Seni yang Bicara Tsunami | Aceh Tourism

Seni yang Bicara Tsunami

Karya lukis bertema tsunami yang dipajang di Museum Tsunami Aceh.

Karya lukis bertema tsunami yang dipajang di Museum Tsunami Aceh | Rinaldi AD

Seni dalam batas tertentu tidak saja menjadi media hiburan. Seni sebagai alat bisa saja menjadi penyampai bagi apresian. Nilai kebergunaan seni dalam konteks ini tentu saja tidak tunggal. Seni tradisi misalkan, Aceh adalah lumbungnya tradisi tutur. Sebut saja nandong, hikayat dan hadih maja hingga seni tutur “PMTOH”.

Namun demikian, dalam ranah seni terkini Aceh juga tak kalah banyak menghasilkan karya dengan muatan pesan tertentu. Dalam hal ini pesan tentang tsunami (dalam bahasa tradisi lisan Aceh disebut “Smong”, “Ie Beuna” hingga “Geulumbang Raya”).

Dalam konteks tsunami, seni Aceh tidak menjadikan seni hanya tamat pada “seni”. Artinya, tanpa memuat sesuatu pesan apa pun. Nandong misalnya, seni lisan dari Simeulue ini adalah seni bertutur yang menyampaikan pesan dan nasehat yang sudah turun-temurun mengetengahkan perihal kesadaran bagaimana menghadapi bencana smong.

Keberadaan seni ini tentu saja menjadi sangat bermakna dalam meminimalisasi jatuhnya korban. Dan hal ini sudah terbukti dalam bencana mahadahsyat 26 Desember 2004. Simeulue adalah tempat paling sedikit menelan korban. Ternyata, syair nandong telah menyebar dalam kesadaran masyarakat di sana. Berikut sepotong syairnya:

Smong rume-rumemo/
Linon uwak-uwakmo/
Elaik keudang-keudangmo/
Kilek suluhsuluhmo/

Tsunami air mandimu/
Gempa ayunanmu/
Petir kendang-kendangmu/
Halilintar lampu-lampumu.

Yoppi Andri, seorang seniman yang sedang memperjuangkan agar kata “smong”  menjadi bahasa yang konvensional penggunannya untuk menyebut peristiwa gelombang besar, adalah seniman yang sampai saat ini giat mengangkat kembali seni tutur nandong.

Tidak hanya dalam seni tradisi, tsunami 26 Desember 2004 kerap dieksplor menjadi ungkapan-ungkapan subjektif seniman dalam memaknai peristiwa paling dahsyat di abad modern. Tsunami seakan telah menjadi ladang baru bagi seniman dalam memberangkatkan imajinasi hingga menyentuh pinggir-pinggir realitas masyarakat paska bencana.

Dari kejauhan dan tampak sayup-sayup, Mesjid Baiturrahim Ulee Lheue berdiri tegak tak tergoyah. Ia menjadi saksi betapa dahsyatnya gelombang menerjang perkampungan. Dikepung gelombang dahsyat, dalam logika manusia mesjid ini harusnya rata dengan tanah. Namun, ia tak tertergeser se-inchi pun.

Inilah gambaran visual dalam lukisan Mahdi Abdullah dengan komposisi mesjid Baiturrahim dan di hadapannya lidah gelombang membentuk asma Allah yang dilingkari lidah gelombang serupa. Ungkapan ini adalah bahasa visual Mahdi untuk menggambarkan betapa kecilnya manusia di hadapan sang penguasa hakiki.

Sementara, Mesjid Baiturrahim adalah simbol kekuatan dimana semua mesjid di wilayah terjangan tsunami selamat dan tak terseret. Mesjid ini peninggalan Sultan Iskandar Muda. Hingga kini masih berfungsi sebagai tempat ibadah dan banyak masyarakat berkunjung ke sana dalam rangka wisata spiritual.

Lukisan berjudul “261204” karya Mahdi Abdullah-pelukis kontemporer Aceh- menerjemahkan tsunami  sebagai “kode” atau “tanda” bahwa kekuasaan Allah akhirnya benar-benar ‘dipamerkan’ hari itu.

Lukisan yang menggunakan media cat minyak di atas kanvas berukuran 134 x 140 cm ini dibuat tahun 2005. Kini dikoleksi oleh Jeff Hoppenbrouwers, Belanda. Selain itu, lukisan ini meskipun mengangkat tema kedahsyatan tsunami, namun Mahdi tidak serta merta membahasakan visualnya dengan simbol-simbol keterpurukan.

Dalam karya film, tsunami juga menjadi titik anjak untuk menarasikan berbagai macam persoalan. Film “Sang Pemberani” contohnya. Film yang mengambil setting di Aceh dan beberapa tempat lain ini mengetengahkan kisah perjuangan karateka Aceh dalam mencapai cita-citanya. Diperankan oleh mantan Miss Indonesia Artika Sari Devi, film ini mengajak penonton dalam memahami sepenggal kisah dari kebanyakan korban tsunami yang mampu bertahan-bahkan bangkit kembali-setelah musibah.

Film ini tidak sekedar menyuntik semangat perjuangan dan nasionalisme, dengan setting tempat-tempat eksotis di Aceh dan Bali semisal saat tokoh utama latihan karate di atas karang tepi pantai dengan latar senja kekuningan. Kian menambah estetika visual. Dan juga bagaimana film ini dibuka oleh penampilan tari saman oleh sekelompok gadis dengan mengambil tempat di atas Kapal Apung di Punge, Banda Aceh. Kapal Apung adalah saksi sejarah dahsyatnya tsunami yang kini ramai dikunjungi wisatawan. Baik lokal, domestik dan mancanegara. Popularitas Kapal Apung makin mendunia setelah dipugar oleh pemerintah.

Bencana memang meninggalkan macam kegetiran. Namun melalui mediaseni bencana mendapat sudut pandang lain dan tafsir berbeda. Bahkan tidak semata menjadi media hiburan. Tapi bisa jadi media terapi yang dapat menyembuh luka traumatis. Dan dapat juga menjadi sarana mengabarkan eksotisme Aceh yang belum sepenuhnya digali. (Idrus bin Harun/dbs)