Takengon, Surga Bagi Para Coffeeholic | Aceh Tourism

Takengon, Surga Bagi Para Coffeeholic

Ibu-ibu-dan-remaja-putri-sedang-bekerja

Ibu-ibu dan remaja putri sedang bekerja memberihkan dan memilih biji kopi berkualitas di salah satu tempat prosesing biji kopi di Aceh Tengah

The Paradise Land. Itulah julukan untuk kota dingin Takengon, Aceh Tengah. Rasanya julukan itu tidak berlebihan. Alam Aceh Tengah yang indah ditambah kekayaan alam berupa sejumlah tanaman berkhasiat tumbuh subur di sana. Tapi kekayaan alam ini terasa lebih lengkap dengan tanaman kopi arabica yang mutunya telah demikian mendunia.

Di lahan berbukit yang dikelilingi jutaan tanaman kopi arabika, tumbuh pula pohon avocado atau alpukat (persea americana) yang menghasilkan buah hijau kaya khasiat. Produksi kedua hasil tanaman khas Aceh Tengah ini tidak tanggung-tanggung. Kopi arabika Gayo yang tumbuh di atas lahan seluas 48 ribu hektar menghasilkan green bean sebanyak 27,7 ribu ton per tahun. Sementara buah hijau avocado, produksinya mencapai 1.522 kilogram per tahun. Bedanya, kopi arabika Gayo merupakan komoditi ekspor sedangkan avocado lebih banyak untuk kebutuhan lokal.

Menjelang tiba di kota Takengon, indra penciuman coffeeholic akan digoda oleh aroma kopi arabica Gayo. Sepanjang jalan memasuki kota Takengon, sejumlah cafe akan menyambut kehadiran para pecinta kopi. Melintasi jalan negara Bireuen-Takengon dan memasuki dataran tinggi Gayo, lambaian daun kopi di sisi kiri-kanan jalan pertanda ucapan selamat datang kepada pecinta kopi.

Berikutnya, tiba di Simpang Teritit Kabupaten Bener Meriah—sekitar 12 kilometer sebelum memasuki kota Takengon—para pecinta kopi bisa menikmati suguhan aneka varian minuman di dua cafe bernama Degot Cafe dan Bergendaal Koffie.

Sementara sekitar 4 kilometer sebelum mencapai pintu masuk Kota Takengon, pecinta kopi kembali disambut Cafe Batas Kota yang khusus menyediakan avocado coffee sebagai salah satu menu utama minumannya. Kemudian, 500 meter di depannya, tepatnya di Kampung Mongal terdapat laboratorium cita rasa kopi arabika milik Haji Rasyid dari Oro Kopi Gayo. Beranjak dari sini menuju arah kota Takengon, tepatnya di Simpang Empat Bebesen, perhatian pecinta kopi akan terpancing kembali dengan keberadaan HR Cafe di pinggir jalan.

Berjalan ke depannya lagi, masih di sekitar Simpang Empat Bebesen, pecinta kopi lagi-lagi akan bertemu dengan berbagai cafe. Menu utamanya? Berbagai varian minuman dari bahan baku kopi

Arabica seperti espresso yang rasa dan aromanya sangat menggugah selera. Cafe Bunda Hotel, Aman Kuba Cafe, ASA Cafe, Cafe Hotel Bayu Hill adalah pilihan cafe-cafe yang memancing perhatian coffee holic sebelum mereka benar-benar memasuki Kota Takengon.

Hanya itu saja? Masih banyak. Masuk di Kota Takengon pecinta kopi akan tiba di pertigaan depan Polres Aceh Tengah. Di sini tinggal pilih jalur. Lurus ke arah Simpang Lima ada Hip Coffee di selatan Masjid Agung Ruhama. Sementara jika mengarah ke Simpang Lima menuju Danau Laut Tawar, melalui Jalan SPG Lama, pecinta kopi akan bertemu Nami Cafe.

Apabila dari Simpang Lima pecinta kopi mengarah ke Pasar Inpres di Jalan Sengeda, Horas Kopi Gayo Cafe sangat mudah di temukan sebab berada tak jauh dari Hotel Mahara. Sekitar satu kilometer cafe ini, yaitu menuju Kebayakan, lagi-lagi coffeeholicbertemu Bergendaal Cafe yang berada di belakang Bank Mandiri. Ke depannya lagi, Cafe Lakun Coffee siap setiap saat menyambut para coffeeholic. Meninggalkan Cafe Lakun Coffee, tepatnya di depan SPBU Jalan Lintang, pecinta kopi bertemu dengan Lintang Cafe yang menyediakan espresso plus ikan bakar.

Tapi jika di pertigaan sebelumnya pecinta kopi berbelok ke kanan menuju Blang Kejeren dan Kutacane, ada Cafe BRI tepat di depan kantor BRI Takengon. Sekitar 100 meter darinya, Cafe Aroma Coffee menyambut.

Begitulah. Berada di Takengon, lidah coffeeholic benar-benar dimanjakan oleh puluhan cafe. Rata-rata minuman yang disajikan berupa espresso, black coffee, cappucino, cafe late, civet coffee, dan berbagai varian minuman kopi lainnya. Salah satunya yang cukup terkenal adalah avocado coffee.

Avocado Coffee, dengan kandungan kedua bahan bakunya telah dikenal berkhasiat jadi penangkal diabetes tipe-2 dan kanker. Tapi pertanyaan bagaimana meracik dua komoditas beda rasa ini menjadi satu minuman yang enak, akan menemukan jawabannya jika anda mengenal sosok bernama Win Ruhdi Bathin. Pasalnya, dari tangan pengelola Cafe Batas Kota di Paya Tumpi, Takengon ini tercipta varian minuman bernama avocado coffee.

Komposisinya terdiri dari secangkir espresso, susu foam, ditambah jus alpukat murni. Meraciknya mudah tetapi rasanya tentu akan berbeda dibandingkan dengan buatan peracik aslinya, Win Ruhdi Bathin. Sementara bahan baku untuk secangkir espresso, kata Win Ruhdi, yaitu berasal dari biji kopi arabica Gayo.
Harga secangkir espresso sangat murah dibandingkan dengan harga yang dipatok sejumlah cafe internasional yang bertebaran di ibu kota Jakarta. Pemilik cafe di Takengon memberi harga untuk secangkir espresso hanya Rp 6 ribu, dan untuk black coffee Rp 7 ribu.

Tidak lengkap rasanya jika menjelajah keindahan alam dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, sebelum menikmati segelas avocado coffee atau secangkir espresso dari buah kopi arabika pilihan. Dan bisa dipastikan coffeeholic tidak akan bermasalah dengan harga jika ingin mencicipinya. Sebab harga secangkir espresso sangat murah dibandingkan dengan harga yang dipatok sejumlah cafe internasional yang bertebaran di ibu kota Jakarta. Para pemilik cafe di Takengon hanya mematok harga Rp6 ribu untuk secangkirespresso, dan Rp7 ribu untuk secangkir black coffee.

Selebihnya, jika suatu kali Anda tertarik ingin ngopi di tengah-tengah kebun kopi. Tak ada pilihan kota lain di Ace
h kecuali Kota Takengon tempatnya. Hari ini, Takengon menanti kedatangan Anda para coffeeholic semua.[Muhammad Syukri]