Simeulue Surganya Mancing Mania | Aceh Tourism

Simeulue Surganya Mancing Mania

macing-mania-simeulue

 Foto: Aqil Rozha :Spot mancing di Perairan Simeulue

 

Kabupaten Simeulue dikelilingi Samudera Hindia. Ia berjarak sekitar 150 Kilometer dari lepas pantai barat Aceh. Pagi itu, Bayu  Noer dan beberapa pehobi mancing menaiki kapal KM Pulau Siuman. Dari Pelabuhan Kargo Simeuleu, mereka menuju arah barat. Langit kurang cerah, namun tak menciutkan nyali mereka berburu spot mancing.

Bayu dan kawan-kawan langsung melempar umpan di spot pertama. Sebuah pulau kecil tak jauh di depan, menjadi pilihan pemandangan lain sembari menanti ikan menerkam umpan atau dikenal strike. Seorang di antara mereka, Adi, langsung merasakan umpan popper-nya disambar ikan. “Strike!” katanya girang.

Ia berdiri di atap kapal. Badannya membungkuk dan menegak berulang kali saat mengangkat ikan. Kerena kesulitan, Adi mengoper jorannya kepada Frans yang mengulurkan tangan di bawahnya, untuk mencegah tali putus karena perlawanan ikan yang liar. Ikan memberikan perlawanan sengit, membuat Frans mengikuti gerak ikan yang mengelilingi bagian depan kapal.

Adi kembali mengambil alih. Sekuat tenaga, ia pun berhasil mengangkat ikan kuwe (gian trevally) berukuran sedang. Sebesar badannya. “Mancing Mania, mantap!” teriaknya seraya memamerkan tangkapan ke depan dadanya. Sesaat kemudian, ikan itu diceburkan kembali ke laut.

Bayu juga ingin bertarung. Dia membalut kepala dengan kaos dan topi serta mengenakan kacamata hitam. Berpakaian demikian membuat dia leluasa memompa joran saat strike.Tanpa henti ia memompa agar ikan tak sempat isi ulang tenaga. Lima menit strike, ikan langguran (blue fin trevally) menyerah pada Bayu. Namun ikan itu dicebur ke air setelah dilepas mata kailnya.

Langit mulai mendung jelang siang. Namun mancing harus tetap berlanjut. Frans pun meraih strike pertamanya. Dari bibir ujung kapal, ia menggoyang-goyangkan badannya. Memompa joran. Dan, ia dapat seekor green job fish ukuran sedang. Ikan ini termasuk predator bagi ikan-ikan karang. Senyum kemenangan terlihat di wajahnya yang berkaca mata hitam.

Frans, pemancing asal Banda Aceh, sedang beruntung. Sore hari, umpan popper-nya kembali disambar ikan. Perlawanan ikan membuat katrol atau reel berdering keras. “Kamu bisa!” Bayu memberi semangat pada Frans yang terus mengangkat ikan. Sepuluh menit berlalu, seekor gian trevally besar berhasil dinaikkan ke boat.

“Spot Simeulue, keren,” puji Frans sambil mengacungkan jempol.

Ikan jiti—istilah pendek untuk gian trevally—dilepas ke samudera. Mereka memancing ikan bukan untuk dikonsumsi, tapi menikmati sensasi strike. Dapat ikan adalah kebanggaan dan kepuasan. Trip kemudian dilanjutkan ke Spot Batu Berlayar.

Tak puas sehari,  berburu spot strike dilanjutkan besoknya. Mereka berangkat sebelum mentari terbit. Ada perbedaan. Eko, pemancing asal Medan, dengan teknik trolling atau kail diseret di belakang kapal, mendapat strike pertama. Ia memompa joran dengan sigapnya. Lagi-lagi, jiti berukuran kecil.

Umpan popper Frans disambar ikan setengah jam kemudian. Dia pun seperti artis Bollywood, berjoget di dek kapal dengan jorannya. Tak butuh waktu lama, seekor jiti ukuran sedang berhasil diangkat.

“Mancing Mania mantap. SimeulueKoko,” celutuk Frans, pria yang akrab disapa Aheng ini.

Hari semakin cerah saat mereka berpindah ke spot berikutnya. Keberuntungan lagi-lagi memihak Frans. Seekor blue fin trevally kembali dinaikkannya ke kapal. Disusul Eko dengan teknik trolling. Keberhasilan Eko menular ke Atek. Dengan teknik trolling, ia dapat seekor cakalang besar, ikan sebangsa tongkol.

Strike demi strike yang dialami para pemancing mania bagai sebuah parade tangkapan kailberlangsung di perairan Simeulue. Mereka tak berhenti. Frans seperti raja mancing. Ia lagi-lagi strike. “Ini hiu kayaknya,” ujar Frans. Jorannya melengkung tajam.

Benar! Frans rupanya dapat seekor hiu sirip hitam besar. Sebuah tantangan untuk melepas kail dari mulut hiu yang sudah lunglai. Butuh tiga orang untuk menyudahi perlawanan hiu yang dilestarikan itu. Dengan aura senang, mereka merilis kembali hiu tersebut ke laut.

Para pemancing mania kerap kali disuguhi pemandangan indah karang-karang pulau. Selain Eko, Adi, Putra, dan Frans, Bayu Noer juga ditemani pemancing lainnya, seperti Sugi asal Jakarta, Andre asal Medan, dan Salahuddin asal Simeulue. Acara Mancing Mania Trans 7 bertajuk Parade Strike Pulau Simeulue pun semakin meriah.

“Di Siemelue banyak pulau-pulau kecil yang awalnya tenggelam, timbul kembali akibat tsunami 2004,” komentar Bayu, yang lebih banyak menjadi penonton di hari kedua. Dia menjumpai banyak pulau-pulau pasir muncul ke tengah permukaan selama parade strike.

Pada hari ketiga parade strike, mereka terus berburu spot mancing potensial di perairan Simeulue. Berharap dapat ikan besar di hari terakhir. Strike datang silih berganti menjelang siang hari. Sugi, Frans, Andre, Salahuddin, dan Ujang mendapat strike pertama di hari terakhir.

Andre misalnya, terlihat kaku saat strike pertamanya di laut lepas. Ia dituntun Bayu dan kawan-kawan mengangkat barakuda ke dek kapal. Barakuda merupakan predator ikan-ikan karang yang juga sangat ditakuti para penyelam, kata Bayu.

Putra juga tak ketinggalan, ia dapat strike usai makan siang. Ikan kuwe ukuran sedang. “Mancing mania di Pulau Simeulu, mantap,” ucapnya. Saat sore, mereka mampir lagi ke Spot Batu Berlayar, mengakhiri petualangan.

Simeulue memfokuskan pembangunan daerah dari sektor perikanan dan pariwisata. Perairannya yang dikelilingi Samudera sangat diburu para pemancing mania.

Perjalanan ke sana dapat ditempuh melalui dua alternatif, udara dan laut. Penerbangan ke Bandara Lasikin dengan pesawat kecil Susi Air. Melalui laut, ada jalur yang dapat dipilih, yaitu Kabupaten Singkil, Sibolga Sumatera Utara, dan Labuhan Haji  Kabupaten Aceh Barat Daya.

Perjalanan laut akan melelahkan, dengan waktu tempuh berkisar 10-16 jam, tergantung lokasi pelabuhan.Namun kelelahan rute laut segera sirna oleh panorama Simeuleu yang eksotis. Kebanyakan wisatawan pun memilih transportasi laut karena lebih murah dari pada jalur udara. (Makmur Dimila)