Usung Wisata Religi, Aceh Belum "Menjual" Potensinya | Aceh Tourism

Usung Wisata Religi, Aceh Belum “Menjual” Potensinya

BANDA ACEH – Persiapan visit Aceh 2013 dinilai belum maksimal. Pasalnya, selain masih banyak destinasi wisata belum dibenah, pemerintah juga minim melibatkan pihak swasta dalam pengembangan pariwisata.
“Persiapannya masih banyak lagi yang harus dilakukan, jadi pemerintah perlu bekerja keras lagi dengan membangun sinergitas dengan pihak swasta,” kata pengusaha biro perjalanan di Aceh, Dahlan Sulaiman, kepada Okezone di Banda Aceh, Kamis (13/12/2012).
Dia juga meminta pemerintah menggencarkan lagi promosi visit Aceh karena selama ini gaungnya terkesan hanya di tingkat lokal. Perhelatan besar yang sudah dipersiapkan tahun depan haruslah mampu menarik minat turis asing untuk ke Aceh.
“Jangan yang datang hanya orang-orang sekitar ini saja. Sekarang kan begitu, pemerintah buatevent besar terus ramai yang datang, dianggap sukses. Padahal, kalau kita cek yang datang itu hanya orang-orang kita semua, dari Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Pidie. Yang sukses itu mampu mendatangkan orang dari luar sana,” ujar Dahlan.
Menurutnya, masih banyak destinasi wisata yang harus dibenahi Pemerintah Aceh. Salah satunya Makam Abdurrauf As Sangkili atau Teungku Syiah Kuala di Dayah Raya, Banda Aceh. Makam ini hanya terpaut puluhan meter dari bibir pantai dan sempat diterjang tsunami pada 2004 ini, kini seperti tidak terurus.
Komplek ini terkesan gersang, hanya ada sebuah balai pengajian dan toilet yang jauh dari bersih. Tidak ada arena khusus bagi anak-anak dan tulisan perjalanan sejarah tentang sosok Syiah Kuala.
Padahal, Syiah Kuala yang hidup pada 1615-1693 M, merupakan ulama besar yang berpengaruh dalam penyebaran Islam di Asia Tenggara. Semasa hidup, Abdurrauf pernah dinobatkan sebagaimufti Kerajaan Aceh di bawah kepemimpinan Ratu Safiatuddin (1641-1675 M).
Selain masyarakat lokal, penganut tarekat Syattariah di Sumatera Utara rutin bertandang ke sini setiap tahun untuk menggelar ritual adat dan agama. Makam Syiah Kuala juga sering dikunjungi turis-turis dari Malaysia, Brunei Darussalam, dan negara-negara Arab.

“Seharusnya ini digarap maksimal. Ini sebuah destinasi wisata yang menjanjikan. Syiah Kuala ini ulama yang sangat disegani di luar, orang luar membaca cerita sejarahnya kemudian berkunjung ke sini. Sampai di sini tidak ada sesuatu yang di dapat kecuali hanya batu nisan,” kata Dahlan yang juga Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Aceh.

Meski nama Syiah Kuala lebih dikenal luas dibanding Wali Songo, Dahlan menilai, Makam Wali Songo di Pulau Jawa jauh lebih terurus dan menarik di mata wisatawan ketimbang Makam Syiah Kuala di Aceh.

“Makam Wali Songo dengan taman yang luas, ada masjidnya ada kolam yang ada ikan hiasnya. Kita tidak ada seperti itu,” sebutnya.

Pembenahan terhadap objek wisata yang berkaitan dengan sejarah Islam ini penting dilakukan mengingat wisata religi menjadi salah satu andalan Aceh menarik minat wisatawan.
Selama ini, objek wisata religi masih belum begitu diperhatikan.

Dahlan mencontohkan lagi Masjid Raya Baiturrahman, yang terletak di tengah Kota Banda Aceh. Banyak pengunjung sering memprotes kebersihan toiletnya. Selain itu, destinasi wisata di Pulau Sabang hingga sekarang dinilai belum digarap maksimal.

“Nol Kilometer, misalnya, orang dari jauh datang ke sini, tapi yang di dapat di sana hanya tugu dan hutan saja. Jalan ke sana jelek,” ujarnya.

Seharusnya, di lokasi itu harus ada pelayanan sertifikat bagi setiap orang yang sudah pernah singgah di sana, yang menandakan bahwa dia pernah ke titik nol Indonesia.

“Berada di Nol Kilometer itu sebuah kebanggaan bagi orang-orang dari luar, jadi harusnya orang yang sudah sampai ke sana mendapat sertifikat. Ini yang seharusnya dibuat,” sebutnya.

Selain itu, pantai-pantai di Aceh Besar, seperti Lhok Nga, Lampuuk, Ujong Bate, dan Pasir Putih sampai kini belum memiliki fasilitas memadai. Padahal, dari segi pemandangan sangat memanjakan mata.

“Pantai Lhok Nga, Lampuuk dari dulu-dulu seperti itu-itu saja, kenapa tidak dibenah yang begini-begini,” ujarnya.

Dahlan meminta pemerintah melibatkan swasta dalam mengembangkan pariwisata karena perannya sangat penting. “Ini wilayah kerja swasta, pengusaha, tapi orang swasta tidak dimasukkan. Seharusnya, swasta itu dilibatkan dalam pengambilan kebijakan, jangan hanya saat seminar aja diajak,” pungkasnya.

Berita disalin dari okezone.com