Wisata Halal Diyakini Tumbuh Pesat di Aceh | Aceh Tourism

Wisata Halal Diyakini Tumbuh Pesat di Aceh

Wisata Halal Diyakini Tumbuh Pesat di AcehKepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Kadisbudpar) Aceh, Reza Fahlevi, meyakini pengembangan potensi wisata halal dan Islami di Provinsi Aceh akan tumbuh pesat.

Bedasarkan riset yang diterbitkan traveltourismindonesia.com menyebutkan, bahwa wisata halal tumbuh 100 persen lebih cepat dibanding sektor wisata lainnya. Bahkan, katanya, pada 2020, pertumbuhan wisata halal diperkirakan tumbuh mencapai hingga $ 200 miliar di seluruh dunia.

“Sektor wisata halal diyakini bakal menjadi sebuah generator bisnis dalam jangka panjang,” kata Reza kepada Aceh Tourism beberapa waktu lalu di Banda Aceh.

Kadisbudpar Aceh ini, sangat yakin usaha pariwisata di Aceh akan terus berkembang sering perkembangan wisata halal di Asia dan Dunia. Untuk memajukan wisata halal di Aceh kata Reza, dia berharap seluruh pengusaha restoran, rumah makan, café, pengusaha produk makanan/minuman, perhotelan, dan tempat-tempat wisata serta usaha wisata lainnya yang belum mendapat sertifikat halal di Provinsi Aceh, agar segera mengurus sertifikasi itu di LPPOM MPU Aceh.

“Label halal tidak boleh dibuat sendiri oleh pihak pengusaha. Sertifikasi halal hanya sah jika dikeluarkan oleh LPPOM MPU,” kata Reza.

Dia juga menyatakan, dalam mengurus sertifikasi ini sama sekali tidak dikenakan biaya alias gratis. Label halal itu nantinya akan dicantumkan pada produk atau tempat usaha yang dikembangkan.

Selain sertifikasi halal, Kadisbudpar Aceh mengatakan,  pelayanan juga harus ditingkatkan, agar benar-benar menggambarkan wisata yang Islami sesuai Syariat Islam.

Untuk mewujubkan wisata halal di Provinsi ujung paling barat Indonesia ini diperlukan sosialisasi pemasaran wisata halal kepada pengusaha. Karena selama ini, kata Reza Fahlevi, banyak pengusaha restoran, pengusaha produk makanan/minuman, perhotelan, café, dan serta usaha wisata lainnya tidak begitu menghiraukan tentang sertifikat halal, karena menganggap bahwa setiap makanan di Aceh sudah halal sehingga tidak memerlukan sertifikat halal.

“Hal itu yang harus kita sosialisasikan kepada para pengusaha kepariwisataan di Aceh, sehingga semua pengusaha kepariwisataan bisa segera mengurus sertifikat halal tersebut,” kata Reza.

Menurut dia, meskipun Aceh merupakan mayoritas muslim 99 persen tapi lebel halal sangat penting mengingat wisatawan yang datang ke Aceh mayoritasnya adalah wisatawan muslim.

“Di Singapura aja ada 2 ribu restaurant yang sudah berlebel halal, padahal Singapura bukan mayoritas muslim penduduknya, oleh karena itu, kehalalal makanan dan produk sangat di utamakan dalam mewujubkan wisata halal di Aceh,” katanya lagi.

Untuk itu, kata Reza berharap, dari sosialisasi ini, upaya kita untuk mendeklarasikan wisata halal dan Islami di Aceh dapat segera berkumandang ke seluruh dunia. (Saniah LS)