sedia dengan sepeda motor mereka masing-masing, untuk membawa kemana saja kami ingin. Dengan destinasi akhir Mercusuar William’s Torrent di Gampong Meulingge. Saya memilih ojek yang muda yang motornya berkapasitas mesin besar.

Deru motor memecah kesunyian pagi di Lampuyang. Memekik sekencang-kencangnya ketika ia mulai memasuki daerah yang berbukit terjal. Hampir 45 derajat kemiringan jalan menanjak yang menghubungkan Gampong Alue Paya dengan desa selanjutnya.  “Berhenti, Jol”.

Tiba-tiba saya melihat sebuah pemandangan seperti laut di luar negeri. Laut yang berpasir putih berbaur dengan hijaunya pohonan mangrove ditepian. Beberapa karang keras juga berdiri gagah di bibir pantai. Ombaknya yang mengalun teratur seperti membentuk tangga nada yang mengalun merdu. Pantai Ulee Paya.

Tapi perjalanan masih jauh. Motor kembali dipacu oleh Jol sang driver. Rambutnya yang menguning menjadi berkilat-kilat ketika disinari mentari. Kulitnya yang hitam legam menyemburatkan aroma laut. Khas anak pulau.

Perlahan tapi pasti, motor ini memangkas habis setiap tanjakan terjal dan sesekali berbatu. Mesinnya semakin meraung-raung bersahutan dengan gertakan gear rantai yang mulai mengendur.

Satu-persatu Jol menunjukkan teluk dan pantai yang luar biasa. Saban kali di puncak bukit, ia selalu berhenti dan meminta saya untuk segera menyiapkan kamera. Membidik di sudut jauh. Sebuah teluk yang hijau toska, biru muda dan biru tua menyatu dalam deburan sempurna ciptaan Tuhan.

“Tak ada pantainya yang gagal,” tutur Mahmud, seorang pemuda Bandung yang diundang ke Field Trip-nya Explore Destinasi Pulo Aceh.

Saya setuju dengannya. Pulau ini memang tidak memiliki pantai yang gagal. Setiap teluk, setiap likok gunong-nya selalu menyajikan keindahan alam yang luar biasa. Mulai dari Pantai Lambaroh sampai Pantai Deumit. Mulai dari Pantai Rinon sampai Pantai Meulingge. Setiap pantai memiliki keindahan tersendiri.

Tapi bagi saya, Pantai Meulingge-lah sang juara dari barat ini. Meulingge, sebuah desa yang berpenghuni paling barat negeri ini, ternyata menyimpan surganya sendiri. Tidak lagi terbuang, tidak lagi tersisihkan. Meulingge, telah bersolek rupa. Sesekali, sinyal handphone akan menyala. Listrik sudah menyala penuh seharian. Masyarakatnya yang ramah dan welcome. Dan lautnya, tetap tak terjamah.

Saya merasa beruntung, ketika menyaksikan segerombolan ikan teri bermain di pinggir dermaga yang kini sudah kokoh. Tak perlu lagi berenang untuk menyambanginya.

Kini segalanya telah bagus. Siang terik, angin sepoi-sepoi, lalu air laut yang bening. Bukankah semua ini adalah paduan sempurna yang selalu menjadi idaman setiap anak manusia yang mendambakan ketenangan berbalut keindahan yang tiada tara? (Yudi Randa)