Lawatan Tokoh Dunia Saat Aceh Berduka | Aceh Tourism

Lawatan Tokoh Dunia Saat Aceh Berduka

Mereka datang bukan untuk menikmati pesona alam yang indah atau mencicipi mi aceh yang khas. Justru sebaliknya, mereka melihat Aceh yang berduka.


 

Aceh seketika menjadi destinasi utama internasional. Sejumlah tokoh dunia mengunjungi bumi Iskandar Muda. Mereka datang bukan untuk menikmati pesona alam yang indah atau mencicipi mi aceh yang khas. Justru sebaliknya, mereka melihat Aceh yang buruk rupa.

Yusuf Islam

Yusuf Islam | islamhoy.com

Yusuf Islam | islamhoy.com

“… Ketika kita dilanda bencana ini, kita menemukan ke­benaran di dalam diri kita,” ujar penyanyi Inggris ternama, Cats Steven, memaknai gempa dan tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004, saat mengunjungi kamp pengungsian korban tsunami di Lamno, Aceh Jaya, pada sore 29 Januari 2005.

Cats Stevens terkenal dengan lagu popnya tahun 1970-an berjudul “Peace Train”. Dia memeluk Islam pada 1977 dan mengganti namanya menjadi Yusuf Islam. Dia juga mendirikan Yayasan Amal bernama Small Kindness.

Hari itu, dari Banda Aceh, Yusuf Islam menumpangi helikopter ke Aceh Jaya. Ditemani sang istri Fauziah Islam. Dia mendatangi kamp pengungsian dan menghampiri anak-anak.

Kedatangannya ke Indonesia juga dalam rangka mera­maikan acara malam amal bertajuk “Aceh Long Sayang, For a Brighter Future”, Senin, 31 Januari 2005 di Jakarta bersama sejumlah artis Indonesia, seperti Dewa, Ari Lasso, dan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib).

Kofi Annan

Kofi Annan | properashell.com

Kofi Annan | properashell.com

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa- Bangsa Kofi Annan memantau kondisi Kota Banda Aceh dan Meulaboh, 7 Januari 2015. Pada Jumat siang itu, Annan juga melihat kerusakan bumi Aceh lewat udara dengan helikopter.

Sekjen PBB ini mengungkapkan rasa simpatiknya bahwa ia belum pernah menyaksikan kerusakan yang luar biasa luas hingga bermil-mil. Dia memastikan, PBB akan mendirikan sebuah pusat komando multinasional di Banda Aceh untuk mempermudah koordinasi penyaluran bantuan.

Hassanal Bolkiah

Hassanal Bolkiah | roarnews.co.uk

Hassanal Bolkiah | roarnews.co.uk

Pada 1 Februari 2005. Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah mendarat dengan pesawat pribadinya sekitar pukul 09.30 WIB di Bandara Sultan Iskandar Muda. Pemimpin yang dikenal tegas dengan negara Islamnya ke­mudian ke­mudian singgah sebentar di Pendopo Gubernur sebelum meninjau lokasi bencana.

Selanjutnya, Bolkiah dan rombongan mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman dan Masjid Baiturrahim Ulee Lheue. Dua masjid ini tidak roboh oleh gelombang tsu­nami, malah menjadi tempat orang-orang menyelematkan diri. Setelah itu, dia melanjutkan penjalanannya ke Pulau Weh dengan helikopter.

Sultan kemudian mengalokasi beberapa bentuk bantu­an kemanusiaan, seperti obat-obatan dan tim relawan dari angkatan bersenjata. Disediakan juga bantuan helikopter dan pesawat. Relawan Brunei menjalankan tugas kemanu­siaannya di Kota Sabang bersama sejumlah tentara asing lain asal AS dan Prancis.

Bill Clinton

Bill Clinton | media.npr.org

Bill Clinton | media.npr.org

Sekitar tiga minggu kemudian, tepatnya 20 Februari 2005, dua mantan presiden Amerika Serikat, Bill Clinton dan George Bush mengunjungi Aceh dalam pengamanan yang ekstra ketat. Keduanya melihat-lihat dampak ben­cana di Banda Aceh dan kawasan Lampuuk Aceh Besar, sekaligus meninjau beberapa lokasi pengungsian.

Clinton dan Bush khusus diutus Presiden AS George Walker Bush untuk memimpin penggalangan dana bagi para korban tsunami. Clinton juga ditunjuk sebagai utusan khusus PBB untuk memantau akibat dari tsunami yang melanda beberapa negara.

Bagai pelancong yang tertarik dengan suatu destinasi, Clinton kembali mengunjungi Aceh pada Mei dan No­vember 2005. Pada 30 Mei itu, kedatangannya bertujuan mengadakan pertemuan dengan pejabat Pemerintah Indonesia, lembaga PBB, perwakilan masyarakat sipil dan bisnis yang ada di Aceh. Sementara pada 30 November, dia memantau proses pemulihan bencana.

