Refleksi Kebangkitan Aceh di Sektor Pariwisata | Aceh Tourism

Refleksi Kebangkitan Aceh di Sektor Pariwisata

Aceh sedang giat-giatnya mempromosikan keindahan alam, keragaman budaya masyarakatnya, dan kekayaan masa lalu yang luar biasa. Di dalam membangun industry pariwisata melalui momentum peringatan 10 tahun tsunami, Pemerintah Aceh mengambil tema Refleksi Kebangkitan Aceh, ingin mengenalkan kepada masyarakat dalam dan luar negeri bahwa Aceh aman, nyaman, dan menarik untuk dikunjungi.


 

Reza Fahlevi

Reza Fahlevi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh

Nah, bagaimana Aceh membangun pariwisata pascatsunami? Simak wawancara Pemimpin Redaksi Aceh Tourism, Saniah LS, dengan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Reza Fahlevi, di bawah ini:

Bagaimana Anda melihat pertumbuhan sektor industri pariwisata di Aceh pascabencana tsunami?

Kejadian tsunami salah satu hikmahnya membuat Aceh semakin dikenal dunia internasional sehingga ketika kita akan mempromosikan Aceh sebagai destinasi pariwisata, respons masyakarakat internasional baik dan kita bisa melihat dari tahun ke tahun pascatsunami kunjungan wisatawan terus mengalami peningkatan.

Saat ini kita bisa melihat juga tumbuhnya industri pariwisata di Aceh, baik itu perhotelan, restoran, transportasi, semakin meningkat. Hal ini juga didukung dengan membaiknya perekonomian masyarakat nasional dan international, khususnya golongan menengah yang menjadikan wisata sebagai gaya hidupnya. Sehingga banyak daerah di Indonesia yang mengandalkan sektor pariwisata untuk menarik wisatawan dari berbagai penjuru dunia.

Menurut Anda mengapa harus pariwisata menjadi unggulan untuk meningkatkan pendapatan daerah?

Pertama, karena Aceh punya potensi begitu besar, khususnya budaya dan alamnya. Aceh punya pantai, punya pegunungan yang indah dan punya atraksi budaya yang layak untuk dijadikan daya tarik wisata. Kemudian dalam membangun Aceh ini, kita tidak hanya mengandalkan sumber daya alam yang akan habis bila terus dieskploitasi dan berdampak pada linkungan. Kalau pariwisata kan tidak, malah sangat menjaga lingkungan. Dan satu hal lagi, uang yang dibawa para turis ke daerah kita akan langsung diterima oleh masyarakat.

Apa yang perlu dilakukan agar Aceh menjadi destinasi wisata bagi masyarakat dalam dan luar negeri?

Tentu banyak hal yang kita lakukan, dengan meningkatkan aksesibilitas sehingga Aceh ini dapat dengan mudah dijangkau oleh masyarakat internasional dengan melakukan penataan infrastruktur, melakukan promosi, melakukan pelestarian bangunan bersejarah, pemberdayaan masyarakat, dan yang paling penting adalah penyiapan SDM pelaku industri pariwisata yang standard internasional.

Jadi  kita semua harus siap, pelaku usaha harus tersertifikasi, salah satunya membuktikan bahwa masyarakat dan pelaku pariwisata di Aceh mampu bersaing dan ini juga menjadi tantangan pemerintah dalam mengembangkan kapasitas masyarakat dan para pelaku usaha ke depannya.

Sekarang momentum peringatan 10 tahun tsunami itu akan menjadi semangat baru bagi masyarakat Aceh. Bisa dijelaskan semangat seperti apa?

Untuk berbicara tentang kebangkitan makanya tema peringatan 10 tahun tsunami adalah Refleksi Kebangkitan Aceh. Ada empat filosofi yang akan kita bangun. Pertama, bagaimana kita selalu membangun refleksi untuk mengingat kejadian masa lalu. Kita tidak mau anak cucu kita lupa apa yang telah terjadi di masa lalu. Kedua, bagimana melakukan apresiasi berterima kasih kepada siapa pun, khususnya masyarakat dunia yang telah membantu Aceh pascabencana tsunami. Ketiga, membangun mitigasi bencana, kesiapan masyarakat Aceh menghadapi bencana dan edukasi yang ditanamkan. Dan keempat, Aceh hari ini sudah sangat terbuka masyarakatnya.

Nah, melalu momentum ini kita mencoba mempromosikan Aceh dengan berbagai keunggulan alamnya, keindahan alamnya, keanekaragaman budayanya. Aceh juga memiliki kekayaan masa lalu yang luar biasa, tentunya di sini kita mempromosikan Aceh sebagi daerah tujuan wisata tsunami, sebagai segmen pasar baru yang sangat diunggulkan karena berbicara pariwisata tsunami hanya ada di Aceh.

Kenapa tsunami itu bisa dijadikan salah satu daya tarik wisata?

Sebenarnya situs-situs tsunami dibangun dan dilestarikan tujuannya untuk ilmu pengetahuan untuk kepentingan sejarah sehingga anak cucu kita dan generasi yang akan datang tahu bagaimana peristiwa yang sangat dahsyat ini terjadi di Aceh, tetapi lebih diutamakan untuk kepentingan edukasi bencana bagi generasi akan datang.

Tetapi seiring berjalannya waktu, ini ternyata menjadi pariwisata karena banyak sekali kunjungan di lokasi situs tsunami tersebut. Oleh karena itu, tentu Dinas Kebudayaan dan Pariwisata mengelola ini dengan baik dengan meningkatkan kualitas pelayanan, menyediakan infrastruktur yang baik, sehingga turis nyaman ke objek-objek tsunami. Dan saat ini salah satu objek yang paling banyak dikunjungi adalah museum tsunami dan PLTD Apung.

Memang ada negara lain yang mempertanyakan tentang hal ini, apakah kita menjual kesedihan, tentu kita menjawabnya seperti yang kita katakan: kepentingan utama adalah ilmu pengetahuan tentang tsunami. Wisatawan kemudian tetarik karena dia ingin tahu bagaimana tsunami terjadi sehingga masyarakat internasional dapat belajar tsunami di Aceh.

Sudah 10 tahun bencana tsunami berlalu, masyarakat dalam dan luar negeri terus berdatangan ke Aceh untuk mengetahui lebih dekat bagaimana masyarakat Aceh bangkit setelah tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Angka kunjungan turis ke Aceh terus mengalami peningkatan.

Dari catatan Disbudpar Aceh, pada 2013 jumlah kunjungan wisatawan berjumlah 1,118,178 orang. Terdiri dari wisman (wisatawan mancanegara) sebanyak 42,552 orang dan wisnu (wisatawan nusantara) sebanyak 175,676 orang. Meningkat 8 persen dibandingkan 2012 yaitu berjumlah 1,55 juta orang. Sedangkan pada semester satu yaitu per Juni 2014, angka kunjungan wisatawan sudah mencapai 463,513 orang atau wisman sebanyak 22,596 orang dan wisnu sebanyak 440,917 orang.  Hal ini ada peningkatan dibandingkan bulan yang sama di 2013. (*)