TOUR DE GAYO | Aceh Tourism

TOUR DE GAYO

SABTU malam 11 Oktober 2014, Puncak Oregon masih sepi. Semerbak bunga langka kantong semar dan edelwis yang tumbuh di gunung dengan ketinggian 1.800 meter di atas permukaan laut ini masih belum tercium. Di selatan Oregon, dua ratusan pesepeda asal Provinsi Aceh dan Sumatera Utara sedang berkumpul di Pendopo Bupati Aceh Tengah.


peserta Aceh Bike Cross Country

Peserta Aceh Bike Cross Country | Rinaldi AD

 

peserta Aceh Bike Cross Country (ABCC)

peserta Aceh Bike Cross Country (ABCC) | Rinaldi AD

Tour de Gayo

Wakil Bupati Aceh Tengah Khairul Asmara menyambut peserta Aceh Bike Cross Country (ABCC) 2 dengan jamuan makan malam ala Kota Dingin, seperti menu ikan depik khas Danau Laut Tawar dan kopi arabika. Panitia pun menghibur peserta dengan penampilan seni tradisional.

Kabut berarak pada sela-sela pegunungan Kota Takengon saat seluruh peserta berhimpun di halaman Kantor Bupati Aceh Tengah, Minggu pagi. Dibantu beberapa armada dari IOF Aceh, TNI dan Dinas Perhubungan (Dishub) Aceh Tengah, peserta diboyong ke Kota Redelong, ibu kota Kabupaten Bener Meriah. Warga yang sedang di luar rumah kaget melihat mobil bak terbuka yang mengangkut puluhan sepeda dan beberapa biker di dalamnya.

Lanskap pegunungan dari halaman Pendopo Bupati Bener Meriah membuat Nida tak sabar ingin gowes. Anggota komunitas sepeda Satelit ini salah satu dari lima peserta perempuan. Keindahan alam Takengon adalah motivasi terbesarnya turun di ABCC 2.

Sekitar 200 peserta dari berbagai komunitas menyemut di halaman pendopo. Dari Lhokseumawe, selain Satelit, ada juga Komunitas Sepeda Sport Lhokseumawe (Kosse), Debic, dan BNI Lhokseumawe. Serikat, Gobatek, TKCI, K 180, dan Dunia Barusa Bike dari Banda Aceh. Bickley Community Rantau (BCR) dari Aceh Tamiang. Brandan Bicycle Club dan Komunitas Sepeda Gunung Sumut (KSGS) dari Sumatera Utara, serta Happy Mountain Bicycle Club (HMBC) Takengon mewakili tuan rumah. Seragam biru-putih ABCC 2 dengan motif lumpur di pinggang membalut tubuh mereka, kecuali anggota BCR dan KSGS yang memakai kostum komunitas.

“Salam gowes!” Teriak Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh Reza Fahlevi mengawali sambutan. “Gowes!” Peserta menyahut bersemangat.

Lantas dia menyatakan kepada seluruh peserta bahwa ABCC 2 dalam rangka memperkenalkan wisata keindahan alam Dataran Tinggi Gayo, selain untuk berolahraga dan bersilaturrahmi sesama para biker.

“Kita have fun, bukan kompetisi. Silakan berfoto menikmati keindahan alam,” katanya.

Ketua Panitia ABCC 2 Mahyadi, sebelum pelepasan peserta oleh Wakil Bupati Bener Meriah Rusli M Saleh, mengingatkan peserta agar tidak membuang sampah sembarangan dan tidak memetik edelwis dan kantong semar yang ditemui selama bersepeda, tetapi silakan berfoto-foto.

Mulai jam 9 pagi, satu per satu sepeda meluncur ke selatan membelah pesawahan. Rambu-rambu berupa kertas merah-putih telah dipasang pada setiap titik jarak 1 km. Hal ini menjadi panduan bagi peserta yang gowes sendirian atau sesama komunitas.

Tim pengawal melaju beriringan di belakang peserta. Tim medis dengan mobil Ambulance, IOF Aceh, Dishub Aceh Tengah yang mengangkut pers termasuk Aceh Tourism, para ranger dan TNI yang mengendarai motor trail.

Perkebunan kopi arabika menyejukkan pandangan mata. Roda-roda sepeda XC yang digunakan biker untuk Cross Country melibas double track yang basah akibat hujan ringan semalam. Rimbunan tanaman petai di kebun kopi pun memayungi pesepeda. Beberapa petani yang tengah memetik kopi sejenak berhenti, menyaksikan pemandangan berbeda pagi ini.

Tantangan kecil datang selepas 15 menit. Peserta dipaksa menyeberang anak sungai yang membelah trek off road. Mereka yang biasanya gowes di jalanan aspal (on road) hati-hati menerjang aliran air dari pegunungan itu. Satu biker sempat bermasalah sebelum.

Namun semua peserta berhasil mencapai tanjakan pertama Oregon selepas melewati perkebunan kopi.  “Sejauh ini treknya bagus,” komentar Reza Fahlevi yang kini statusnya menjadi peserta.