Clinton mengunjungi beberapa barak pengungsi di Desa Lampuuk, Kajhu, dan Desa Cot Paya, Aceh Besar. Kunjungannya ketiga juga dalam kondisi Aceh yang damai setelah ditandatangani MoU Helsinki pada 15 Agustus 2005. “Saya merasa senang, melihat ada perubahan yang terjadi selama rekonstruksi,” tuturnya kepada wartawan di Barak Kajhu.

Jackie Chan

Jackie Chan | Jackie Chan

Jackie Chan | Jackie Chan

Giliran selebriti dunia yang datang pada Senin, 18 April 2005. Bintang film senior asal Hongkong, Jackie Chan beserta 33 orang rombongannya mengunjungi anak-anak korban tsunami di Aceh, membawa bantuan yang terkumpul dari masyarakat Hongkong untuk Aceh. Di antara rombongan aktor kocak ini, turut serta Miss World 2004, Maria Julia Mantilla Garcia dari Peru, aktor terbaik Hongkong, Eric Tsang, serta beberapa selebriti lain dari Cina dan Hongkong.

Sebagian penggemar Jackie Chan di Banda Aceh sudah mengetahui kedatangannya melalui sosial media. Teru­tama oleh WNI keturunan Tionghoa. Setibanya di Children Center Lampeneuruet, Aceh Besar, Jackie Chan sempat menolak turun dari bus karena banyaknya kerumunan massa. Namun petugas akhirnya bisa menetralisir suasana sehingga rombongan dapat mendatangi tenda anak-anak korban tsunami di Aceh yang saat itu mendapat conseling mental dari Unicef.

Dari Banda Aceh, Jackie Chan dan rombongannya ter­bang ke Jakarta. Mereka gelar acara malam dana bertajuk ‘The Lost Aceh’ di Balai Sudirman, Selasa, untuk meng­galang dana bagi proses rekonstruksi dan rehabilitasi Aceh dan Sumatera Utara. Sebelumnya, pada 7 Januari, Jackie Chan dan beberapa selebriti Cina juga menggalang acara serupa di Hongkong sebagai wujud simpati terhadap ben­cana tsunami yang melanda sebagian Asia.

Cristiano Ronaldo

Cristiano Ronaldo | sport.ro

Cristiano Ronaldo | sport.ro

Dua bulan kemudian, giliran bintang sepakbola dunia yang melawat. Cristiano Ronaldo alias ‘CR7’. Pemain tim­nas Portugal yang saat itu sedang membela Manchester United ini tersentuh ketika beberapa hari sebelum keda­tangannya, bocah Aceh korban tsunami berusia 10 tahun, Martunis, lebih dulu menjajal negaranya.

Ronaldo tiba di Jakarta sekitar jam 9 pagi, Sabtu, 11 Juni 2005. Ia setelah bertemu dengan beberapa tokoh nasional, langsung terbang ke Banda Aceh bersama rom­bongannya. Ia meninjau beberapa lokasi korban bencana sebelum bertolak ke Lapangan Neusu.

Di lapangan bola itu, sekitar jam 3 siang, Ronaldo ditunggu ribuan warga sehingga ia tidak mau turun dari bus. Rencana sebelumnya, dia akan bermain bola dengan anak-anak Aceh korban tsunami. Sayangnya, ketika sudah berada di tengah lapangan, dia terpaksa kembali naik bus karena kerumunan fans tidak bisa dikendalikan panitia dan pihak keamanan. Akhirnya, dia dan rombongannya balik ke Jakarta pada jam 6 sore.

Ingat Ronaldo, masyarakat Aceh tentu ingat Martunis. Bocah asal Gampong Tibang, Banda Aceh, ini yang saat kejadian mengenakan jersey timnas Portugal terombang-ambing selama 19 hari di laut sebelum ditemukan nelayan. Kisahnya disorot TV Inggris yang meliput bencana Aceh, hingga kabarnya menyentuh hati pemain timnas Portugal seperti Luis Figo, CR7, hingga presiden FIFA Sepp Blatter yang juga kunjungi Aceh pada 4 April 2006.

Mereka hanyalah sebagian kecil dari tokoh-tokoh dunia yang ke Aceh pasca tsunami 2004. Ada sejumlah figur lain disebut media massa saat itu kunjungi Aceh, sep­erti mantan Perdana Menteri Australia John Howard, PM Malaysia Mahatir Muhammad dan Muhmmad Mursi. Tentu ada banyak tokoh lainnya, dari lokal hingga mancanegara yang membantu Aceh. Kita pun patut mengucapkan terima kasih. (Makmur Dimila/dbs)

Tokoh Dunia Saat Aceh Berduka



Makmur Dimila

Lelaki yang hobi jalan-jalan dan suka nulis. Simak ceritanya di safariku.com