Sebut Banda Aceh dengan Kota 15 Menit | Aceh Tourism

Sebut Banda Aceh dengan Kota 15 Menit

kota Lima Menit

Entah siapa yang memulainya atau hanya iseng atau gurauan belaka, namun kini Ibukota Provinsi Aceh, Banda Aceh mendapat julukan baru, “kota 15 menit”. Sebelumnya Banda Aceh disematkan julukan “kota seribu warung kopi” karena begitu mudahnya mendapatkan warung kopi di kota ini.

Sebaran objek wisata di dalam Kota Banda Aceh yang tidak jauh satu sama lain, membuat kota yang dikelilingi laut ini mendapatkan banyak julukan oleh wisatawan yang berkunjung kemari. Meski kalau dihitung-hitung dari pusat kota ke tempat-tempat objek wisata yang ada di kota ini tidak semuanya dapat ditempuh dalam waktu 15 menit. Namun Banda Aceh mendapat sebutan baru, yaitu “kota 15 menit”.

Untuk membuktikan kebenaran julukan itu, Aceh Tourism, Senin, 11 November 20013 lalu menyelusuri beberapa objek wisata di Banda Aceh dengan berjalan kaki. Dimulai perjalanan dari arah Peunayong menuju Masjid Raya Baiturrahman, ikon wisata religi Kota Banda Aceh. Aceh Tourism berjalan kaki sekitar 2 Kilimoter pada jam 10.00 WIB.

Melewati Rex (pusat kuliner) menuju Jalan TP Polem, Simpang Lima, Jembatan Pante Pirak, Sekber (Kantor Berita Antara lama), Telkom, Seramoe Aceh (Infokom), menyeberang jalan tiba di Masjid Raya Baiturrahman pada pukul 10.15 WIB.

sun set alue naga

Kemudian pada pukul 11.00 WIB melanjutkan perjalanan lagi dari Masjid Raya Baiturrahman menuju Museum Tsunami dan Blang Padang. Jalan kaki dari arah Taman Sari, melewati Kantor Walikota Banda Aceh. Tiba di simpang lampu merah menyeberang ke arah bekas Kantor Satpol PP dan WH Kota Banda Aceh tiba di Museum Tsunami atau Blang Padang pada jam 11.15 WIB.

Di Blang Padang Anda bisa memilih berbagai aktifitas. Berolahraga sejenak berjalan kaki atau berlari mengelilingi Blang Padang. Jika sudah lapar dan haus, di sekitar Blang Padang Anda bisa menikmati kuliner dengan harga murah. Atau Anda bisa berfoto ria, mengabadikan diri di Tugu Pesawa RI-001 (cikal bakal pesawat Garuda Indonesia).

Sedangkan di Museum Tsunami, Anda bisa berwisata sambil mengenang peristiwa miris yang telah merenggut ribuan nyawa para syuhada, gempa bumi dan tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Karena saat memasuki objek wisata dengan arsitetur berbentuk kapal pesiar itu berbagai miniatur keganasan tsunami terpajang di sana.

Pada jam 12.00 WIB, Aceh Tourism melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dari Museum Tsunami menuju Kapal Apung. Tiba dilokasi tepat pukul 12.15 WIB. Dari Kapal Apung jika Anda ingin melanjutkan perjalanan ke Kuburan Massal atau Masjid Baiturrahim Ulee Lheue (masjid yang selamat dari tsunami) dengan berjalan kaki memakan waktu 15 menit.

Banyak lagi tempat-tempat objek wisata yang bisa Anda kunjungi dengan berjalan kaki dari Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh. Waktunya juga sekitar 15 menit. Misal dari Museum Tsunami ke Museum Aceh. Aceh Tourism mencoba berjalan kaki pada esok harinya, Selasa 12 November, jam 12.00 WIB. Berjalan kaki melewati simpang lampu merah, menyeberang, melewati Sultan Selim II, Pendapa Gubernur Aceh, dan tiba ke Museum Aceh pukul 12.15 WIB.

Aceh Tourism kembali lagi ke Masjid Raya Baiturrahman. Mencoba lagi perjalanan dari masjid kebanggaan ureung Aceh (orang Aceh) ini pada jam 14.00 WIB (ba’da dzuhur) ke masjid bersejarah Tgk Dianjong. Masjid yang hancur saat tsunami dan telah dibangun kembali ini berada di Desa Peulangkahan, Kecamatan Kutaraja.

Menuju ke tempat ini dengan waktu 15 menit, Aceh Tourism melewati Jalan Cut Mutia, bertemu terminal labi-labi Keudah. Dari terminal, berjalan kaki kembali dan tiba di Simpang Keudah. Dari simpang Keudah sekitar 100 meter, tiba di Masjid Tgk Dianjong pada pukul 14.15 WIB.

Di tempat ini objek wisata sejarah dan religi bisa dinikmati para pelancong. Kebanyakan yang datang kemari wisatawan dari Malaysia. Karena di tempat ini ditemukan beberapa bukti sejarah kedekatan Malaysia dan Aceh pada masa Sultan Iskandar Muda.

Dari Masjid Tgk Dianjong, kemudian Aceh Tourism melanjuti perjalanan pada pukul 14.30 WIB, ke Tugu Kilometer Nol Kota Banda Aceh (pertapakan Kerajaan Aceh yang dibangun oleh Sultan Johansyah pada 1 Ramadhan 601 Hijriah) di Gampong Jawa.

Melewati Gampong Pande dan melintasi bekas pasar jual onderdil sepeda motor bekas, Aceh Tourism tiba Radio Bintara FM. Sekitar 300 meter dari tower radio, terlihat Tugu Kilometer Nol Banda Aceh setinggi paha orang dewasa yang dituliskan dalam tiga bahasa, bahasa Aceh, Indonesia, dan Inggris.

Tugu itu bertuliskan “Disinöi asai muasai mula jadi Kuta BANDA ACEH teumpat geupeudong keurajeuen  Aceh Darussalam lé Sôleuthan Johansyah bak uroe phôn puasa Ramadhan thon 601 Hijriah”. Menjelaskan asal muasal Kerajaan Aceh Darussalam dan Kota Banda Aceh.

Setelah keliling Kota Banda Aceh dengan berjalan kaki dari Peunayong hingga ke Tugu Kilometer Nol Banda Aceh di Gampong Jawa, baik dari Masjid Raya Baiturrahman atau dari Museum Tsunami, Aceh Tourism telah membuktikan waktu yang ditempuh 15 menit. Jadi tak salah bila kini Kota Banda Aceh dijuluki para turis lokal maupun manca negara sebagai “kota 15 menit. (Idrus)