Menjelang Pos 1, Kepala Disbudpar Aceh itu harus menuntun sepeda bersama puluhan peserta lainnya, termasuk Sekretaris Daerah Bener Meriah, T. Islah. Di sisi utara tanjakan, Kota Redelong jelas terlihat, disela hamparan persawahan dan perkebunan kopi. Pada satu titik yang rata selepas tanjakan, peserta rehat sejenak.

Mereka jeda bukan karena lelah, tetapi ada spot menarik untuk berpose bersama. Di sini menandakan bahwa mereka telah menyeberang ke Kabupaten Aceh Tengah, meninggalkan Bener Meriah. Sebagian bahkan membawa tongsis untuk menghasilkan foto selfie yang menggoda. Sebelum melanjutkan gowes, Reza Fahlevi pun diminta peserta untuk berpose bareng dengan latar panorama Bener Meriah.

Saat sampai di Pos 1 yang sudah ditunggu official, setiap sepeda peserta ditempelkan stiker kuning. Sesudah itu, trek terus menanjak hingga 12 km.

Medan terjal tak membuat Reza lelah. Anggota komunitas K 180 dari Banda Aceh ini terus mengayuh kecuali pemandangan alam yang membuatnya berhenti. Puas memotret, pesepeda yang berkacamata biru ini terus mendaki bahu Oregon yang terjal.

Beberapa kilo meter di depan Reza, Musliadi tengah menghadapi trek ekstrim bersama teman-teman Satelit. Jalur bebatuan besar yang dalam istilah sepeda dikenal McAdam menghadangnya. Namun mantan anggota Medan Cyling Club ini berhasil sampai di Pos 2, selain menikmati keindahan alam yang tak ditemuinya ketika gowes di Sumatera Utara.

Panitia yang telah menanti, menempelkan stiker biru. Berangsur-angsur, setiap peserta disambut dengan tepuk tangan dari biker yang lebih dulu tiba. Melewati jam 12, peserta yang sudah lapar menyantap nasi kotak sembari menanti yang lain.

Angki terlihat menumpangi motor trail Tim Rescue. Pahanya diperban. Ada luka lecet di wajah anggota Satelit ini. Roda depan tunggangannya menabrak batu besar saat menuruni trek McAdam. Roda belakang menungging, membuat tubuh besarnya terpelanting. “Trek Takengon sangat kejam,” ceritanya kepada Aceh Tourism.

Sesungguhnya, tantangan dalam ABCC 2 tersaji selepas Pos 2. Peserta harus melalui trek tunggal jika ingin mendapatkan stiker merah di Pos 3. Mengumpulkan semua stiker merupakan peluang bagi peserta untuk mendapatkan doorprize utama selain hiburan.

“Peserta yang tak sanggup single track dibolehkan ikuti trek sebelumnya dan singgah di Ceruk Mandale untuk melihat situs manusia purba,” seorang official memberi komando.

Aceh Tourism melihat, kebanyakan biker memilih trek tunggal. Mereka menggotong sepeda ke titik dengan ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Reza Fahlevi salah satunya. Juga Nida yang tadinya sempat TTB (Tun Tun Bike) hingga 10 km. Hujan belum reda saat mereka turun satu persatu.

Trek tunggal-lah yang dinanti-nantikan Rokhmat dari KSGS. Selama turun sejauh 3 kilo meter, dia bersepeda di antara kebun kopi dan pemandangan Danau Laut Tawar di sisinya. Biker asal Medan ini pun sempat terjatuh tapi tidak terluka. Baginya, jatuh saat downhill itu satu kebanggaan. Sebaliknya, sebuah kelucuan bila gowes off road tak terjatuh.

Di kaki Oregon, peserta langsung mendapat stiker merah di Pos 3, di Desa Mandale, Kecamatan Kebayakan yang terletak di timur Laut Tawar. Selanjutnya peserta menyisir rawa-rawa di trek tepi danau. Disaksikan warga dan kuda-kuda yang merumput dekat persawahan.

Seluruh peserta akhirnya bertemu di Lapangan Samanggara milik Kodim 0106 Aceh Tengah pada jam 2 siang. Lumpur di pinggang kaos peserta tidak terlihat lagi seperti di saat start, tetapi seluruh kostum sudah berwarna cokelat, bahkan Aceh Tourism sulit mengenali Reza Fahlevi.

“Alhamdulillah treknya cukup bagus ya, menantang. Tapi para peserta disuguhi berbagai macam tantangan berupa tanjakan, turunan, dan single trek yang dibarengi pemandangan alam sangat indah. Tadi saya lewat single track juga,” ucapnya.

Sepeda diatur rapi di sisi lapangan. Hujan masih turun. Peserta merapat ke tenda. Gowes sudah usai. Tetapi, harapan mereka masih menyala selagi pengumuman hadiah di atas panggung belum berhenti. Di sana, Oregon kembali sepi. (Makmur Dimila)

baca juga > How to Get Gayo?



Makmur Dimila

Hobi jalan-jalan, suka nulis, dan ngopi arabika. Simak ceritanya di safariku.com